PORTALENERGI.ID — Upaya pemerataan listrik di Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara memasuki babak baru. Setelah berhasil menerangi Desa Senambah dan Mulupan di Kecamatan Muara Bengkal, Kabupaten Kutai Timur, PLN kini mengarahkan fokusnya ke 168 desa lain yang tersebar di kedua provinsi tersebut.
Untuk merealisasikan target ini, PLN menyiapkan infrastruktur pendukung yang masif. Rencananya, akan dibangun 875,36 kilometer Jaringan Tegangan Menengah (JTM), 486,62 kilometer Jaringan Tegangan Rendah (JTR), serta 220 unit gardu distribusi. Proyek ini diproyeksikan membuka sambungan listrik bagi sekitar 9.885 calon pelanggan baru.
Momen Bersejarah bagi Warga Senambah dan Mulupan
Sebelum listrik PLN hadir, warga di dua desa di Kutim itu hanya mengandalkan pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) yang beroperasi terbatas. Kini, sebanyak 512 pelanggan di wilayah tersebut sudah menikmati pasokan listrik selama 24 jam penuh.
Bupati Kutai Timur, Ardiansyah Sulaiman, menyambut baik capaian ini. Ia menilai kehadiran listrik sepanjang hari menjadi momentum penting bagi pembangunan di Kecamatan Muara Bengkal.
"Kini masyarakat Senambah dan Mulupan sudah merdeka menikmati listrik selama 24 jam. Ini menjadi kabar baik dan momentum penting bagi pembangunan di Muara Bengkal," ujar Ardiansyah dalam keterangannya, Sabtu (29/8/2026).
Tantangan Geografis dan Komitmen Keberlanjutan
Membangun jaringan listrik di Kalimantan bukan perkara mudah. Bentang alam yang luas, jarak antarpemukiman yang berjauhan, serta sulitnya mobilisasi material menjadi tantangan harian bagi tim teknis di lapangan. Namun, hal tersebut tidak menyurutkan langkah PLN untuk terus bergerak.
General Manager PLN UID Kaltimra, Muchamad Chaliq Fadli, menegaskan bahwa proyek ini bukan sekadar soal angka infrastruktur. Menurutnya, di balik setiap kilometer kabel yang dibentang, ada harapan masyarakat yang menunggu.
"Di balik setiap kilometer jaringan yang dibangun, ada masyarakat yang menantikan hadirnya listrik. Ada anak-anak yang membutuhkan penerangan untuk belajar, keluarga yang ingin menjalankan aktivitas dengan lebih leluasa, dan desa yang memiliki potensi untuk berkembang," jelas Chaliq.
Chaliq menambahkan, keberhasilan program ini membutuhkan sinergi erat antara pemerintah daerah, aparat desa, dan masyarakat. PLN tidak bisa bekerja sendirian dalam memastikan infrastruktur yang sudah dibangun memberikan manfaat jangka panjang.
Capaian Elektrifikasi hingga Juli 2026
Perluasan ini berjalan seiring dengan meningkatnya rasio elektrifikasi di wilayah kerja PLN UID Kaltimra. Hingga Juli 2026, Rasio Elektrifikasi (RE) PLN di Kalimantan Timur mencapai 95,87 persen, dengan Rasio Desa Berlistrik (RDB) sebesar 93,06 persen.
Sementara itu, di Kalimantan Utara, RE PLN tercatat lebih tinggi yakni 99,17 persen, namun RDB-nya baru mencapai 81,95 persen. Masih adanya desa yang belum terjangkau menunjukkan pekerjaan pemerataan akses listrik di wilayah timur Indonesia ini masih panjang, dan perjuangan PLN dari Senambah dan Mulupan kini berlanjut ke desa-desa lain.