13 Anak Rambut Gimbal Jalani Ruwatan di Dieng Culture Festival 2026

Minggu, 30 Agustus 2026 | 03:33:00 WIB

PORTALENERGI.ID — Prosesi dimulai dengan kirab dari halaman rumah sesepuh adat Dieng menuju pelataran Candi Arjuna. Setibanya di lokasi, Bupati Banjarnegara Amalia Desiana memimpin prosesi jamasan sebelum rangkaian pemotongan rambut dilakukan oleh sesepuh adat Mbah Sumanto.

Sejumlah tamu undangan turut bergantian memotong rambut gimbal masing-masing anak. Sebelum rambut dipotong, setiap anak menyampaikan permintaan yang menjadi bagian dari tradisi—mulai dari kalkun, kambing, sepeda, hingga laptop.

Permintaan Wajib Sebelum Rambut Dipotong

Panitia Ruwatan Anak Berambut Gimbal, Chaerudin, menjelaskan tradisi ini sudah dijalankan masyarakat Dieng secara turun-temurun dan menjadi bagian DCF sejak pelaksanaan ke-16. Berdasarkan kepercayaan setempat, anak yang rambutnya tumbuh gimbal biasanya mengalami demam tinggi selama dua hingga tiga hari terlebih dahulu.

"Kalau permintaannya sudah dikabulkan, baru rambutnya bisa dipotong. Kalau belum, rambut tetap bisa dipotong, tetapi dipercaya akan tumbuh gimbal lagi dan anak bisa kembali sakit," kata Chaerudin yang juga bertindak sebagai pembawa acara ruwatan.

Setelah dipotong, rambut gimbal dilarung ke Telaga Balai Kambang yang berada tidak jauh dari kompleks Candi Arjuna. Rangkaian ditutup dengan tradisi Ngalap Berkah berupa makan bersama sebagai ungkapan syukur, diikuti masyarakat, pejabat, wisatawan domestik, hingga mancanegara.

Warisan Budaya yang Harus Dijaga

Menteri Kebudayaan Fadli Zon melalui sambutan tertulis yang dibacakan Direktur Warisan Budaya Agus Widiatmoko mengingatkan agar masyarakat tetap menjadi pemilik utama tradisi ini. "Jangan sampai nilai budaya dikorbankan dengan kepentingan ekonomi," katanya.

Fadli menegaskan ruwatan rambut gimbal merupakan tradisi lintas generasi yang mengandung nilai spiritual, penghormatan kepada leluhur, gotong royong, serta hubungan manusia dengan alam. Tradisi ini telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia sejak 2016.

Ia juga mendorong regenerasi pengetahuan budaya kepada generasi muda agar tradisi masyarakat Dieng tetap hidup dan dapat diwariskan. Ruwatan anak berambut gimbal di DCF 2026 menjadi bukti bahwa tradisi ini masih berjalan sebagai living tradition, bukan sekadar atraksi wisata.

Terkini