Harga BBM Naik Permintaan Motor Listrik Alva Alami Lonjakan Nyata

Selasa, 23 Juni 2026 | 21:01:01 WIB
Motor Listrik Alva.

JAKARTA - Pergeseran kondisi perekonomian, khususnya lonjakan nilai jual bahan bakar minyak (BBM) varian non-subsidi, secara nyata memantik animo warga untuk beralih pada kendaraan ramah lingkungan, khususnya roda dua. Gejala pasar ini ikut dirasakan produsen lokal, Alva, yang mengantongi lonjakan pemesanan cukup masif sejak awal periode ini.

Putu Swaditya Yudha selaku Chief Marketing Officer Alva memaparkan, ketika menapak fase kuartal 2 tahun ini, antusiasme publik pada sepeda motor listrik konsisten memperlihatkan tren positif. 

Ia menyebut lonjakan harga BBM memaksa para pengendara bertindak lebih jeli dalam mengalkulasi pengeluaran operasional harian. Hal tersebut menuntun mereka melirik motor listrik sebagai opsi yang lebih ramah dompet.

Kendati demikian, Adit, panggilan akrab Putu Swaditya Yudha, membenarkan bahwa sejumlah isu elementer seputar operasional motor listrik masih kerap dilemparkan oleh calon konsumen. 

Pertanyaan mendasar semacam titik lokasi stasiun pengisian daya, faktor keamanan saat cuaca hujan, jaminan proteksi baterai, kapasitas jarak tempuh, hingga ketangguhan saat berboncengan di medan menanjak tetap menjadi ulasan utama.

"Sebenarnya, pertanyaan-pertanyaan dari calon konsumen itu masih seputar itu-itu saja, seperti di mana tempat mengisi daya, apakah aman jika terkena hujan, bagaimana skema garansi baterainya, berapa jarak tempuhnya, dan apakah kuat untuk berboncengan naik tanjakan," jelas Adit.

Namun, ia mengimbuhkan bahwa saat ini mulai timbul kesadaran baru di tengah masyarakat. "Kini, ada satu pertanyaan atau pandangan baru yang sering terdengar, yaitu terkait dampak kenaikan harga BBM terhadap penggunaan motor listrik. Mereka penasaran apakah motor listrik memang lebih hemat secara operasional," lanjutnya.

Secara mengejutkan, Alva menorehkan grafik penjualan yang menawan pada tahun 2025, dengan persentase pertumbuhan menyentuh angka 52,9 persen dibanding periode sebelumnya. Pencapaian ini terbilang luar biasa lantaran pasar roda dua berbasis baterai pada tahun tersebut belum disokong oleh stimulus subsidi pemerintah. Estimasi untuk pertengahan tahun 2026 bahkan diproyeksikan sanggup melewati rekor tahun lalu.

"Kami mencatat peningkatan penjualan antara tahun 2024 dan 2025 mencapai lebih dari 52 persen, dengan angka penjualan yang naik dari sekitar 3.000 unit menjadi 4.500 unit," ungkap Adit.

Ia mengutarakan bahwa poin penting yang dapat dipetik yaitu konsistensi dalam melakukan edukasi pasar, penyediaan produk yang selaras dengan keperluan warga, serta dukungan jaringan servis purnajual yang solid menjadi modal utama kesuksesan.

"Permintaan pasar memang sudah ada, bahkan di tahun 2025 kami bisa menjual lebih banyak tanpa adanya insentif," tegas Adit.

Kenaikan biaya perawatan kendaraan bermesin konvensional mendorong masyarakat mengambil langkah migrasi dan membuktikan langsung efisiensi serta ketahanan motor listrik. Kondisi tersebut memicu rantai rekomendasi yang meluas secara natural dari mulut ke mulut antar-pengguna.

"Kami melihat bahwa konsumen yang sudah menggunakan motor listrik kami akhirnya merasakan sendiri manfaatnya. Mereka kemudian secara sukarela merekomendasikannya kepada orang-orang terdekat, menunjukkan bahwa ada pilihan lain yang lebih menguntungkan untuk kendaraan utama sehari-hari," tutur Adit.

Dalam upaya memperkukuh fondasi ekosistem kendaraan listrik, pihak Alva terus masif melebarkan jangkauan operasionalnya. 

Pada penutupan tahun 2025, korporasi ini telah mendirikan 180 titik pengisian daya (konektor) yang tersebar di 150 area lokasi. Memasuki fase enam bulan pertama tahun 2026, angka infrastruktur itu melesat cepat hingga menyentuh 355 konektor di 170 lokasi. 

Manajemen Alva bahkan mematok target pemasangan satu gerai konektor anyar per hari sepanjang tahun 2026.

Jika ditinjau dari sebaran geografis, fasilitas stasiun daya Alva diklaim menjadi yang terluas untuk segmen kendaraan roda dua di Indonesia. Jalur-jalur penghubung utama di wilayah Jawa dan Bali kini sudah terintegrasi secara utuh, mencakup rute Jakarta-Bandung via jalur Puncak, koridor lingkar Jawa Tengah (Semarang-Salatiga-Solo-Yogyakarta), hingga kawasan Surabaya-Gresik-Malang. Penetrasi pasar juga mulai merambah pulau lain seperti Medan, Palembang, Kalimantan Timur, dan segera menjangkau kota Makassar.

"Kami memprediksi tren permintaan di tahun 2026 ini akan semakin meningkat, bahkan mungkin akan melampaui pencapaian di tahun 2025," tutup Adit.

Terkini