Benarkah Makanan Pedas Bisa Membantu Membakar Kalori Dalam Tubuh

Rabu, 19 Agustus 2026 | 06:35:02 WIB
Ilustrasi Makanan Pedas.

JAKARTA - Santapan dengan cita rasa pedas telah menjadi bagian tak terpisahkan dari tradisi kuliner masyarakat Indonesia.

Mulai dari racikan sambal, seblak, ayam geprek, hingga hidangan kaya bumbu cabai lainnya, sensasi pedas selalu berhasil membangkitkan selera makan bagi banyak orang.

Di balik rasa pedas yang membakar lidah, berembuk anggapan bahwa kuliner pedas sanggup membantu tubuh membakar lebih banyak kalori.

Pandangan tersebut tidak sepenuhnya salah, namun dampak pastinya ternyata tidak sedahsyat yang kerap dibayangkan publik.

Kandungan Capsaicin Meningkatkan Pembakaran Energi

Cabai menyimpan zat alami bernama capsaicin yang memicu sensasi panas sekaligus memberikan dampak pada pengeluaran energi serta pembakaran lemak.

Kendati demikian, dampak zat tersebut cenderung terbatas dan tidak bisa dijadikan tumpuan utama dalam mengontrol berat badan.

Ketika mengonsumsi makanan yang kaya capsaicin, tubuh akan memicu proses thermogenesis atau pembentukan panas tubuh.

Proses tersebut memerlukan pasokan energi, sehingga secara teoritis mendorong tubuh membakar kalori dalam jumlah lebih banyak.

Meta-analisis pada 2021 menunjukkan bahwa zat capsaicinoid mampu menaikkan resting metabolic rate atau pemakaian energi saat tubuh beristirahat sekitar 34 kilokalori setiap hari.

Walau ada lonjakan pengeluaran energi, para ahli menggarisbawahi bahwa dampak perubahan tersebut terbilang sangat kecil.

Pengaruh Capsaicin Terhadap Tingkat Nafsu Makan

Di samping memicu thermogenesis, senyawa capsaicin juga dinilai punya potensi dalam memengaruhi tingkat nafsu makan seseorang.

Riset ilmiah membuktikan bahwa asupan capsaicinoid sebelum makan berkaitan erat dengan penurunan konsumsi energi, dengan rata-rata penurunan sebesar 74 kilokalori per porsi makan.

Hal ini menandakan bahwa keunggulan menu pedas tidak cuma terletak pada pembakaran energi, tetapi juga dari kemampuannya menahan porsi makan agar tidak berlebihan.

Meskipun begitu, menambah takaran cabai secara berlebihan tidak lantas melipatgandakan pembakaran kalori tubuh secara instan.

Tingkat kepedasan yang sangat tinggi tetap harus disesuaikan dengan toleransi dan kondisi pencernaan masing-masing individu.

Studi terbaru pada 2026 menegaskan bahwa capsaicin lebih konsisten dalam meningkatkan oksidasi lemak ketimbang mendongkrak pengeluaran energi secara menyeluruh dalam jangka panjang.

Waspadai Komposisi dan Bahan Pendamping Makanan Pedas

Masyarakat diminta tidak hanya berpatokan pada tingkat kepedasan, tetapi juga mencermati komposisi penyusun makanan tersebut.

Sambal olahan bahan segar tentu jauh lebih sehat ketimbang menu pedas yang dimasak bersama limpahan minyak, gula, atau bahan tinggi kalori lainnya.

Organisasi kesehatan Mayo Clinic mengingatkan bahwa khasiat capsaicin pada cabai mesti dipandang sebagai bagian kecil dari keseluruhan pola makan harian.

Pada dasarnya, kuliner pedas memang bisa memicu pembakaran energi dan oksidasi lemak dalam kadar tertentu, namun bukan solusi utama penurun berat badan.

Menjaga pola makan bergizi seimbang serta rutin berolahraga tetap menjadi kunci utama dalam menjaga kebugaran tubuh.

Oleh karena itu, menikmati makanan pedas dalam porsi wajar tetap diperbolehkan tanpa perlu memaksakan tingkat kepedasan ekstrem demi mengharapkan kalori terbakar.

Terkini