Bahaya Tren Pemakaian Cairan Infus NaCl untuk Obati Jerawat

Minggu, 19 Juli 2026 | 21:16:02 WIB
Ilustrasi Jerawat.

JAKARTA - Tren penggunaan NaCl atau cairan infus untuk mengatasi masalah jerawat belakangan ini sedang ramai diperbincangkan di media sosial.

Banyak pengguna mengklaim wajah menjadi lebih bersih dan jerawat membaik hanya dengan mengoleskan larutan tersebut secara rutin setiap hari.

Namun, dokter spesialis kulit mengingatkan masyarakat agar tidak terburu-buru mengikuti metode yang sedang viral tersebut di internet.

Hingga saat ini, belum ada bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa normal saline dapat mengobati masalah jerawat pada kulit wajah.

Sebaliknya, terlalu lama mengandalkan metode yang belum terbukti justru berisiko membuat jerawat semakin parah hingga meninggalkan bekas luka yang menetap.

Dokter Spesialis Dermatologi, Venereologi, dan Estetika Rumah Sakit Abdi Waluyo, dr. Arini Astasari Widodo, Sp.KK, memberikan penjelasannya terkait fenomena ini.

Menurutnya, risiko terbesar bukan terletak pada cairannya, melainkan pada keterlambatan pasien dalam mendapatkan pengobatan medis yang terbukti efektif.

Dalam wawancara pada Kamis (16/7/2026), Arini menjelaskan penggunaan normal saline steril 0,9 persen relatif aman karena merupakan larutan isotonik yang menyerupai cairan tubuh.

Larutan ini memang kerap digunakan dalam dunia medis untuk membersihkan luka terbuka atau membilas area kulit setelah tindakan dermatologi.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa fungsi pembersihan tersebut sangat berbeda dengan mekanisme untuk mengobati peradangan jerawat.

"Jika menggunakan normal saline steril, risikonya relatif kecil, tetapi penggunaan rutin tetap tidak memberikan manfaat yang terbukti untuk jerawat," ujar dr. Arini.

Bahaya justru muncul ketika seseorang terus menunda terapi medis yang sesuai dengan kondisi jerawatnya demi mencoba tren tersebut.

"Risiko terbesar adalah menunda terapi yang memang terbukti efektif, sehingga jerawat menjadi semakin berat dan akhirnya meninggalkan bekas luka permanen (acne scar) yang jauh lebih sulit diatasi," kata Arini.

Arini juga mengimbau masyarakat agar tidak menyamakan produk normal saline steril toko obat dengan air garam yang dibuat sendiri di rumah.

Ia menjelaskan bahwa air garam racikan sendiri memiliki konsentrasi yang tidak pasti dan kebersihannya tidak terjamin untuk kulit wajah.

"Sebaliknya, bila menggunakan air garam dengan konsentrasi tinggi atau racikan sendiri, risikonya dapat meningkat, antara lain kulit menjadi lebih kering, iritasi dan rasa perih, gangguan skin barrier sehingga kulit lebih sensitif, memperberat eksim, rosacea, atau dermatitis pada individu yang rentan, serta meningkatkan risiko kontaminasi bila larutan tidak steril," jelasnya.

Oleh karena itu, Arini mengingatkan agar masyarakat tidak menganggap semua cairan garam memiliki khasiat yang sama hanya karena kesamaan kandungan natrium klorida.

Lebih lanjut, ia menerangkan bahwa jerawat merupakan penyakit kulit yang dipengaruhi banyak faktor internal dan eksternal secara kompleks.

Faktor tersebut mulai dari produksi minyak berlebih, penyumbatan pori, pertumbuhan bakteri Cutibacterium acnes, hingga proses peradangan akut.

Normal saline sama sekali tidak bekerja pada mekanisme-mekanisme tersebut sehingga bukan merupakan obat untuk meredakan jerawat.

Jika ada orang yang merasa jerawatnya membaik setelah memakai saline, kemungkinan hal itu terjadi karena fase alami kesembuhan kulit atau efek produk lain.

"Belum ada bukti ilmiah yang mendukung klaim tersebut," ujar dr. Arini.

Daripada mengikuti tren tanpa dasar kuat, Arini menyarankan masyarakat menggunakan terapi yang direkomendasikan dalam pedoman kedokteran kulit.

Beberapa opsi terapi medis yang umum digunakan meliputi derivat vitamin A untuk sumbatan pori, asam salisilat, hingga antibiotik sesuai indikasi dokter.

Selain obat jerawat, perawatan dasar harian seperti sabun pembersih wajah yang lembut, pelembap nonkomedogenik, dan tabir surya tetap wajib diaplikasikan.

"Tidak semua yang viral berarti efektif atau aman. Kulit setiap orang berbeda, sehingga terapi sebaiknya disesuaikan dengan penyebab dan tingkat keparahan jerawat. Dengan diagnosis yang tepat, hasil yang diperoleh biasanya jauh lebih baik sekaligus meminimalkan risiko bekas jerawat di kemudian hari," tutur dr. Arini.

Terkini