Studi Ungkap Aktif Mengasuh Cucu Bisa Bantu Lansia Hidup Lebih Lama

Minggu, 16 Agustus 2026 | 20:53:31 WIB
Ilustrasi Mengasuh Cucu.

JAKARTA - Menghabiskan waktu bersama cucu tidak hanya mendatangkan kebahagiaan dan meringankan beban orang tua, melainkan juga memberikan dampak positif bagi kesehatan lansia.

Keterlibatan dalam mengasuh cucu membuat para lansia tetap aktif bergerak, menjaga interaksi sosial, serta memiliki kesempatan untuk merasa dibutuhkan oleh lingkungan sekitar.

Mengasuh Cucu Bisa Bantu Panjang Umur

Melansir Canadian Affairs, studi yang diterbitkan pada 2016 menunjukkan bahwa lansia yang membantu mengasuh cucu memiliki risiko kematian lebih rendah dibandingkan mereka yang tidak terlibat dalam pengasuhan keluarga.

Studi tersebut menggunakan data dari Berlin Aging Study yang mengamati lebih dari 500 lansia selama kurun waktu 18 tahun.

Hasil riset memperlihatkan lansia yang rutin membantu perawatan cucu memiliki risiko kematian 37 persen lebih rendah selama masa penelitian.

Kendati demikian, manfaat ini bukan berarti lansia wajib menjadi pengasuh utama untuk meraih efek positif tersebut.

Menurut Direktur Penelitian Kebijakan Kesehatan di National Institute on Ageing, Toronto Metropolitan University, Dr. Samir Sinha, ikatan sosial yang bermakna mampu melindungi lansia dari risiko isolasi sosial dan kesepian.

"Kami tahu bahwa sebenarnya memiliki dan mempertahankan hubungan sosial yang bermakna melindungi kami dari masalah seperti isolasi sosial dan kesepian seiring bertambahnya usia, dan bahkan dapat memperpanjang harapan hidup kami," ucap Sinha.

Bukan Sekadar Kesehatan Fisik

Interaksi dengan cucu turut memberikan hal penting lainnya, yakni rasa memiliki tujuan hidup. Saat membantu anak atau cucu, lansia merasa pengalaman dan perhatian mereka tetap berharga bagi generasi penerus.

Sinha menyebutkan bahwa hubungan kekeluargaan memberikan rasa keterikatan yang lebih kuat karena lansia memiliki kepedulian tinggi terhadap masa depan anak cucu mereka.

Komunikasi antar-generasi ini juga menciptakan ruang untuk saling belajar. Generasi muda dapat mengenalkan teknologi dan wawasan baru, sementara kakek-nenek membagikan pengalaman hidup serta petuah berharga.

Menurut Sinha, interaksi seperti ini berpotensi mendukung umur panjang sekaligus menekan risiko gangguan kesehatan mental, seperti depresi dan kecemasan.

Manfaat tersebut juga tidak terhalang oleh jarak geografis. Lansia yang tinggal berjauhan dari cucu tetap bisa menjaga kedekatan lewat komunikasi berkala, seperti panggilan video.

Sinha mencontohkan orang tuanya yang rutin melakukan panggilan Zoom bersama para cucu.

"Mereka sangat menghargai bahwa mereka masih memiliki kesempatan untuk terhubung, untuk terlibat," kata Sinha.

Lansia Tanpa Cucu Juga Bisa Mendapat Manfaat

Menariknya, manfaat dari hubungan antar-generasi ini tidak terbatas pada lansia yang memiliki cucu saja.

Dalam penelitian yang sama, lansia tanpa anak yang memberikan dukungan emosional kepada orang lain juga menunjukkan peningkatan kesehatan.

Artinya, peluang untuk membantu, berinteraksi, dan merasa dibutuhkan tetap dapat dibangun meski tanpa kehadiran keluarga dekat.

Hal ini kian krusial mengingat tren penurunan angka kelahiran serta meningkatnya populasi lansia yang menua tanpa didampingi sanak saudara.

Menurut Direktur Eksekutif i2i Intergenerational Society, MacKenzie, hubungan antar-generasi dapat dirajut lewat aktivitas sederhana di lingkungan sekitar.

"Manfaatnya sangat besar, sungguh sangat besar, antara orang muda dan orang tua, dan sama sekali tidak masalah apakah mereka cucu dan kakek-nenek satu sama lain," jelas MacKenzie, disadur dari Canadian Affairs.

Ia mencontohkan kegiatan yang mempertemukan penghuni panti jompo dengan anak-anak sekolah melalui permainan papan dan aktivitas bersama.

Pada kesempatan lain, anak-anak dapat dilibatkan dalam kegiatan berkebun bersama para lansia. Menurutnya, ikatan yang bermakna tidak selalu butuh waktu bertahun-tahun untuk terbentuk.

"Jika Anda seorang lansia yang memiliki klub berkebun, mengapa tidak mengundang beberapa anak TK atau prasekolah untuk datang dan menonton Anda serta membantu Anda mencabut gulma atau membantu Anda menanam umbi," ujar MacKenzie.

Bagi lansia, kegiatan sederhana ini menjadi sarana untuk menjaga kebugaran sekaligus memperluas jaringan sosial. Sementara bagi anak-anak, interaksi tersebut membantu mereka memahami bahwa penuaan adalah proses alami dalam kehidupan.

Pada akhirnya, peran aktif kakek-nenek bukan sekadar membantu mengurus cucu, melainkan menjadi ruang bagi lansia untuk terus aktif, berbagi kisah, dan merasakan bahwa keberadaan mereka tetap bermakna.

Terkini