Ulasan Lengkap Fakta Grounding dan Klaim Nyeker Bisa Mencegah Virus

Selasa, 15 September 2026 | 04:18:02 WIB
Ilustrasi Grounding.

JAKARTA - Beraktivitas tanpa alas kaki atau grounding maupun earthing yang belakangan ini ramai diperbincangkan di media sosial belum dapat dianggap sebagai metode untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh ataupun mencegah infeksi virus.

Hal tersebut ditegaskan oleh dosen Fakultas Kedokteran dan Gizi IPB University, dr Widya Eka Nugraha, MSiMed. Ia menandaskan bahwa klaim tersebut mesti dicermati secara saksama berdasarkan bukti ilmiah serta prinsip ilmu biomedik.

"Grounding memang dapat mengubah potensial listrik tubuh ketika kulit bersentuhan langsung dengan permukaan bumi yang konduktif. Namun, fenomena fisika tersebut tidak serta-merta berarti terjadi peningkatan kekebalan tubuh terhadap virus," ujar dr Widya, dikutip dari laman IPB University.

Baru Bukti Pendahuluan, Bukan Dasar Terapi

Widya membeberkan bahwa sejumlah riset awal mengindikasikan adanya kemungkinan keterkaitan grounding dengan tingkat stres oksidatif, inflamasi, tingkat nyeri, kualitas tidur, hingga aktivitas sistem saraf otonom.

Meski demikian, deretan penelitian yang ada pada umumnya masih berskala kecil, memiliki keterbatasan metodologis, serta belum konsisten direplikasi oleh para peneliti independen lainnya.

"Temuan tersebut lebih tepat dipandang sebagai bukti pendahuluan, bukan dasar untuk menjadikan grounding sebagai terapi infeksi virus," tuturnya.

Beda Masuk Akal Secara Biologis dan Efektivitas Klinis

Widya memaparkan pentingnya bagi masyarakat untuk memisahkan antara biological plausibility (masuk akal secara biologis) dengan clinical effectiveness (efektivitas klinis).

"Suatu mekanisme dapat masuk akal secara biologis, tetapi efektivitas klinis harus dibuktikan melalui uji klinis acak, kelompok kontrol yang tepat, pengukuran objektif, dan replikasi penelitian," kata dia menegaskan.

Secara biologis, kontak kulit dengan permukaan bumi memungkinkan terjadinya pertukaran muatan dalam jumlah kecil.

Namun, dr Widya menerangkan bahwa belum ada bukti kuat bahwa elektron yang berpindah sanggup mencapai jaringan tertentu dalam jumlah memadai untuk berfungsi sebagai antioksidan atau mengubah respons imun secara klinis.

Manfaat yang dirasakan kala melakoni grounding juga berpotensi dipengaruhi oleh faktor lain, seperti aktivitas berjalan, paparan cahaya matahari alami, udara terbuka, relaksasi, suasana alam, maupun efek plasebo.

Mekanisme Pertahanan Tubuh yang Kompleks

Dalam menghadapi ancaman virus, dr Widya melanjutkan, tubuh manusia sejatinya dibekali mekanisme pertahanan yang amat kompleks.

Sistem imun bawaan bertugas mengenali komponen virus lalu memicu pembentukan interferon serta sitokin guna menghambat proses replikasi. Sel natural killer dan makrofag turut menyokong pemblokiran penyebaran infeksi.

Selanjutnya, imunitas adaptif bekerja memanfaatkan antibodi dari limfosit B serta limfosit T guna mengoordinasikan pengancuran sel yang terinfeksi. Respons tersebut harus berjalan seimbang karena respons yang terlampau lemah maupun inflamasi berlebih sama-sama memicu kerugian bagi tubuh.

"Belum ada bukti uji klinis berkualitas tinggi bahwa grounding dapat menurunkan risiko tertular virus, viral load, lama infeksi, rawat inap, atau kematian. Jadi, grounding belum dapat direkomendasikan sebagai pencegahan maupun terapi," jelasnya.

Boleh Dilakukan Sebagai Relaksasi, Bukan Pengganti Medis

Dr Widya menyampaikan bahwa grounding tetap boleh dijalankan sebagai aktivitas rekreasi maupun relaksasi selama berada dalam kondisi aman, namun bukan dimaksudkan untuk menggantikan intervensi medis.

Upaya pencegahan infeksi tetap bersandar penuh pada vaksinasi, penyediaan ventilasi yang memadai, kebersihan tangan, penerapan etika batuk, pemakaian masker pada situasi berisiko, serta pemeriksaan dan terapi medis yang sesuai.

Bagi masyarakat perkotaan, menikmati suasana alam dan berjalan santai dapat menjadi bagian dari gaya hidup sehat tanpa perlu mengaitkannya secara otomatis dengan daya cegah atau sembuh dari infeksi virus.

"Bagi orang dengan diabetes, gangguan saraf kaki, luka terbuka, atau gangguan keseimbangan, grounding dengan aktivitas tanpa alas kaki perlu dilakukan lebih hati-hati. Permukaan harus aman dari benda tajam, panas berlebihan, dan sumber infeksi agar tetap aman," ucapnya.

Terkini