BTN Pertahankan Target Pertumbuhan Kredit 2026 di Angka 8 Sampai 10 Persen

Kamis, 10 September 2026 | 06:05:32 WIB
Bank BTN.

JAKARTA - PT Bank Tabungan Negara (BTN) mengonfirmasi tidak melakukan revisi terhadap target pertumbuhan kredit tahun 2026 dengan memertahankannya pada kisaran 8 sampai 10 persen.

Keputusan untuk tidak menggeser patokan target tersebut disepakati sekalipun pencapaian realisasi kredit hingga Juni 2026 telah menembus Rp418 triliun atau melejit 11,2 persen secara tahunan (year-on-year/yoy), melampaui proyeksi awal tahun ini.

"Jadi, kami enggak revisi (target kredit). Ini masih sama dengan RBB (rencana bisnis bank) awal. Tapi, memang realisasinya (pertumbuhan kredit) melebihi dari rencana," ujar Direktur Utama BTN Nixon LP Napitupulu dalam Public Expose Live 2026 di Jakarta, Kamis.

Nixon membeberkan bahwa lonjakan pertumbuhan kredit hingga 11,2 persen tersebut sangat terdorong oleh pengalihan portofolio kredit pensiunan serta prapensiunan kepunyaan PT Bank SMBC Indonesia Tbk yang total nilai transaksinya menembus Rp19,93 triliun.

"Kami sebenarnya mengembalikan ke RKP awal saja 8-10 persen. Ya kalau pun lebih mungkin 10,1 atau 10,2 persen. Jadi enggak akan lebih," ujarnya.

Nixon menganggap dinamika di sektor industri perumahan turut memegang peran vital sebagai pertimbangan perseroan sewaktu menetapkan target pertumbuhan penyaluran kredit.

Menurut pengamatannya, tren laju kredit perumahan rakyat (KPR), khususnya di ranah masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) masih merambat pelan beriringan dengan aktivitas pembangunan maupun pembelian unit rumah yang belum bergerak optimal.

"Kalau kami lihat pertumbuhan KPR terutama untuk segmen masyarakat berpenghasilan rendah (MBR), kalau kami lihat memang lebih slow pembangunan rumah maupun pembelian rumah. Jadi kami enggak berani membuat target melebihi tren yang terjadi di industri perumahan," jelasnya.

Imbas kondisi itu, pihak Perseroan memilih untuk bersikap jauh lebih selektif sewaktu menyalurkan kredit sepanjang sisa periode tahun ini.

Nixon juga menggarisbawahi bahwa pada sisi pasokan perumahan hingga kini masih membentur serangkaian kendala, termasuk kerumitan proses perizinan di beberapa daerah.

"Apalagi sisi supply-nya juga masih pelan ya, terutama di daerah Jawa Barat. Ada beberapa persoalan perizinan dan sebagainya. Itu yang menyebabkan kami juga tetap memasang angka (kredit) 8 sampai 10 persen," kata Nixon.

Di lain sisi, Direktur Treasury & International Banking BTN Venda Yuniarti menjabarkan bahwa kenaikan angka kredit sampai Juni 2026 turut disokong oleh langkah ekspansi pada lini kredit non-housing.

Hingga periode Juni 2024, proporsi kredit non-housing telah menyumbang 20,4 persen dari total alokasi kredit beserta pembiayaan BTN. Pihak perseroan mematok porsi kredit non-housing ini sanggup bertumbuh secara gradual hingga menyentuh 30 persen dari total kredit pada 2030 kelak.

Venda meyakini lewat penerapan jurus ini, BTN tetap menempatkan sektor bisnis perumahan selaku pilar bisnis utama, sembari secara perlahan mengerek porsi kontribusi dari sektor non-housing melalui pembiayaan konsumer dan korporasi, termasuk segmen kredit pensiunan.

Adapun sepanjang semester I 2026, BTN berhasil mengamankan laba bersih senilai Rp2,4 triliun atau melonjak 40,8 persen yoy. Di sisi lain, indikator rasio kredit bermasalah (NPL) gross sukses ditekan turun ke level 2,99 persen.

Terkini