Kebenaran Manfaat Minum dari Gelas Tembaga Menurut Ahli Kesehatan

Rabu, 05 Agustus 2026 | 06:32:02 WIB
Ilustrasi Gelas Tembaga.

JAKARTA - Belakangan ini, penggunaan gelas tembaga semakin populer di tengah masyarakat sebagai bagian dari pola hidup sehat. Sebagian orang meyakini bahwa mengonsumsi air dari wadah ini dapat mendatangkan beragam khasiat bagi tubuh. Lantas, apakah klaim tersebut benar secara medis?

Tubuh manusia pada dasarnya memang memerlukan asupan tembaga dalam jumlah kecil. Namun, konsumsi tembaga yang berlebihan justru berpotensi memicu timbulnya gangguan kesehatan.

Dari mana tren gelas tembaga berasal?

Kebiasaan meneguk air dari cangkir tembaga berakar dari ajaran Ayurveda, yaitu metode pengobatan tradisional khas India yang masih dipraktikkan hingga kini. Dalam ajaran tersebut, air yang diendapkan dalam bejana tembaga diyakini menjadi lebih bersih serta menyehatkan.

Anggapan tersebut tidak sepenuhnya salah. Sejumlah kajian ilmiah membuktikan bahwa material tembaga memiliki daya antimikroba yang ampuh membasmi kuman berbahaya seperti bakteri E. coli dan Salmonella.

Apa manfaat sebenarnya bagi kesehatan?

Di berbagai platform media sosial, wadah tembaga kerap diklaim mampu meningkatkan daya tahan tubuh, memperlancar sistem pencernaan, hingga mengoptimalkan penyerapan zat besi.

Akan tetapi, menurut pakar nutrisi Sandra Zhang dari Frances Stern Nutrition Center, Tufts Medical Center, Boston, klaim khasiat tersebut sejauh ini belum mengantongi bukti ilmiah yang kuat.

"Ada sangat sedikit bukti bahwa minum air dari gelas tembaga memberikan manfaat kesehatan yang berarti bagi kebanyakan orang," kata Zhang dikutip Everyday Health.

Ia menerangkan bahwa tembaga memang memegang peranan penting bagi tubuh, terutama dalam pembentukan jaringan serta produksi energi. Meski begitu, mayoritas masyarakat telah mencukupi kebutuhan tembaga harian dari asupan makanan seperti biji-bijian, kacang-kacangan, gandum, dan boga bahari.

Pakar farmakologi dan toksikologi Michigan State University, Jamie Alan, menimpali bahwa kadar tembaga yang larut dari gelas sangatlah sedikit, sehingga dampaknya pada organ tubuh hampir tak terasa.

"Meski tembaga bersifat antioksidan, hanya sejumlah kecil yang akan terserap dari wadah tembaga, sehingga kemungkinan efeknya di dalam tubuh sangat minim," ungkap Alan.

Ia juga menegaskan bahwa kasus defisiensi tembaga tergolong amat langka pada masyarakat umum.

"Kekurangan tembaga yang sesungguhnya itu jarang terjadi," jelas Alan.

Satu-satunya manfaat yang telah teruji secara sahih adalah kemampuan material tembaga dalam mensterilkan air berkat daya antimikroba alami yang dimilikinya.

Apakah ada risikonya?

Kendati jarang dijumpai, kebiasaan minum dari cangkir tembaga tetap menyimpan potensi risiko tersendiri.

Air minum yang dibiarkan mengendap terlalu lama di wadah tembaga dapat meningkatkan kadar konsentrasi logam tersebut. Selain itu, menyajikan cairan yang panas atau memiliki rasa asam akan membuat unsur tembaga lebih cepat terurai dan menyatu dengan minuman.

"Ini bukan gelas untuk menyeruput es kopi seharian penuh," ujar Alan.

Menurut Alan, potensi keracunan logam tembaga umumnya baru akan mengintai apabila seseorang memakai wadah tembaga sepanjang hari secara terus-menerus dalam kurun waktu yang lama.

