JAKARTA - Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) mendorong hadirnya inklusivitas dalam ajang Pemilihan Mahasiswa Berprestasi (Pilmapres) Tingkat Nasional 2026 dengan membuka kategori khusus bagi mahasiswa penyandang disabilitas.
"Pilmapres tahun ini menjadi momentum penting karena untuk pertama kalinya menghadirkan kategori Mahasiswa Disabilitas Berprestasi. Kami ingin memastikan bahwa setiap mahasiswa memiliki kesempatan yang setara untuk menunjukkan potensi terbaiknya," kata Koordinator Kemahasiswaan Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kemdiktisaintek Sukino dalam keterangan di Jakarta, Kamis.
Sukino menyampaikan bahwa ajang Pilmapres merupakan salah satu instrumen krusial dalam pembinaan talenta mahasiswa di Indonesia.
Menurutnya, ajang tersebut tidak hanya sebatas memilih mahasiswa terbaik, melainkan juga menempa karakter kepemimpinan, kreativitas, pola pikir inovatif, integritas, hingga semangat memberikan kontribusi nyata bagi publik.
"Prestasi tidak dibatasi oleh kondisi, melainkan ditentukan oleh semangat, dedikasi, kreativitas, dan kontribusi yang diberikan kepada masyarakat. Melalui Pilmapres, kami berharap lahir pemimpin-pemimpin muda yang mampu membawa perubahan positif bagi Indonesia," ujar Sukino.
Untuk diketahui, Pilmapres menjadi salah satu program strategis Kemdiktisaintek guna membina talenta mahasiswa Indonesia yang unggul di bidang akademik maupun non-akademik.
Gelaran Pilmapres Nasional 2026 diikuti oleh 54 finalis dari 31 perguruan tinggi di seluruh Indonesia. Para peserta tersebut mencakup 19 mahasiswa Program Sarjana, 19 mahasiswa Program Diploma, serta 16 mahasiswa Program Mahasiswa Disabilitas Berprestasi yang lolos seleksi berjenjang dari tingkat kampus, LLDikti, hingga seleksi awal nasional Kemdiktisaintek.
Sepanjang pelaksanaan Pilmapres Nasional pada 4–8 Agustus 2026, para finalis bakal menjalani tahapan penilaian sesuai ketetapan kategori masing-masing. Bagi Program Sarjana, penilaian mencakup capaian unggulan, gagasan kreatif, presentasi, wawancara, serta kecakapan bahasa Inggris.
Adapun Program Diploma meliputi presentasi produk inovatif, capaian unggulan, dan kemampuan komunikasi bahasa Inggris. Sementara itu, Program Mahasiswa Disabilitas Berprestasi dinilai melalui capaian unggulan, gagasan kreatif atau inovasi, presentasi, serta wawancara yang disesuaikan dengan karakteristik kompetisi.
Melalui seluruh Rangkaian proses tersebut, para finalis diharapkan sanggup menampilkan jiwa kepemimpinan, inovasi, kemampuan komunikasi, dan kontribusi berdampak bagi masyarakat luas.