Bahaya Membiarkan Gigi Susu Rusak dan Copot Sendiri

Minggu, 19 Juli 2026 | 21:14:32 WIB
Ilustrasi Perawatan Gigi Susu.

JAKARTA - Masih banyak orangtua beranggapan bahwa gigi susu tidak memerlukan perawatan karena nantinya akan terlepas dengan sendirinya.

Padahal, pola pikir tersebut dapat memicu risiko karies atau gigi berlubang yang mengganggu kesehatan serta perkembangan anak.

Dokter Gigi Spesialis Kedokteran Gigi Anak RS Pondok Indah Puri Indah, drg. Alana Aluditasari, Sp.K.G.A, menyatakan gigi susu memiliki peran krusial.

Hal tersebut dipaparkan oleh Alana lewat siaran pers resmi yang dipublikasikan pada Minggu (16/7/2026).

Menurutnya, karies berupa kerusakan enamel timbul akibat hilangnya mineral jaringan gigi karena zat asam dari fermentasi sisa makanan manis oleh bakteri.

Alana menjabarkan gigi susu bukan sekadar komponen sementara sehingga kerusakannya tidak boleh dibiarkan begitu saja sampai terlepas.

"Tanpa perawatan yang tepat, gigi anak rentan mengalami karies gigi," ujar dr. Alana.

Gigi susu berfungsi menunjang anak mengunyah, berbicara, sekaligus memandu arah tumbuh gigi permanen agar tidak tertimbun di dalam gusi.

Kerusakan pada gigi susu secara langsung dapat mengacaukan struktur susunan gigi permanen anak di masa depan.

Alana mengungkapkan tanda karies tidak melulu diawali rasa nyeri, melainkan munculnya bercak putih yang kelak berubah kecokelatan hingga menghitam.

Bila semakin parah, anak akan merasa linu saat mengonsumsi asupan manis, panas, dingin, bau mulut, hingga nyeri saat mengunyah.

Orangtua diimbau segera membawa anak ke dokter spesialis apabila gejala tersebut tampak agar kerusakan tidak menjalar lebih parah.

Karies yang diabaikan dapat mengikis lapisan terdalam gigi dan memicu nyeri hebat yang melumpuhkan nafsu makan anak.

Imbasnya, pasokan gizi anak menjadi tidak seimbang dan berpotensi menghambat proses tumbuh kembang secara keseluruhan.

Rasa sakit juga memicu anak kurang tidur, rewel, hilang fokus belajar, hingga enggan beraktivitas bersama temannya.

Bahkan pada tingkat kronis, infeksi bakteri gigi berlubang bisa merembet ke area gusi, rahang, hingga organ vital tubuh lainnya.

Dokter akan menyesuaikan metode penyembuhan berdasarkan umur, kondisi fisik, serta skala kerusakan gigi yang dialami anak.

Opsi penanganan meliputi terapi fluoride untuk enamel, penambalan, pemasangan mahkota gigi, hingga pencabutan jika sudah rusak total.

Guna pencegahan dini, Alana menyarankan anak rutin menggosok gigi dua kali sehari dengan pasta gigi berfluoride dan membatasi asupan manis.

Orangtua juga wajib melatih anak minum air putih pascamakan dan tidak menanti keluhan sakit gigi muncul untuk berobat.

"Kontrol rutin ke dokter gigi perlu dilakukan sejak anak memiliki gigi pertamanya atau ketika usianya menginjak satu tahun. Pemeriksaan rutin ini bertujuan untuk memantau kesehatan gigi, mencegah kerusakan, dan memastikan pertumbuhan gigi sesuai dengan usianya," kata dr. Alana.

Melalui agenda pemeriksaan periodik setiap enam bulan, kendala gigi anak dapat terdeteksi awal guna meminimalkan risiko komplikasi karies.

Terkini