Premi Asuransi April 2026 Turun Ini Penjelasan Great Eastern

Senin, 22 Juni 2026 | 20:45:01 WIB
PT Great Eastern General Insurance Indonesia (GEGI).

JAKARTA - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) merilis data bahwa perolehan premi industri asuransi umum serta reasuransi mengalami penurunan sebesar 4,32 persen secara tahunan (YoY) menjadi Rp53,43 triliun pada April 2026.

PT Great Eastern General Insurance Indonesia (GEGI) berpandangan jika penyusutan tersebut dipicu oleh perpaduan faktor makroekonomi serta pergeseran dinamika pada sektor riil.

Direktur Marketing GEGI, Linggawati Tok mengatakan perlambatan aktivitas di sektor utama seperti properti, konstruksi, dan manufaktur berdampak langsung pada penurunan kebutuhan perlindungan asuransi.

“Selain itu, penurunan investasi serta proyek baru juga berdampak pada lini seperti property, engineering, dan marine cargo, ditambah dengan pengaruh fluktuasi nilai tukar,” katanya kepada Bisnis, dikutip pada Senin (22/6/2026).

Linggawati meneruskan, kondisi volatilitas nilai tukar mata uang Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat (AS) ikut memengaruhi perolehan nilai premi, utamanya bagi sektor bisnis yang memiliki eksposur mata uang asing.

Kendati tengah berada di situasi penuh tantangan tersebut, ia mengutarakan bahwa perusahaan GEGI tetap sukses mencetak performa kinerja yang positif.

Hal ini dibuktikan lewat raihan angka premi perusahaan yang mampu tumbuh sebesar 17 persen secara tahunan per Mei 2026, yang didorong oleh kontribusi produk asuransi rekayasa, kecelakaan diri, perjalanan, logistik laut, hingga liabilitas.

“Pertumbuhan tersebut ditopang oleh strategi selektif dengan fokus pada lini bisnis yang lebih menguntungkan [profitable] serta penguatan distribusi melalui broker dan agen juga mitra kemitraan strategis lainnya,” tegasnya.

Menurut pandangan dirinya, langkah taktis tersebut mencerminkan adanya pergeseran strategi industri yang kini jauh lebih menitikberatkan keharmonisan antara laju pertumbuhan premi dengan profitabilitas, bukan sekadar mengejar pembesaran volume pasar.

“Ke depan, GEGI memproyeksikan hingga Semester I/2026, tren premi industri asuransi umum dan reasuransi akan cenderung stabil [flat] atau sedikit terkontraksi, khususnya pada lini property dan engineering yang masih sensitif terhadap siklus ekonomi,” beber Linggawati.

Adapun, ia mengimbuhkan bahwa jajaran hambatan yang wajib dicermati oleh pelaku industri mencakup pelambatan ekspansi ekonomi nasional, kompetisi penentuan tarif yang kian ketat, potensi lonjakan rasio klaim, hingga gejolak global serta tekanan laju inflasi.

Guna mengantisipasi persoalan itu, pihak GEGI menerapkan pola pengelolaan risiko melalui metode underwriting yang jauh lebih disiplin serta memperkokoh manajemen risiko perusahaan.

Walau demikian, GEGI mengukur celah ekspansi bisnis masih terbuka lebar, di mana faktor pendorong utamanya adalah rasio penetrasi produk asuransi di Indonesia yang dinilai relatif masih cukup rendah, diiringi penciptaan produk inovatif baru.

“Digitalisasi untuk memperluas akses dan meningkatkan efisiensi operasional, serta penguatan hubungan dengan broker global dan regional. Selain itu, tren peningkatan kesadaran terhadap risiko, baik di kalangan korporasi maupun individu, turut menjadi katalis positif bagi industri,” pungkasnya.

Terkini