Hubungan Negatif dengan Orang Toksik Picu Percepatan Penuaan Sel

Hubungan Negatif dengan Orang Toksik Picu Percepatan Penuaan Sel
Ilustrasi Orang Toxic.

JAKARTA - Menjalin interaksi sosial dengan sesama individu dalam kehidupan bermasyarakat tidak selamanya dapat berlangsung secara mulus.

Dalam rutinitas kehidupan sehari-hari, adakalanya kamu terpaksa harus berhadapan dengan sosok figur yang terus-menerus memicu konflik serta menguras energi emosional.

Sangat disayangkan, membiarkan hubungan yang bernuansa negatif seperti ini tetap bertahan dapat memberikan dampak buruk pada kondisi kesehatan fisik maupun mental.

Sebuah hasil riset kesehatan mengungkapkan bahwa tekanan stres kronis akibat berinteraksi dengan tipe orang toksik mampu mempercepat proses penuaan biologis melalui pengaruhnya terhadap usia sel-sel di dalam tubuh.

"Sebagian besar dari apa yang kita ketahui tentang hubungan sosial dan kesehatan berfokus pada kekuatan pelindung dari teman dan keluarga yang meredam stres, serta mempromosikan kesejahteraan," ungkap salah satu peneliti sekaligus profesor sosiologi di NYU, Byungkyu Lee, PhD, mengutip Self, Selasa (16/6/2026).

Rincian menyeluruh terkait dampak buruk tersebut diulas secara mendalam melalui sebuah laporan studi ilmiah dalam jurnal PNAS (2026) yang bertajuk "Negative social ties as emerging risk factors for accelerated aging, inflammation, and multimorbidity".

Riset tersebut melakukan survei terhadap 2.345 orang responden dengan rentang usia dari 18 hingga 104 tahun mengenai detail ikatan hubungan sosial mereka, termasuk mendata siapa saja pihak yang rutin memicu masalah.

Pihak peneliti selanjutnya melakukan analisis terhadap sampel cairan air liur dari para peserta guna melacak adanya perubahan pada penanda kimia di struktur DNA mereka.

Hasil akhir dari pengamatan ini tergolong cukup mengejutkan bagi dunia medis.

Keberadaan setiap satu orang individu yang bersifat toksik ternyata sanggup mempercepat proses penuaan sel hingga sebesar 1,5 persen, yang mengakibatkan sel tubuh tampak sembilan bulan lebih tua dibandingkan usia kronologis aslinya.

"Tetapi, hampir 30 persen orang dewasa melaporkan adanya seseorang di lingkaran terdekat mereka yang secara rutin membuat hidup lebih sulit," terang Lee.

"Orang-orang yang toksik ini bukan hanya membuat stres. Mereka dikaitkan dengan percepatan penuaan biologis pada tingkat molekuler, bersama dengan peradangan, depresi, kecemasan, dan beban penyakit kronis yang lebih tinggi," lanjut dia.

Imbas dari adanya percepatan penuaan pada tingkatan jaringan sel ini dilaporkan lebih banyak menyerang kelompok wanita dibandingkan dengan kaum pria.

Kehadiran sosok pemicu masalah tersebut merangsang timbulnya stres kronis yang memicu pelepasan hormon kortisol, di mana hormon ini menjadi dalang utama munculnya peradangan.

Paparan emosi negatif yang terus-menerus diantisipasi oleh organ otak secara perlahan bakal mengikis tingkat ketahanan fisik tubuh manusia secara kumulatif.

"Dampak itu memakan korban fisik serta mental," tutur profesor madya klinis psikologi di NYU Langone Health, Thea Gallagher, PsyD.

Hal yang cukup menarik, riset ilmiah ini mencatat bahwa tekanan emosional yang bersumber dari lingkaran teman dekat serta keluarga kandung membawa dampak kerusakan biologis yang jauh lebih dalam ketimbang perselisihan dengan pasangan hidup.

Fenomena ini dapat terjadi lantaran pola interaksi antara suami dan istri biasanya masih diimbangi oleh momen keintiman yang mampu menyeimbangkan kembali ketegangan psikologis.

Sebaliknya, gesekan yang terjadi dalam internal keluarga kandung dinilai sangat sulit untuk dihindari serta jarang sekali memiliki titik temu keseimbangan yang sebanding.

"Keluarga dapat menciptakan stres yang terasa tertanam dalam, dan sulit untuk dihindari, tanpa campuran penyeimbang yang sama dari keintiman harian dan investasi bersama," tambah Lee.

Mengambil tindakan untuk menjauhkan diri dari figur orang yang selalu membawa masalah memang tidak selamanya terasa mudah dilaksanakan, terlebih bila mereka merupakan bagian dari keluarga sendiri.

Oleh karena itu, opsi jalan keluar terbaik yang bisa segera diaplikasikan adalah dengan jalan merubah cara pandang kamu dalam menanggapi perlakuan buruk tersebut.

"Kamu bisa mundur sejenak untuk menata ulang cara pandang saat merespons situasi tersebut," jelas asisten profesor psikiatri dan ilmu perilaku di Vanderbilt University Medical Center, Aaron P. Brinen, PsyD.

Diri mengingatkan, kamu tidak akan pernah bisa merubah tabiat dasar ataupun karakter dari anggota keluarga, namun kami memegang kendali penuh atas reaksi dari dalam diri kami sendiri.

Di samping mengontrol pola pikir, mengonsep batasan perlindungan personal yang tegas juga menjadi langkah yang sangat dianjurkan demi membentengi kesehatan mental.

Proteksi lingkungan ini dapat diperkuat dengan cara memperlebar ruang pertemanan ke arah komunitas yang lebih positif, serta konsisten mempraktikkan teknik relaksasi pereda stres seperti aktivitas meditasi.

"Kehidupan sosial yang sehat mencerminkan kondisi kesehatanmu yang sebenarnya. Kebutuhan dirimu harus selalu jadi prioritas utama," pungkas Gallagher.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index