JAKARTA - PT Intiland Development Tbk. (DILD) menargetkan marketing sales sebesar Rp1,95 triliun sepanjang 2026. Target tersebut meningkat sekitar 21,1 persen dibandingkan realisasi tahun lalu yang mencapai Rp1,61 triliun.
Direktur Utama Intiland Archied Noto Pradono mengatakan target tersebut disusun dengan mempertimbangkan kondisi pasar properti yang masih bergerak selektif. Meski demikian, perseroan menilai peluang pertumbuhan tetap terbuka terutama pada segmen perumahan dan kawasan industri.
“Tahun ini kami masih cenderung konservatif dengan mengandalkan proyek-proyek yang telah berjalan. Pengembangan baru tetap kami siapkan, tetapi pelaksanaannya akan sangat selektif, dengan mempertimbangkan kesiapan produk, momentum pasar, dan daya serap konsumen,” ujar Archied dalam keterangan resmi, Rabu (10/6/2026).
Menurutnya, strategi pemasaran tahun ini akan difokuskan pada optimalisasi proyek yang sudah berjalan, penjualan stok siap jual, penguatan segmen perumahan dan kawasan industri, serta penyusunan program pemasaran yang sesuai dengan kebutuhan pasar.
Perseroan juga menyiapkan sejumlah proyek baru guna mendukung pertumbuhan penjualan. Di antaranya pengembangan kawasan industri baru di Jawa Timur serta peluncuran Tower E apartemen SQ Res pada semester II/2026.
Archied menilai peluang pertumbuhan masih tersedia di tengah kondisi pasar yang menantang, khususnya pada segmen yang memiliki kebutuhan riil dan daya serap yang relatif kuat.
“Kami melihat peluang pertumbuhan masih terbuka, terutama pada segmen yang memiliki kebutuhan nyata dan daya serap pasar yang lebih kuat. Strategi pemasaran dan pengembangan kami jalankan secara lebih terukur agar dapat mendukung pencapaian target kinerja sekaligus menjaga fundamental perseroan tetap sehat,” katanya.
Di sisi lain, Intiland tetap menjadikan strategi penurunan utang sebagai prioritas utama pada tahun ini. Langkah tersebut dilakukan untuk menjaga efisiensi operasional, memperkuat struktur keuangan, serta membuka ruang bagi perusahaan dalam menangkap peluang pertumbuhan.
Sepanjang 2025, total utang perseroan berhasil ditekan 25 persen menjadi Rp3,08 triliun dari Rp4,11 triliun pada 2024. Pengurangan utang dilakukan melalui restrukturisasi pinjaman, percepatan pelunasan, penjualan aset noninti, hingga pelunasan Sukuk Ijarah Berkelanjutan I Intiland Development Tahap II dan Tahap III Tahun 2022 Seri B.
“Penurunan jumlah utang menjadi salah satu pencapaian penting. Langkah ini membantu kami mengendalikan beban keuangan, memperkuat struktur permodalan, dan memberikan ruang yang lebih baik bagi perseroan untuk menjaga stabilitas usaha sekaligus menangkap peluang pertumbuhan ke depan,” ujar Archied.
Pada kuartal I/2026, Intiland membukukan pendapatan usaha sebesar Rp619,8 miliar, turun 3,3 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Pendapatan tersebut berasal dari segmen pengembangan senilai Rp387,1 miliar dan pendapatan berulang sebesar Rp232,6 miliar.
Kontributor terbesar pendapatan berasal dari segmen recurring income sebesar Rp232,6 miliar atau 37,5 persen dari total pendapatan. Selanjutnya kawasan industri menyumbang Rp227,4 miliar atau 36,7 persen, perumahan Rp121,9 miliar atau 19,7 persen, serta high-rise residential Rp37,9 miliar atau 6,1 persen.
Menghadapi ketidakpastian pasar, perseroan akan terus memperkuat efisiensi operasional dan keuangan guna menjaga profitabilitas, memperkokoh struktur permodalan, serta melanjutkan transformasi bisnis secara terukur.