JAKARTA - Penggunaan gawai pada anak sering kali dijadikan solusi praktis oleh orang tua agar anak tetap tenang di ruang publik.
Kendati demikian, paparan konten yang dipandu oleh algoritma platform digital berisiko membawa anak pada tayangan yang tidak sesuai dengan usia perkembangan mereka.
Algoritma media sosial dirancang khusus untuk mempertahankan perhatian pengguna lebih lama, bukan untuk mendukung kesehatan mental anak.
Paparan video pendek berdurasi cepat dan berulang dapat memicu pelepasan dopamin yang merangsang sifat adiktif, sekaligus mengurangi kepekaan emosional anak.
Kondisi tersebut berdampak pada penurunan kontrol diri, meningkatnya perilaku impulsif, hingga potensi timbulnya gangguan kecemasan pada anak.
Namun, pengajar UIII Charyna Ayu menyatakan bahwa dampak buruk algoritma digital pada anak tetap merupakan isu yang bersifat multifaktor.
"Dan lagi-lagi, bagaimana dukungan dan attachment sama keluarganya. Kalau misalnya memang dia merasakan kedekatan dengan keluarga sangat baik, artinya hal-hal seperti ini [konten platform digital] bisa didiskusikan dulu," tutur Charyna kepada CNNIndonesia.com di kampus UIII, Depok, Selasa (7/7/2026).
Menurut Charyna, kehadiran serta keterikatan emosional orang tua dalam memenuhi kebutuhan dasar anak jauh lebih krusial daripada sekadar memfilter konten.
"Karena kalau kebutuhan dasarnya saja tidak bisa terpenuhi, mereka akan mencoba untuk memenuhi dengan cara lain, untuk memenuhi kesenangan mata mereka, kesenangan hati meeka," ujar Charyna.
Orang tua juga diimbau untuk tidak melarang secara kaku, melainkan menumbuhkan kompas moral serta empati kognitif anak melalui komunikasi yang terbuka.
"Kalau akses pornografi dan lain-lain, kan [bisa saja] dia enggak lihat di rumah. Dia bisa lihat di sekolah sama teman-temannya. Nah, sekarang masalahnya, bagaimana kami bisa menciptakan mindset bahwa jangan sampai dia tertarik sama sesuatu yang belum waktunya," tutur Charyna.
"Bukan tentang bahwa dia harus jujur, bukan tentang bahwa dia harus bisa menghargai orang lain, bukan di situ. Karena sekali empati itu jalan, kejujuran, rasa toleransi, rasa menghargai, itu akan jalan," tutur Charyna.
"Ada satu lagi yang disebut empati kognitif, kemampuan dia untuk memahami perspektif orang lain. Nah, empati kognitif ini harus ada pendidikan dari orang tua," ucap Charyna.
Charyna memberikan tiga langkah praktis, yaitu menciptakan ruang komunikasi yang nyaman, menjadi teladan perilaku digital, serta menetapkan batas waktu bebas gawai seperti saat makan malam bersama.
"Kuncinya, anak merasakan bahwa orang tuanya itu memahami dia. Kemudian orang tua juga yakin bahwa anak bisa merasakan kekhawatiran yang orang tua rasakan, jadi dua arah," kata Charyna.
"Jadi, makan malam itu memang ditujukan sebagai suatu aktivitas yang saya katakan 'by design.' Di sini anggota keluarga itu memang tujuannya untuk buat release saja. Makan bareng, ketawa, meskipun enggak ngobrol hal yang penting," tutur Charyna.