IHSG Berpotensi Hadapi Volatilitas di September 2026 Cek Saham Pilihan

Minggu, 30 Agustus 2026 | 18:19:01 WIB
Ilustrasi IHSG.

JAKARTA - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpotensi menghadapi guncangan tinggi pada September setelah reli Agustus. Bahkan, pasar saham Tanah Air berpotensi menghadapi volatilitas yang lebih kencang.

Sepanjang Agustus 2026, IHSG menguat 5,06 persen, menandai reli kuat sebelum memasuki bulan yang secara historis kurang bersahabat. Kiwoom Sekuritas mencatat rata-rata return September 10 tahun terakhir melemah 0,94 persen.

Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Liza Camelia Suryanata menjelaskan, September 2026 tetap berpeluang positif, meski ruang penguatan diperkirakan terbatas oleh kombinasi risiko global dan agenda pasar domestik.

"Kami memperkirakan IHSG berpeluang 40%–45% ditutup positif pada September 2026, sedikit di atas rata-rata probabilitas historis 33%, namun tetap condong ke skenario konsolidasi dengan bias pelemahan jangka pendek," jelasnya kepada Kontan, Jumat, 28 Agustus 2026.

Liza memproyeksikan, IHSG bergerak dalam kisaran 6.400–6.705 sepanjang September. Tekanan terbesar diperkirakan muncul pada periode 10–18 September ketika sejumlah bank sentral menggelar pertemuan.

Menurutnya, agenda utama yang perlu dicermati mencakup keputusan European Central Bank (ECB) pada 10 September, data CPI Amerika pada 11 September, serta keputusan The Fed dan Bank of Japan (BOJ) pada 16–18 September.

Selain itu, Bank Indonesia (BI) dijadwalkan menggelar Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada 22–23 September. Liza menilai stabilnya BI-Rate di 5,75 persen masih membuka ruang pelonggaran, apabila pergerakan rupiah tetap mendukung.

Tak hanya itu, kata Liza, risiko global juga datang dari perubahan ekspektasi kebijakan The Fed. Pasca pidato Kevin Warsh di Jackson Hole, peluang kenaikan suku bunga September menurut CME FedWatch mencapai 34 persen, meningkatkan tekanan terhadap aset berisiko.

Dia mencatat yield US Treasury 10 tahun berada sekitar 4,6%–4,7%, sementara tenor dua tahun sekitar 4,2%–4,3%. Liza bilang kenaikan yield berpotensi menekan valuasi saham, terutama kelompok berorientasi pertumbuhan dan teknologi.

Di Eropa dan Jepang, ECB serta BOJ juga mulai membuka peluang kebijakan lebih hawkish. Kondisi tersebut berpotensi mengetatkan likuiditas global melalui pengurangan transaksi carry trade berbasis yen.

Meski begitu, komoditas dinilai akan menjadi penyeimbang. Liza melihat CPO, nikel, dan emas masih berada dalam tren naik, sehingga dapat menopang emiten komoditas Indonesia ketika pasar saham global menghadapi tekanan.

Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus menimpali, peluang pelemahan IHSG pada September lebih besar, dengan berbagai faktor global berpotensi menekan pasar.

"Tahun ini, rasanya besar kemungkinan akan mengalami pelemahan. Namun tentu ada banyak faktor yang menentukan hal tersebut, mulai dari perang Amerika dan Iran hingga kemungkinan The Fed menahan atau menaikkan suku bunga," ucapnya.

Nico memperkirakan, IHSG memiliki probabilitas 43 persen untuk menyentuh level 6.750 pada September, dengan titik exit atau keluar di 6.230. Investor diminta mencermati support kuat selama volatilitas meningkat.

Di sisi teknikal, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia M. Nafan Aji Gusta melihat tren IHSG masih positif. Indikator moving average juga menunjukkan konfirmasi penguatan.

"Secara teknikal, pergerakan IHSG akan membentuk pola high baru karena faktor uptrend. Berdasarkan indikator, MA20&60 telah menunjukkan positive crossover, Stochastics K_D menunjukkan sinyal positif, dan RSI berpotensi membentuk pola golden cross," katanya.

Menurut Nafan, apabila koreksi pada September belum serta-merta mengubah tren jangka panjang IHSG. Dalam skenario bullish, Mirae memperkirakan IHSG berpeluang menguji level 7.400 pada 2026.

Lebih lanjut, dia memasukan saham dengan fundamental kuat dalam daftar pilihan saham 2026, yakni BBCA, BBNI, BBRI, BMRI, BBTN, CPIN, CTRA, INDF, ITMG, JSMR, TPIA dan EXCL.

Sementara itu, Liza menyebut volatilitas September dapat menjadi kesempatan re-entry bagi investor jangka menengah-panjang, bukan alasan keluar pasar. Secara historis, Oktober hingga Desember memiliki peluang penguatan lebih tinggi.

Dia bilang pola tersebut membuka window akumulasi menuju reli Oktober-Desember. Rata-rata return Oktober dan Desember masing-masing 1,16 persen dan 2,41 persen, dengan probabilitas kenaikan periode tersebut mencapai 78 persen.

Untuk pilihan saham, Kiwoom Sekuritas memilih saham INCO dengan target harga di Rp6.300, ANTM Rp4.800, PANI Rp9.925, BBRI Rp3.600, MTEL Rp705, JSMR Rp3.850, JPFA Rp3.140, KLBF Rp970, dan BBNI Rp4.100.

Terkini