Sekolah Diminta Susun Kegiatan MPLS 2026 Sesuai dengan Usia Peserta

Senin, 22 Juni 2026 | 19:26:31 WIB
Direktur Jenderal Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus Kemendikdasmen Tatang Muttaqin.

JAKARTA - Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mewanti-wanti satuan pendidikan agar merancang rangkaian agenda Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Ramah 2026 yang selaras dengan tingkatan usia murid baru demi mempercepat proses adaptasi.

Direktur Jenderal (Dirjen) Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, Non Formal dan Informal (PAUD Dikdas PNFI) Kemendikdasmen Gogot Suharwoto menyebutkan bahwa MPLS berfungsi sebagai wadah bagi murid untuk mengenal lingkungan sekolah, guru, serta teman-teman baru mereka.

"Tentu, cara kita menyambut murid baru juga perlu disesuaikan dengan usia anak-anak. Dengan begitu mereka tidak akan merasa asing, lebih cepat untuk beradaptasi, dan lebih siap mengikuti proses pembelajaran,” kata Gogot dalam webinar bertajuk "Sosialisasi dan Diskusi MPLS Ramah Tahun 2026" di Jakarta, Senin.

Pada tingkatan PAUD, ia memberikan contoh bahwa agenda MPLS dapat dikemas melalui metode belajar seraya bermain serta mengenali area lingkungan baru di sekitar mereka.

Sementara untuk level SD, ia menjabarkan bahwa pengerjaan kegiatan MPLS dapat dipadukan dengan pembentukan karakter yang diawali dari pembiasaan hal-hal sederhana guna mendongkrak gairah belajar anak.

Beralih ke jenjang SMP, sekolah disarankan merumuskan agenda MPLS yang menyisipkan edukasi moral untuk memupuk rasa percaya diri kelompok remaja sekaligus memberikan pemahaman agar bijak dalam menggunakan internet.

“Tentu pada jenjang pendidikan SMA dan SMK, pihak sekolah perlu menyesuaikan rangkaian kegiatan MPLS dengan psikologi dan perkembangan anak-anak,” kata Gogot.

Gogot mendesak pihak pengelola sekolah untuk tidak sekadar menjadikan MPLS Ramah sebagai rutinitas seremonial belaka, mengingat fase ini merupakan batu loncatan awal yang krusial bagi perjalanan edukasi para siswa.

“Ingat, kesan yang mereka rasakan pada hari-hari pertama seringkali mempengaruhi semangat belajar, rasa percaya diri, bahkan kecintaan mereka terhadap sekolah dalam jangka waktu yang sangat panjang,” ujarnya.

Pada kesempatan yang sama, Direktur Jenderal (Dirjen) Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus Kemendikdasmen Tatang Muttaqin turut menambahkan bahwa MPLS Ramah 2026 wajib diwujudkan sebagai momen yang suportif dan ceria, bukan memicu tekanan fisik maupun mental anak.

Ia menggarisbawahi bahwa sudah waktunya seluruh aktivitas orientasi sekolah steril dari segala rupa tindakan perpeloncoan korps maupun aksi perundungan kelompok.

“Mereka membutuhkan guru yang ramah, kakak kelas yang bersahabat, dan lingkungan yang membuat mereka merasa aman,” ucap Tatang.

Terkini