Pakar Ungkap Tren Skincare Korea 2026 Fokus Pada Kesehatan Kulit

Jumat, 19 Juni 2026 | 02:50:32 WIB
Ilustrasi Wanita Memakai Skincare.

JAKARTA - Tren kecantikan Korea atau K-beauty kembali menjadi pusat perhatian global. Setelah ketenaran bahan seperti PDRN dan exosome melonjak dalam beberapa tahun belakangan, saat ini hadir arus inovasi anyar yang diproyeksikan bakal kian menguasai sektor perawatan kulit.

Mengutip laporan Real Simple (18/6/2026), para ahli kesehatan kulit Korea mengamati adanya transisi signifikan dalam cara para konsumen menentukan produk skincare. Fokus utamanya bukan lagi sekadar mengikuti zat yang tengah viral, melainkan melirik produk yang ditopang riset sains dan berorientasi pada kesehatan kulit jangka panjang.

Lantas, corak K-beauty apa saja yang dipandang menarik untuk dicermati?

Salah satu tren terbesar saat ini ialah melonjaknya pemanfaatan konsep regeneratif dalam produk perawatan kulit harian.

Kelley Liu, seorang kreator konten K-beauty di balik akun Song of Skin, mengutarakan bahwa kian banyak konsumen yang memburu produk rumahan dengan inspirasi dari perawatan klinik kecantikan.

"Tren terbesar yang datang dari Korea saat ini adalah skincare yang terinspirasi dari klinik dermatologi dan prosedur estetika," kata Liu.

Bahan layaknya PDRN, exosome, growth factor, sampai formula turunan sel punca kini kian jamak dijumpai dalam bentuk serum, krim, hingga masker wajah.

Menurut penuturan dokter spesialis kulit bersertifikat sekaligus pendiri The Derm Institute, dr. Annie Chiu, publik juga mulai kian kritis dalam menakar kualitas formulasi bahan tersebut, termasuk asal-usul bahan dan sistem penghantarannya supaya dapat bekerja lebih optimal di kulit.

Bukan cuma kandungan aktif, metode zat tersebut meresap ke dalam kulit ikut menjadi pusat inovasi K-beauty. Salah satu teknologi yang tengah naik daun ialah spicule, yang banyak diaplikasikan dalam produk dengan istilah reedle shot.

Spicule bersumber dari spons laut dan mempunyai bentuk struktur mikroskopis yang menyerupai jarum kecil. Mekanisme ini memicu sensasi sedikit menusuk pada permukaan kulit.

Menurut Chiu, spicule dapat membantu menstimulasi sistem perbaikan alami kulit sekaligus mendongkrak daya penetrasi zat aktif. Ia menyebut teknologi ini kerap dikombinasikan dengan bahan seperti TXA, retinal, PDRN, dan glutathione untuk membantu proses stimulasi, penghantaran, serta perbaikan jaringan kulit.

Bila tahun 2025 sangat identik dengan ketenaran PDRN, Liu menilai periode tahun 2026 berpeluang besar menjadi panggung utama bagi EGF atau epidermal growth factor.

Menurut pandangannya, EGF makin ramai diulas lantaran kapabilitasnya dalam mendukung pemulihan kulit, menjaga kelenturan elastisitas, serta membantu proses regenerasi sel.

Di samping EGF, copper peptides juga diproyeksikan kian masif diaplikasikan dalam produk anti-penuaan generasi baru karena andilnya dalam memicu produksi kolagen dan pemulihan sel kulit.

Pergeseran menarik lainnya ialah beralihnya konsep anti-aging menuju skin longevity atau umur panjang kesehatan kulit.

"K-beauty bergerak dari anti-aging menuju skin longevity," kata Chiu.

Alih-alih cuma berkonsentrasi memangkas kerutan atau membuat kulit tampak lebih muda, metode pendekatan ini lebih menitikberatkan pada cara mengawal fungsi organ kulit tetap prima dalam jangka panjang.

Oleh sebab itu, istilah seperti energi sel, kapasitas perbaikan kulit, hingga kesehatan sel mulai makin sering digaungkan dalam jagat skincare Korea.

Di tengah masifnya kehadiran inovasi baru, satu fondasi K-beauty yang diperkirakan tidak bakal bergeser ialah metode pendekatan barrier-first skincare.

Menurut Chiu, produk kosmetik asal Korea sudah sejak lama mengedepankan aspek hidrasi, pemulihan, dan perlindungan lapisan pelindung kulit luar ketimbang pemakaian bahan aktif yang sifatnya terlalu agresif.

Oleh karena itu, bahan seperti cica, beta-glucan, ectoin, dan postbiotics diproyeksikan bakal semakin luas dimanfaatkan guna membantu menekan iritasi, memperkokoh skin barrier, sekaligus mengerek tingkat toleransi kulit terhadap zat aktif yang lebih keras.

Bukan sekadar inovasi, para konsumen kini juga kian jeli menaruh perhatian pada bukti ilmiah di balik sebuah produk kosmetik.

Liu mengutarakan kian banyak produsen skincare Korea yang sengaja menonjolkan hasil uji klinis resmi, jalinan kerja sama dengan dokter kulit, hingga jalur distribusi produk lewat apotek demi mendongkrak kepercayaan masyarakat.

Menurut estimasi para pakar, dinamika perkembangan ini memperlihatkan bahwasanya K-beauty tengah menapak masuk ke fase baru, di mana aspek inovasi tetap krusial, namun wajib diimbangi dengan hasil konkrit yang dapat divalidasi secara ilmiah.

Terkini