Logistik

Teknologi 3D Machine Vision Dorong Efisiensi Baru Logistik Indonesia Modern

Teknologi 3D Machine Vision Dorong Efisiensi Baru Logistik Indonesia Modern
Teknologi 3D Machine Vision Dorong Efisiensi Baru Logistik Indonesia Modern

JAKARTA - Transformasi digital di sektor industri tidak lagi hanya berkutat pada lantai produksi manufaktur. 

Dalam beberapa tahun terakhir, sektor logistik dan pergudangan justru muncul sebagai area dengan kebutuhan otomasi paling kompleks sekaligus paling menantang. 

Karakteristik lingkungan kerja yang dinamis, variasi bentuk barang yang ekstrem, serta alur operasional yang tidak selalu terstruktur membuat teknologi konvensional sering kali kewalahan. Di sinilah peran machine vision, khususnya berbasis 3D, mulai menunjukkan relevansi strategisnya.

Jika dibandingkan secara historis, sektor manufaktur memang lebih dulu mengadopsi sistem otomatisasi visual. Lingkungan kerja yang relatif tertata, proses yang berulang, serta standar produk yang konsisten menjadikan manufaktur sebagai tempat ideal bagi pengembangan machine vision. 

Sebaliknya, gudang dan sistem logistik memiliki tingkat variasi yang jauh lebih tinggi. Alur kerja di gudang bisa mencakup penerimaan barang, penyimpanan sementara, pemindahan, hingga pengiriman, dengan proses di antara tahapan tersebut sangat bervariasi.

Barang yang ditangani pun sangat beragam, mulai dari produk fesyen, makanan, hingga barang konsumsi umum. Pada level yang lebih detail, penanganan dapat melibatkan palet besar, karton, hingga unit barang satuan dengan ukuran dan bentuk berbeda-beda. 

Kompleksitas ini meningkat drastis di sektor logistik, di mana paket dan palet datang dalam kondisi yang sering kali tidak terduga oleh sistem visual tradisional. Barang bisa tersebar di conveyor belt yang lebar atau menumpuk tidak beraturan di area bongkar muat.

Kondisi seperti ini menuntut teknologi visual yang jauh lebih tangguh. Machine vision konvensional berbasis 2D sering kali tidak cukup untuk memahami kedalaman, bentuk, dan posisi objek secara akurat. 

Oleh karena itu, kombinasi antara machine vision, teknologi 3D sensing, dan industrial scanning menjadi kebutuhan mendesak untuk memastikan proses logistik berjalan efisien dan andal.

Perkembangan Global dan Posisi Indonesia

Selama lebih dari 25 tahun terakhir, machine vision telah menjadi fondasi penting dalam industri manufaktur global. Kini, adopsinya meluas ke sektor lain, termasuk logistik dan pergudangan. 

Kawasan Asia Pasifik berada di garis depan perkembangan ini, dengan pangsa pasar mencapai 44,3% pada tahun 2025. Indonesia menjadi salah satu pemain kunci di kawasan ini, didorong oleh percepatan otomatisasi di sektor manufaktur, otomotif, dan kesehatan.

Pasar machine vision industri di Indonesia diproyeksikan tumbuh dari USD11,4 miliar pada tahun 2025 menjadi USD25,6 miliar pada tahun 2031. Para analis juga memprediksi kawasan Asia Pasifik akan mencatatkan tingkat pertumbuhan tahunan majemuk (compound annual growth rate/CAGR) tertinggi. 

Sejalan dengan itu, penerapan computer vision berbasis AI di Indonesia diperkirakan tumbuh dengan CAGR sebesar 24,3% dari tahun 2025 hingga 2033.

Lonjakan ini tidak terlepas dari kemajuan signifikan dalam teknologi neural processing, 3D sensing, dan algoritma AI dalam tiga hingga lima tahun terakhir. Inovasi tersebut membuat solusi machine vision semakin mudah diakses, baik dari sisi hardware maupun software. Platform modern kini mampu meningkatkan kualitas manufaktur dengan mendeteksi cacat kecil, sekaligus menaklukkan tantangan lingkungan logistik yang jauh lebih dinamis dan kurang tertata.

Penerapan Nyata untuk Industri Indonesia

Meski teknologi ini berkembang secara global, penerapannya tetap harus disesuaikan dengan kebutuhan lokal. Bagi Indonesia, relevansinya sangat jelas. 

