Berkat Akuisisi Anak PTRO Laba SINI Melonjak pada Semester I 2026

Jumat, 28 Agustus 2026 | 03:10:31 WIB
Ilustrasi Truk Pengankut Batubara.

JAKARTA - Emiten yang terafiliasi dengan pengusaha Happy Hapsoro, PT Singaraja Putra Tbk. (SINI), membukukan lonjakan laba pada semester I/2026 seiring dengan masuknya keuntungan dari akuisisi PT Kemilau Mulia Sakti (KMS), yang sebelumnya merupakan entitas usaha PT Petrosea Tbk. (PTRO).

Berdasarkan laporan keuangan perseroan, SINI membukukan laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp679,70 miliar pada semester I/2026. Capaian tersebut berbalik dari rugi Rp26,40 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.

"Lonjakan laba terutama berasal dari pos laba dari akuisisi dengan diskon (gain from bargain purchase) sebesar Rp662,72 miliar. Pos tersebut sebelumnya tidak tercatat pada semester I/2025," mengutip laporan keuangan SINI, Jumat (28/8/2026).

Di sisi operasional, SINI juga mencatat pertumbuhan pendapatan. Pendapatan perseroan mencapai Rp537,85 miliar pada semester I/2026, meningkat signifikan dibandingkan Rp217,41 miliar pada semester I/2025.

Kenaikan pendapatan tersebut diikuti dengan peningkatan beban pokok pendapatan menjadi Rp394,44 miliar dari Rp169,63 miliar. Dengan demikian, SINI membukukan laba bruto Rp143,41 miliar, naik dari Rp47,78 miliar pada semester I/2025.

Setelah memperhitungkan pendapatan dan beban lainnya, perseroan mencatat laba komprehensif yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp679,70 miliar, berbalik dari rugi Rp26,40 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Sejalan dengan kinerja tersebut, laba per saham dasar SINI mencapai Rp565,24 pada semester I/2026. Angka tersebut berbalik dari rugi per saham dasar Rp54,89 pada semester I/2025.

Keuntungan dari akuisisi dengan diskon tersebut berasal dari aksi korporasi SINI mengakuisisi PT Kemilau Mulia Sakti (KMS). Berdasarkan Akta No. 168 tanggal 31 Juli 2026, perseroan mengakuisisi 99,99% kepemilikan KMS atau sebanyak 507.380.875 saham.

Total harga perolehan akuisisi KMS mencapai Rp1,73 triliun. KMS bergerak dalam bidang aktivitas perusahaan holding, konsultasi manajemen dan pertambangan batu bara, serta pengangkutan dan pergudangan. Perusahaan tersebut mulai beroperasi secara komersial pada 2023.

Dalam transaksi tersebut, nilai wajar aset neto KMS tercatat sekitar Rp2,39 triliun, lebih tinggi dibandingkan harga perolehan akuisisi Rp1,73 triliun.

Selisih antara nilai wajar aset neto dan harga perolehan tersebut kemudian diakui sebagai keuntungan dari akuisisi dengan diskon sebesar Rp662,72 miliar dalam laporan keuangan SINI.

Sementara itu, BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS) dalam risetnya menyebut SINI membukukan laba bersih Rp638,26 miliar pada semester I/2026, berbalik dari rugi Rp24,95 miliar pada periode yang sama tahun lalu.

BRI Danareksa Sekuritas menilai pendorong utama laba tersebut adalah laba dari akuisisi dengan diskon sebesar Rp662,70 miliar dari pembelian KMS senilai Rp1,73 triliun.

"Akuisisi KMS tersebut disebut menjadi bagian dari rencana rights issue SINI yang berlangsung pada semester I/2026," jelas tim analis BRIDS.

Dari sisi operasional, BRI Danareksa Sekuritas mencatat pendapatan SINI meningkat sekitar dua kali lipat menjadi Rp389,20 miliar dalam perhitungan risetnya. Pendapatan tersebut antara lain berasal dari penjualan kayu dan batu bara serta sewa kamar.

Di sisi neraca, BRI Danareksa Sekuritas mencatat ekuitas konsolidasi SINI masih mengalami defisit sebesar Rp53,24 miliar. Kondisi tersebut terjadi karena total liabilitas sekitar Rp5,47 triliun masih lebih besar dibandingkan total aset sekitar Rp4,05 triliun.

Adapun dari sisi kepemilikan, pengusaha Hapsoro tercatat memiliki 3,89% saham SINI secara langsung. Selain itu, Hapsoro memiliki 16,99% saham SINI melalui PT Autum Prima Indonesia.

Hapsoro tercatat sebagai salah satu penerima manfaat akhir (ultimate beneficial owner/UBO) SINI bersama Hendrikus Yulidar Putra Karim dan Limas Ananto.

Terkini