"Anda harus benar-benar berusaha keras untuk sampai ke titik itu," tambahnya.

Apabila terjadi, akumulasi tembaga berlebih yang berlangsung lama bisa memicu kerusakan organ hati disertai keluhan seperti nyeri perut, mual, diare, hingga muntah-muntah. Kondisi semacam ini sempat dijumpai pada warga yang mengonsumsi air yang lama mengendap di dalam saluran pipa berbahan tembaga.

Tips aman minum dari gelas tembaga:

Demi menjaga keamanan, terdapat sejumlah saran praktis yang perlu diperhatikan:

a. Jangan menyimpan minuman terlalu lama di dalam wadah. Segera habiskan air minum dalam durasi wajar dan hindari membiarkannya mengendap hingga berjam-jam.

b. Hindari menyajikan minuman panas atau asam pada cangkir tanpa lapisan pelindung. Minuman seperti kombucha, jus jeruk, maupun minuman ber-suhu tinggi sebaiknya tidak dituang ke cangkir tembaga murni. Hal ini untuk mencegah pelarutan logam yang berlebih sekaligus menghindari timbulnya rasa asing.

"Gelas tanpa lapisan rasanya seperti uang logam," ujar Alan.

c. Cermati keberadaan lapisan dalam gelas. Cangkir tembaga yang biasa dipakai untuk racikan koktail seperti Moscow Mule umumnya sudah dilapisi bahan nikel, timah, atau baja tahan karat agar unsur tembaga tak gampang larut. Bahkan untuk cangkir tanpa pelapis, uji coba berskala kecil membuktikan kadar tembaga baru merangkak naik setelah air dibiarkan lebih dari 27 menit.

d. Utamakan produk berlabel food grade. Penanda ini menjamin bahwa material gelas aman bila kontak langsung dengan bahan konsumsi.

"Anda bisa saja membeli mug berkualitas rendah, jadi periksa dengan teliti mug Anda," kata Alan.

e. Rawat dengan mencuci manual. Bersihkan cangkir menggunakan tangan dan hindari mesin pencuci piring (dishwasher). Gesekan pada mesin pencuci piring riskan mengikis lapisan pelindung yang justru memperbesar peluang paparan tembaga berlebih.

Siapa yang sebaiknya menghindari gelas tembaga?

Penderita penyakit Wilson, yakni kelainan langka yang menyebabkan tubuh gagal membuang penumpukan tembaga, serta orang dengan riwayat gangguan organ tertentu disarankan untuk membatasi atau menghindari penggunaan wadah ini.

Di luar kondisi khusus tersebut, Alan menilai masyarakat umum pada dasarnya tetap aman apabila ingin sesekali minum memakai gelas tembaga, selama tidak menjadikannya sebagai wadah utama sehari-hari. Bila ragu, tak ada salahnya berkonsultasi terlebih dahulu dengan tenaga medis.

Kesimpulan:

Sandra Zhang berpandangan bahwa pemanfaatan gelas tembaga lebih tepat digolongkan sebagai preferensi gaya hidup atau tradisi kultural semata, ketimbang sebuah metode terapi kesehatan yang teruji.

"Poin utamanya adalah gelas tembaga sebagian besar merupakan preferensi budaya atau pribadi, bukan rekomendasi kesehatan yang terbukti," kata Zhang.

Senada dengan hal itu, Alan menegaskan bahwa menggunakan cangkir tembaga tidak perlu memicu kekhawatiran berlebih selama dilakukan secara bijaksana dan tidak berlebihan.

"Banyak orang memiliki pipa tembaga di rumah mereka, dan umumnya tidak ada masalah kesehatan," ujarnya.

“Memang benar Anda bisa mendapat lebih banyak tembaga dalam minuman jika minumannya asam atau panas, tetapi kecuali Anda melakukannya secara sangat konsisten atau memiliki masalah kesehatan yang signifikan, ini sebenarnya bukan masalah besar.”

Terkini