Berbagai studi kasus internasional menunjukkan bahwa otomatisasi cerdas mampu memberikan hasil nyata dalam bentuk peningkatan efisiensi, pengurangan biaya, dan peningkatan akurasi. 

Hal ini menjadi fondasi penting untuk mendukung agenda “Making Indonesia 4.0”, khususnya di sektor prioritas seperti makanan dan minuman, otomotif, serta logistik.

Salah satu area penerapan utama adalah pengambilan dan penyortiran otomatis, terutama di industri makanan dan minuman berskala besar. Studi kasus di industri roti di Eropa menunjukkan bagaimana software machine vision digunakan untuk memandu sistem otomatis dalam memeriksa seluruh produk. 

Dengan pendekatan ini, perusahaan mampu memeriksa 25–30 paket per menit tanpa merusak produk. Hasilnya adalah penghematan biaya hingga 75% dibandingkan metode pengecekan tradisional, sekaligus menghilangkan pekerjaan visual manual yang repetitif.

Penerapan berikutnya adalah inspeksi otomatis untuk memastikan integritas produk, mendeteksi kerusakan, dan memverifikasi kelengkapan pesanan. Di tengah upaya perusahaan manufaktur Indonesia mencapai standar kualitas kelas dunia, teknologi seperti hyperspectral imaging menjadi sangat vital.

 Teknologi ini mampu mendeteksi kebocoran dalam kemasan tertutup yang tidak terlihat oleh kamera standar. Pendekatan ini mengubah pengendalian mutu dari proses manual yang rentan kesalahan menjadi sistem otomatis yang jauh lebih andal.

Pengukuran Presisi dan Identifikasi Canggih

Pertumbuhan e-commerce dan logistik di Indonesia juga mendorong kebutuhan akan pengukuran presisi untuk barang, parsel, dan palet. Optimalisasi dimensi paket dan ruang kendaraan menjadi faktor penting bagi profitabilitas. 

Contoh menarik datang dari perusahaan retail grosir bahan pangan Dimar, yang berhasil memangkas waktu alur kerja hingga 50% dengan solusi otomatisasi cerdas. Sistem ini menggabungkan sensor time-of-flight dan AI untuk merekonstruksi serta mengukur barang secara virtual dan instan, termasuk objek dengan bentuk tidak beraturan.

Selain itu, identifikasi canggih menggunakan pemindaian kecepatan tinggi dan optical character recognition (OCR) memainkan peran krusial dalam memperlancar rantai pasokan. Bagi penyedia logistik pihak ketiga (3PL) berskala besar, memproses ribuan paket setiap hari menuntut efisiensi ekstrem. 

Noerpel-Group, misalnya, berhasil mencapai penghematan waktu hingga 50% dan visibilitas aset real-time dengan memindai sekitar 700.000 paket hanya dalam lima bulan menggunakan fixed industrial scanner.

Contoh lain datang dari perusahaan roti Zeelandia, yang mengintegrasikan scanner langsung ke forklift. Inisiatif ini menghemat sekitar €20.000 per tahun dan meningkatkan konektivitas alur kerja, mengurangi downtime, serta membebaskan staf dari tugas administratif manual.

Perspektif Baru Teknologi 3D

Di sektor manufaktur, adopsi pemindaian 3D telah lebih dulu matang. Solusi berbasis sensor single-laser 3D dan dual-camera yang terintegrasi dengan software AI mampu mengurangi tingkat defect hingga 10–15% pada komponen kompleks seperti pintu mobil. 

Sensor ini merekam ribuan data point, membentuk point cloud dan peta kedalaman yang dianalisis oleh AI untuk mendeteksi cacat.

Di sektor logistik, tantangannya berbeda. Pemindai 3D berbasis structured light tradisional menawarkan resolusi tinggi untuk objek statis, tetapi rentan distorsi saat objek atau sensor bergerak. 

Sistem time-of-flight menawarkan kecepatan tinggi, namun kadang mengorbankan resolusi. Teknologi 3D sensing generasi baru kini mengatasi keterbatasan tersebut dengan pemindaian real-time beresolusi tinggi untuk objek bergerak cepat, membuka peluang baru dalam depalletisation, pengambilan barang dari conveyor, hingga digital twinning untuk visibilitas aset.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index