Mendag Budi Sebut Program MBG Jaga Stabilitas Harga Telur Ayam Pasar

Kamis, 23 Juli 2026 | 00:04:04 WIB
Menteri Perdagangan Budi Santoso.

JAKARTA - Menteri Perdagangan Budi Santoso menerangkan bahwa pergerakan harga telur ayam sewaktu pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) berlangsung relatif lebih stabil dan berada dalam batas wajar.

Budi memaparkan, tatkala program MBG tidak berjalan, patokan harga telur sempat merosot ke level Rp26.000, padahal acuan Harga Eceran Tertinggi (HET) telur ayam dipatok sebesar Rp30.000.

“Harga Eceran Tertinggi itu sebenarnya harga pertemuan antara produsen dan pembeli dengan konsumen. Kalau harga terlalu rendah, nanti produsennya rugi bisa tutup ya dan tidak produksi,” katanya di Yogyakarta, Kamis (23/7/2026).

Kondisi tersebut berisiko membuat para peternak gulung tikar apabila patokan harga tidak kunjung naik, yang pada akhirnya memicu timbulnya kelangkaan pasokan telur di pasaran.

“Kalau tidak produksi, telur enggak ada justru naik. Tetapi ketika ketemu atau sekarang harganya mendekati, sekarang kan Rp 28.000 nih, sudah hampir Rp 28.000, jadi sudah bagus,” jelasnya.

Dengan tingkat harga Rp28.000 per kilogram, produsen tetap mempunyai margin untuk berproduksi, sementara konsumen tidak terbebani harga yang terlampau mahal.

“Kami mementingkan produsen, kami juga memperhatikan konsumen. Jadi tidak ada yang saling dirugikan. Ya, jadi makanya harga kami buat dengan HET itu,” katanya.

Ia mengutarakan bahwa berjalannya kembali program MBG menjadi salah satu penopang utama yang sanggup menyerap hasil produksi telur ayam lokal.

“Jadi sebenarnya MBG itu bisa menjadi penyeimbang antara permintaan dan penawaran,” ucap Budi.

“Ya, jadi semua ekosistemnya justru menjadi berjalan lebih bagus. Penyerapannya sesuai,” imbuhnya.

Sebelum hadirnya program MBG, Budi menilai harga telur ayam kerap mengalami fluktuasi tajam serta tidak memiliki jaminan kepastian harga di tingkat pengecer.

Adanya MBG terbukti mampu menghadirkan keseimbangan antara laju permintaan dan ketersediaan barang di pasar.

“Nah, ketika ada MBG ini justru stabil. Jadi permintaan terus ada, produksinya ini kan jadi konsisten dengan permintaan yang ada,” kata dia.

Lebih jauh, Budi menegaskan bahwa volume produksi telur dalam negeri kian meningkat, di mana keberadaan MBG berhasil menggerakkan seluruh lini rantai ekosistem ekonomi.

“Tidak hanya peternakan tapi juga pertanian dan sebagainya. Jadi bagus sih,” pungkasnya.

Terkini