JAKARTA - LG Electronics pernah memegang peran penting di industri smartphone global dengan menghadirkan beragam ponsel berbasis Adobe Flash, Windows Mobile, Symbian, hingga Android.
Namun, rekam jejak panjang tersebut resmi berakhir pada 31 Juli 2021 sewaktu LG memutuskan untuk menghentikan operasional bisnis smartphone secara permanen.
Langkah strategis tersebut menyudahi kiprah LG yang sempat melahirkan produk inovatif, seperti LG Prada pada 2006 yang hadir lebih dulu dibanding iPhone generasi pertama dengan teknologi layar kapasitif.
LG juga pernah memetik kesuksesan lewat seri LG G3 yang membukukan penjualan lebih dari 10 juta unit di seluruh dunia sebagai rekor tertinggi sepanjang sejarah perusahaan.
Meski demikian, kejayaan itu tidak sanggup bertahan lama akibat gempuran kompetisi pasar yang kian ketat di tingkat global.
Pada 2020, LG tercatat masih menguasai pangsa pasar 10 persen di Amerika Utara, namun porsi secara global melorot hingga sisa 2 persen yang menempatkannya di posisi kesembilan dunia.
Riset Counterpoint Research menunjukkan pengapalan smartphone LG pada kuartal IV/2020 hanya mencapai 7,6 juta unit, tertinggal jauh dari Apple sebanyak 81,9 juta unit dan Samsung sebesar 62,5 juta unit.
Anjloknya angka penjualan berdampak langsung pada kinerja keuangan, di mana divisi seluler LG membukukan kerugian berturut-turut selama hampir 6 tahun hingga mencapai akumulasi US$4,5 miliar.
Tekanan berat dialami LG karena di kelas flagship harus berhadapan dengan Apple dan Samsung, sedangkan di kelas entry-level terdesak oleh pabrikan China seperti Xiaomi, Oppo, dan Vivo.
Di samping persaingan ketat, sektor smartphone sejatinya hanya menyumbangkan sekitar 7 persen dari total pendapatan keseluruhan grup bisnis LG.
Sebelum menutup divisi seluler, LG sempat mencoba menjajaki opsi penjualan bisnis ke Vingroup asal Vietnam, tetapi negosiasi tersebut berujung kegagalan.
Pasca gagal mencapai kesepakatan, manajemen LG memilih mengalihkan seluruh sumber daya perusahaan menuju sektor bisnis yang memiliki potensi pertumbuhan lebih besar.
“Keputusan strategis LG untuk keluar dari sektor telepon seluler yang sangat kompetitif akan memungkinkan perusahaan memusatkan sumber daya pada area pertumbuhan, seperti komponen kendaraan listrik, perangkat yang saling terhubung, rumah pintar, robotika, kecerdasan buatan, solusi B2B [business-to-business], serta platform dan layanan,” demikian pernyataan LG saat itu dikutip dari laman BGR pada Selasa (28/7/2026).
Keputusan tersebut kini membuah hasil manis, di mana unit bisnis komponen kendaraan listrik LG mencatatkan nilai pesanan belum terealisasi (backlog) hingga 100 triliun won.
Selain itu, lini bisnis B2B juga berkembang pesat menjadi pendorong utama kinerja keuangan dengan menyumbang hingga 36 persen dari total pendapatan LG.