Mengenali Ciri Pertemanan Toksik Sesama Ibu Menurut Para Psikolog

Senin, 06 Juli 2026 | 06:14:01 WIB
Ilustrasi Sedang Mengobrol Dengan Teman.

JAKARTA - Membina relasi pertemanan di antara sesama ibu kerap kali dipandang sebagai sebuah kewajiban. Hubungan semacam ini idealnya dapat berfungsi sebagai wadah untuk saling berbagi dan menguatkan.

Akan tetapi, realitas di lapangan menunjukkan bahwa tidak semua ikatan pertemanan mampu memberikan dampak yang positif. Pada Januari 2026, figur publik Ashley Tisdale sempat memicu diskusi hangat setelah menuangkan opininya lewat esai di The Cut mengenai keputusannya menyudahi relasi dalam kelompok pertemanan ibu yang tidak sehat.

Lingkungan sosial yang semestinya menjadi support system tersebut justru terbukti menguras energi psikologis. Direktur klinis nasional untuk Integrated Behavioral Health di LifeStance Health, Kristin MacGregor, PhD, menegaskan bahwa dukungan dari sekitar wajibnya memberikan perlindungan bagi kondisi fisik maupun psikis.

"Pertemanan dimaksudkan untuk membuatmu merasa aman, terjamin, dan percaya diri," tutur MacGregor, melansir Parents, Minggu (5/7/2026).

"Jika sebuah pertemanan menguras tenagamu, sangat wajar untuk meninjau kembali apa yang kamu cari dari seorang teman sesama ibu," ucap MacGregor.

Di sisi lain, psikolog klinis Gilly Kahn, PhD, mengutarakan bahwa mengambil jarak dari kelompok sesama ibu memang bukan perkara mudah, terlebih jika anak-anak mereka juga saling berteman. Namun, ketika ikatan tersebut dirasa sudah sangat melelahkan, evaluasi mendalam mutlak diperlukan.

Ciri pertama dari hubungan yang tidak sehat adalah tidak adanya keseimbangan. Sebuah jalinan pertemanan yang bermutu tinggi senantiasa menuntut adanya aksi timbal balik yang seimbang, di mana masing-masing pihak merasakan keadilan dalam hal memberi maupun menerima.

"Dalam pertemanan antarsama ibu, hubungan yang tidak seimbang mungkin berupa hubungan di mana satu ibu terus-menerus melakukan kebaikan atau hadir untuk ibu yang lain, tetapi ibu yang lain kurang memberi dan kurang dapat diandalkan," tutur Kahn.

Ciri kedua ditandai dengan hadirnya sosok teman yang menuntut secara berlebihan. Kahn sangat memahami problem ini berdasarkan pengalaman pribadinya yang pernah menjauhi seorang rekan karena memperlakukannya layaknya seorang terapis pribadi, bukan seorang sahabat.

"Keibuan itu membuat stres, dan para ibu bisa sangat saling mendukung satu sama lain, yang membantu pertemanan," kata Kahn.

Namun, adakalanya batasan emosional tersebut dilanggar karena rasa frustrasi yang dimiliki salah satu pihak merembes masuk ke dalam ruang pertemanan.

"Hal tersebut membuat pertemanan terlalu banyak tentang mengurus dan memadamkan api, dan tidak cukup tentang bersenang-senang bersama," terang Kahn.

Ciri ketiga dapat dirasakan ketika visi kepribadian sudah tidak lagi seirama. Terkadang, obrolan yang melulu berputar pada topik pola asuh anak justru perlahan mengaburkan esensi identitas asli seorang perempuan sebagai individu seutuhnya.

Kahn menyebutkan bahwa mengakhiri sebuah jalinan pertemanan demi mengalokasikan waktu ke lingkungan sosial yang lain adalah hal yang sepenuhnya wajar untuk dilakukan.

"Terutama jika pertemanan tersebut terasa lebih nyaman dan jujur pada dirimu sendiri sebagai manusia, bukan hanya sebagai seorang ibu," tutur Kahn.

Ciri keempat adalah ketika hubungan tersebut mulai memberikan dampak buruk bagi stabilitas kesehatan mental. Mengenai hal ini, MacGregor memberikan dua poin pertanyaan krusial sebagai alat ukur.

Pertama, apakah friksi sosial ini mendatangkan rasa sedih atau amarah dalam jangka panjang? Kedua, apakah konflik tersebut sampai mengganggu konsentrasi kerja harian?

"Jika kamu menjawab ya untuk salah satu atau kedua pertanyaan itu, kemungkinan besar kesehatan mentalmu terpengaruh secara negatif sehingga ada sesuatu yang perlu diubah," jelas MacGregor.

Sebagai solusi, opsi pertama untuk menyudahi hubungan ini adalah dengan membiarkan interaksi tersebut meredup secara alami. Jika rekan tersebut tidak memiliki kedekatan khusus dengan keluarga, taktik membatasi komunikasi secara perlahan bisa menjadi opsi terbaik.

"Jika kamu biasanya menjadi orang yang menjangkau dan membuat rencana, mungkin mulailah mengurangi hal itu," saran Kahn.

"Berikan lebih sedikit ke dalam hubungan tersebut, tetapi bersikaplah sopan, dengan asumsi teman tersebut bukan orang yang membuatmu kewalahan dengan pesan teks atau panggilan telepon," sambung Kahn.

Langkah ini bisa diwujudkan dengan mulai belajar menolak rupa-rupa ajakan yang biasanya disanggupi, tanpa perlu melontarkan pernyataan perpisahan yang dramatis.

Opsi kedua adalah mengambil langkah komunikasi secara langsung dan jujur jika rekan tersebut dinilai terlalu menuntut, dengan mengedepankan sudut pandang personal tanpa intensi menyudutkan orang lain.

Kamu bisa mengatakan sesuatu seperti, "Senang rasanya saya bisa ada untukmu, tapi akhir-akhir ini saya sedang menghadapi masalah saya sendiri. Saya sangat kewalahan dengan pekerjaan dan tanggung jawab keluarga serta rumah, jadi saya butuh sedikit ruang saat ini".

Terkini