JAKARTA - Parkour selama ini kerap diidentikkan sebagai olahraga ekstrem bagi kalangan muda. Kendati demikian, olahraga ini justru makin digemari oleh para lansia di Singapura.
Dikenal dengan sebutan geriatric parkour, fenomena ini menjadi pilihan kegiatan kebugaran bagi warga senior Singapura untuk melatih kelincahan dan keseimbangan demi menekan risiko terjatuh.
Singapura sendiri diproyeksikan menjadi super-aged society pada tahun ini, mengacu pada data Edition. Predikat tersebut menandakan lebih dari 21 persen dari total populasi telah berumur 65 tahun ke atas.
Kementerian Kesehatan Singapura turut memprediksi bahwa satu dari empat warga negaranya akan memasuki usia 65 tahun ke atas pada 2030 mendatang.
Pertumbuhan populasi lansia yang pesat mendorong hadirnya beranekaragam layanan serta aktivitas khusus, mulai dari program sosial hingga kelas olahraga.
Salah satu yang hadir adalah geriatric parkour yang diampu oleh instruktur Tan Shie Boon sejak 2017.
Tan tidak mengajarkan gerakan ekstrem, melainkan merancang rangkaian latihan yang berfokus pada fungsi motorik harian lansia, seperti merangkak, melompati bangku, memanjat tembok rendah, hingga berguling.
"Tujuan utama parkour adalah meningkatkan kelincahan sehingga Anda bisa bereaksi lebih cepat," ujarnya.
Menurut Tan, respons tubuh yang cepat merupakan salah satu aspek yang kian menurun seiring bertambahnya usia. Banyak lansia menderita cedera serius saat terjatuh akibat melemahnya koordinasi tubuh dan refleks.
Manfaat dari latihan ini dirasakan langsung oleh Betty Boon, salah seorang peserta berusia 69 tahun. Ia mengaku parkour membuatnya makin mandiri dan percaya diri.
"Saat tubuh lemah, Anda akan bergantung pada orang lain. Saya merasa lebih hidup, ini seperti dunia yang benar-benar baru," ujarnya.
Secara konsep, parkour merupakan aktivitas fisik yang mengandalkan gerakan melompat, berlari, serta melintasi beragam rintangan.
Mengutip laporan ilmiah The Effect of Parkour Concept on Functional Mobility in Older Adults (2025), olahraga ini menekankan kesadaran spasial dan kontrol tubuh sehingga ampuh mendorong kelincahan, daya tahan, serta keseimbangan.
Konsep dasar tersebut kemudian disesuaikan menjadi geriatric parkour, mengingat riset membuktikan bahwa gangguan keseimbangan merupakan faktor utama penyebab lansia terjatuh.
Latihan ini diterapkan secara bertahap sesuai kondisi fisik tiap peserta. Laporan penelitian mengindikasikan bahwa metode modifikasi ini berpotensi menjaga performa fisik lansia.
Studi terhadap lansia selama 10 minggu memperlihatkan adanya peningkatan mobilitas fungsional dan kemampuan menjangkau (functional reach), meski beberapa hasil secara statistik belum signifikan.
Para peneliti menyimpulkan bahwa geriatric parkour menjadi langkah pencegahan yang menjanjikan, walaupun penelitian lanjutan masih diperlukan untuk menguji efektivitas jangka panjangnya.
Pentingnya program latihan pencegahan jatuh turut didukung lembaga kesehatan dunia. Data Centers for Disease Control and Prevention (CDC) Amerika Serikat menunjukkan lebih dari satu dari empat lansia berusia 65 tahun ke atas mengalami jatuh setiap tahunnya.
Peristiwa jatuh menjadi penyebab utama cedera fatal maupun nonfatal pada lansia, yang dipicu oleh penurunan fleksibilitas, kekuatan otot, koordinasi tubuh, serta keseimbangan.
Oleh sebab itu, geriatric parkour tidak ditujukan untuk aksi berbahaya, melainkan melatih ketangkasan serta keseimbangan tubuh lansia agar tetap aktif dan aman saat beraktivitas sehari-hari.