Permintaan Listrik Dunia Makin Ditopang Energi Surya

Permintaan Listrik Dunia Makin Ditopang Energi Surya
Ilustrasi panel surya terapung.

JAKARTA - Pangsa gas dalam bauran listrik global kembali mengalami penurunan pada 2025. Di saat yang sama, energi surya semakin mendominasi pertumbuhan permintaan listrik baru dunia dan menjadi pendorong utama transisi menuju energi bersih.

Berdasarkan analisis lembaga riset energi global Ember, pangsa gas dalam bauran listrik dunia turun dari 23,9 persen pada 2020 menjadi 21,8 persen pada 2025. Meski pembangkitan listrik berbasis gas masih meningkat secara absolut, laju pertumbuhannya melambat signifikan akibat pesatnya perkembangan energi surya dan angin.

Data Ember menunjukkan pembangkitan energi surya tumbuh hingga 636 terawatt hour (TWh) sepanjang 2025. Angka tersebut sekitar 17 kali lebih besar dibandingkan pertumbuhan gas yang hanya mencapai 38 TWh.

Energi surya bahkan menyumbang sekitar 75 persen dari total pertumbuhan permintaan listrik global pada 2025. Sementara itu, kontribusi gas hanya berada di kisaran 5 persen, menandakan perannya yang semakin berkurang dalam memenuhi kebutuhan listrik baru.

Senior Electricity Analyst Ember Malgorzata Wiatros-Motyka menilai perkembangan energi terbarukan kini semakin unggul dari sisi ekonomi maupun ketahanan energi.

"Seiring energi terbarukan menekan biaya sekaligus mengurangi eksposur terhadap guncangan harga bahan bakar dan gangguan geopolitik, gas perlahan kehilangan keunggulan yang dulu menjadikannya bahan bakar andalan untuk pertumbuhan sistem tenaga listrik," katanya.

Laporan tersebut juga mengungkap bahwa dari 124 negara dan ekonomi yang memanfaatkan gas untuk pembangkitan listrik, sebanyak 61 di antaranya telah melewati puncak penggunaan gas. Empat negara anggota G7 yang masuk dalam kelompok tersebut adalah Inggris, Jerman, Italia, dan Jepang.

Di negara-negara G7, pembangkitan listrik berbasis gas turun 50 TWh sepanjang 2025. Sebaliknya, energi terbarukan meningkat hingga 123 TWh dan hampir menyamai total pembangkitan listrik dari gas.

Menurut Ember, sejumlah peristiwa geopolitik dalam beberapa tahun terakhir turut mempercepat pergeseran menuju energi terbarukan. Konflik Rusia-Ukraina pada 2022 hingga gangguan pasokan LNG akibat ketegangan di Timur Tengah pada 2026 mendorong banyak negara mengurangi ketergantungan pada gas impor.

"Krisis geopolitik belakangan ini menyoroti risiko ketergantungan pada gas impor. Negara-negara makin berpaling ke energi terbarukan karena tersedia secara domestik, harganya lebih stabil, dan lebih cepat dibangun," kata Wiatros-Motyka.

Amerika Serikat menjadi pengecualian dalam tren tersebut. Negeri itu masih menjadi pendorong terbesar pertumbuhan gas global selama satu dekade terakhir dan menyumbang sekitar 26 persen dari total pembangkitan gas dunia pada 2025.

Sementara itu, China, India, dan Brasil yang menyumbang sekitar 42 persen permintaan listrik global justru menunjukkan bahwa pertumbuhan kebutuhan listrik dapat dicapai tanpa ketergantungan besar pada gas.

India mencatat penurunan pangsa gas dari 12,6 persen pada 2010 menjadi 2,3 persen pada 2025. Brasil turun dari puncak 13,7 persen pada 2014 menjadi 7,3 persen, sedangkan China mempertahankan pangsa gas di kisaran 3 persen meski permintaan listriknya terus meningkat.

Dengan hampir separuh ekonomi berbasis gas telah melewati puncak penggunaannya dan teknologi energi bersih yang berkembang pesat, dunia dinilai semakin mendekati titik puncak penggunaan gas dalam sistem kelistrikan global.

Halaman

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index