Danantara Dorong Proyek Tanggul Laut Pantura Jadi Fokus Strategis

Selasa, 16 Juni 2026 | 00:08:01 WIB
Ilustrasi Gedung DANATARA.

JAKARTA - Institusi Danantara Indonesia menawarkan megaproyek perlindungan pesisir Pantai Utara Jawa (Pantura) atau Giant Sea Wall selaku peluang investasi anyar bagi kalangan investor global. 

Proyek yang dikonsepkan demi membentengi sekitar 1.000 kilometer garis pantai itu diklaim tidak sekadar berfungsi sebagai infrastruktur ketahanan iklim, melainkan turut membuka keran investasi di sektor properti, infrastruktur, hingga energi terbarukan.

Menurut Managing Director of Investments, Danantara Development Management Fund Rachmat Kaimuddin, Indonesia tengah memacu realisasi investasi pada pelbagai sektor infrastruktur dasar, mulai dari jaringan irigasi, jalan perdesaan, air minum dan sanitasi, sampai energi bersih. Kendati demikian, di tengah tantangan perubahan iklim, proyek Giant Sea Wall bertindak sebagai salah satu fokus investasi strategis ditawarkan kepada investor.

"Salah satu proyek yang kami dorong adalah coastal protection atau Giant Sea Wall di Pantai Utara Jawa. Kami ingin melindungi sekitar 1.000 kilometer garis pantai dengan berbagai jenis infrastruktur," ujar Rachmat dalam Asia Infrastructure Forum (AIF) 2026 di Singapura, Selasa (16/6/2026).

Berdasarkan penjelasan Rachmat, proyek berskala besar tersebut tidak melulu berwujud pembangunan tanggul laut fisik semata, melainkan menyimpan potensi pengembangan investasi yang jauh lebih luas.

"Ke depan kami melihat ada potensi investasi melalui real estate investment maupun infrastructure investment. Ini bisa menjadi cara yang menarik bagi Indonesia untuk membuka peluang investasi kepada investor global," katanya.

Di samping program perlindungan wilayah pesisir, Danantara ikut menempatkan sektor energi sebagai prioritas utama investasi. Seiring laju pertumbuhan ekonomi, kebutuhan energi Indonesia diproyeksikan terus mendaki, namun dengan fokus tajam pada sumber energi yang lebih bersih serta menopang ketahanan energi nasional.

Kebutuhan modal yang diperlukan mencakup pembangunan pembangkit energi terbarukan, jaringan transmisi, sistem penyimpanan energi, hingga penyediaan infrastruktur pengisian daya kendaraan listrik.

Sementara itu, Deputi Pendanaan dan Investasi Badan Otorita Pengembangan dan Pengelolaan Pantai Utara Jawa (BOPPJ) Mohammad Irfan Saleh menjabarkan, kawasan Pantai Utara Jawa memegang peranan krusial bagi roda perekonomian nasional. Dirinya mengutarakan sekitar 40 persen produk domestik bruto (PDB) Indonesia bersumber dari wilayah pesisir utara Jawa.

Dari akumulasi total panjang proyek berkisar 1.000 kilometer, jajaran pemerintah telah memetakan program perlindungan pesisir sepanjang 575 kilometer.

Menurut Irfan, proyek ini tidak melulu bersandar pada ketersediaan infrastruktur fisik, tetapi mengombinasikan pendekatan berbasis alam (nature-based solutions), termasuk aksi rehabilitasi hutan mangrove.

"Kami memiliki program restorasi mangrove sekitar 120.000 hektare dan sedang mengembangkan skema pembiayaan karbon untuk mendukung kawasan ini," ujarnya.

Khusus untuk area Jakarta, proyek Giant Sea Wall bakal dikawinkan dengan agenda pengembangan pelabuhan, pulau reklamasi, jalan tol, serta sistem transportasi makro guna mengatrol konektivitas kawasan metropolitan.

Hal yang menarik, proyek ini ikut membuka celah pengembangan energi surya terapung. Irfan menguraikan kawasan retensi air di dalam sistem konstruksi Giant Sea Wall diestimasi mampu mencapai luas sekitar 12.000 hektare.

"Jika hanya 2% hingga 3% dari area tersebut digunakan untuk panel surya terapung, kapasitas listrik yang dihasilkan akan sangat besar," katanya.

Pemerintah saat ini membuka lebar pintu partisipasi bagi lembaga pembiayaan pembangunan multilateral (MDB) maupun para investor swasta untuk andil dalam proyek tersebut. Danantara dilaporkan siap menjembatani penyusunan skema investasi demi menarik minat lebih banyak penanam modal ke proyek bernilai jumbo ini.

Terkini