MEDC Targetkan Produksi Migas Tumbuh 2026, Saham Siap Menguat Signifikan

Selasa, 07 April 2026 | 15:24:00 WIB
MEDC Targetkan Produksi Migas Tumbuh 2026, Saham Siap Menguat Signifikan

JAKARTA - PT Medco Energi Internasional Tbk. (MEDC) telah mengumumkan panduan kinerja operasionalnya untuk 2026. 

Sepanjang 2025, perusahaan migas milik keluarga Panigoro ini mencatat produksi minyak dan gas sebesar 156.000 barel setara minyak per hari (boepd).

Melansir keterbukaan informasi, MEDC menargetkan produksi migas sebesar 165.000–170.000 boepd pada 2026. Artinya, perseroan menargetkan pertumbuhan 5,8% hingga 9% dibandingkan capaian tahun lalu.

Target ini sejalan dengan upaya MEDC memperluas partisipasi hak (participating interest) di proyek Corridor PSC menjadi 70%, yang diprediksi akan menyumbang sekitar 30% dari total produksi dan menjadi tulang punggung portofolio migas perusahaan.

Selain itu, MEDC juga menargetkan penjualan listrik sebesar 4.550 giga watt hour (GWh) di 2026, naik dibanding realisasi 2025 sebesar 4.371 GWh. Peningkatan ini didukung oleh dimulainya proyek Ijen dan Sumbawa Tahap 2 serta tambahan kapasitas dari Batam IPP sekitar 95 megawatt (MW).

Alokasi Belanja Modal dan Efisiensi Operasional

Tahun lalu, MEDC merealisasikan belanja modal (capex) sebesar US$437 juta, terdiri dari US$402 juta untuk sektor migas dan US$35 juta untuk segmen listrik. 

Untuk 2026, perseroan mengalokasikan capex lebih rendah, yakni US$400–430 juta. Alokasi migas meningkat menjadi US$415 juta, sementara segmen listrik dipangkas menjadi US$15 juta.

Dari sisi efisiensi, MEDC menargetkan biaya produksi migas di bawah US$10 per boe, sedikit naik dari realisasi 2025 sebesar US$8,6 per boe. 

Target net debt to EBITDA 2026 ditetapkan kurang dari 2,5 kali dengan asumsi harga migas mid-cycle US$65 per boe, meningkat dari 2,0 kali pada 2025. Perseroan juga menargetkan return on equity (ROE) lebih dari 15%, dibandingkan realisasi 5% pada 2025.

Proyeksi EBITDA dan Kontribusi Corridor PSC

Analis BRI Dana Reksa Sekuritas, Andhika Audrey dan Naura Reyhan Muchlis, menilai target produksi MEDC lebih tinggi seiring meningkatnya hak partisipasi di Corridor PSC. 

Mereka memperkirakan tambahan sekitar US$145 juta EBITDA pada harga mid-cycle, termasuk US$90 juta dari kontrak gas tetap. Proyek ini diperkirakan akan sepenuhnya tercermin di kinerja 2026.

Selain itu, akuisisi 45% hak partisipasi di Sakakemang PSC memberikan potensi pertumbuhan tambahan, dengan produksi awal diperkirakan pada 2027, menambah sekitar 15.000–20.000 boepd bagi MEDC.

Proyeksi Laba Bersih dan Target Saham

Sejalan dengan peningkatan produksi migas, Audrey dan Naura memprediksi laba bersih MEDC 2026–2027 akan tumbuh 12%–37%. Pertumbuhan ini diharapkan menjadi bantalan terhadap asumsi harga minyak yang lebih konservatif di level US$65 per barel, dibandingkan level US$70 per barel pada 2024.

Berdasarkan ekspektasi pertumbuhan laba bersih, BRI Dana Reksa Sekuritas meningkatkan target harga saham MEDC dari Rp1.320 menjadi Rp2.000. Dalam perdagangan intraday Selasa, 7 April 2026 pukul 10.53 WIB, saham MEDC naik 2,19% ke Rp1.635, mencerminkan kenaikan 21,19% secara year to date (YtD).

Riset tersebut menekankan, “Target harga ini mencerminkan rerating struktural bisnis inti migas MEDC pasca peningkatan kepemilikan Corridor PSC, serta peningkatan visibilitas laba dari pemulihan kinerja AMMN. Risiko utama meliputi harga minyak yang lebih lemah dari ekspektasi serta keterlambatan normalisasi operasi AMMN.”

Kinerja Keuangan 2025

Melansir laporan keuangan 2025 diaudit, MEDC membukukan laba bersih sebesar US$100,82 juta atau sekitar Rp1,68 triliun (kurs Rp16.666 per dolar AS). Laba bersih ini turun 73% secara year on year dibandingkan US$368,86 juta pada 2024.

Analis CGS International, Bob Setiadi dan Rut Yesika, juga melakukan rerating MEDC dengan menaikkan target harga saham dari Rp1.380 ke Rp1.730. 

Sekuritas ini menyesuaikan proyeksi produksi migas 2025–2027 yang sedikit diturunkan 0,7%–1,4% dan menurunkan asumsi harga minyak Brent menjadi US$65–68 per barel untuk 2026–2027, dari US$68–70 sebelumnya.

Prospek Anak Usaha AMMN

Perubahan estimasi terbesar dilakukan pada anak usaha MEDC, PT Amman Mineral Internasional Tbk. (AMMN), produsen tembaga dan emas utama Indonesia. Seiring peningkatan produksi smelter sejak kuartal III/2025, sekuritas menaikkan proyeksi penjualan tembaga 2026–2027 sebesar 5%–10% dan emas 6%–13%.

Asumsi average selling price (ASP) tembaga 2026–2027 juga dinaikkan 12%–19%, dan ASP emas 34%–44%, seiring meningkatnya ketidakpastian ekonomi dan politik global. Secara keseluruhan, EBITDA MEDC 2026–2027 diturunkan 1%–2%, tetapi proyeksi laba bersih dinaikkan 37%–45%.

Sinergi Migas dan Listrik

MEDC menekankan sinergi antara segmen migas dan listrik. Peningkatan produksi migas akan memperkuat pendapatan dan laba bersih, sementara pertumbuhan penjualan listrik melalui proyek baru mendukung diversifikasi portofolio dan meningkatkan visibilitas pendapatan. 

Kombinasi ini diyakini memberikan stabilitas finansial dalam menghadapi fluktuasi harga minyak global.

Target produksi migas MEDC 2026 yang lebih tinggi, dukungan proyek Corridor PSC, serta diversifikasi di sektor listrik menjadi fondasi pertumbuhan perusahaan. 

Prediksi laba bersih yang meningkat, rerating saham, dan strategi efisiensi operasional menunjukkan MEDC siap menghadapi tantangan pasar migas global. Sinergi dengan anak usaha AMMN juga memperkuat basis bisnis dan meningkatkan prospek profitabilitas jangka menengah.

Terkini