Bapanas Catat Harga Cabai Rawit di Sulawesi Utara Tembus Rp152.000 per Kg

Jumat, 11 September 2026 | 23:21:02 WIB
Pedagang sedang memilah Cabai rawit.

JAKARTA - Badan Pangan Nasional (Bapanas) mencatat pergerakan rata-rata harga cabai rawit secara nasional per 10 September 2026 telah menyentuh angka Rp 81.052 per kilogram (Kg).

Lonjakan harga paling signifikan tercatat di Provinsi Sulawesi Utara yang menembus Rp 152.872 per Kg, sementara patokan rata-rata terendah berada di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) sebesar Rp 56.604 per kg.

"Untuk cabai rawit, berdasarkan informasi dari Kediri, saat ini terdapat dinamika harga dan pasokan yang perlu segera kami respons," ucap Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Badan Pangan Nasional (Bapanas) I Gusti Ketut Astawa dalam keterangan tertulisnya, Jumat (11/9/2026).

Pihak Bapanas telah menggelar rakor bersama asosiasi petani untuk mengurai pemicu lonjakan tersebut.

Para petani mengungkapkan sejumlah faktor penyebab utama, mulai dari dampak kemarau panjang, serangan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) seperti trips dan kutu kebul, hingga keputusan alih tanam ke jenis komoditas lain.

Guna meredam lonjakan harga di pasar, pemerintah mengoptimalkan langkah penanganan lewat program Fasilitasi Distribusi Pangan (FDP) yang terbukti efektif pada periode sebelumnya.

Skema FDP diterapkan dengan memobilisasi cadangan cabai rawit dari daerah yang harganya stabil menuju wilayah yang mengalami lonjakan harga ekstrem.

"Misalkan di daerah di luar Jawa yang harganya relatif masih terjangkau, sehingga kami bisa FDP ke wilayah-wilayah yang harganya tinggi. Kami undang kembali para petani champion kami untuk membantu distribusikan ke wilayah-wilayah yang harganya relatif tinggi," sambung dia.

Bapanas mencatat realisasi FDP cabai rawit sepanjang triwulan pertama 2026 telah mencapai 5.590 kg.

Angka tersebut mencakup distribusi stok dari Enrekang, Sulawesi Selatan, ke Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta sebanyak 3.150 kg, serta ke Lombok Tengah dan Lombok Timur masing-masing 1.140 kg dan 1.300 kg.

Penerapan program ini sukses memberikan dampak positif berupa penurunan laju inflasi pangan pada April 2026.

Terkini