Kinerja Bank Jumbo Semester I 2026 Bank Mandiri BNI dan BCA Tumbuh

Kinerja Bank Jumbo Semester I 2026 Bank Mandiri BNI dan BCA Tumbuh
Ilustrasi Gedung Bank Mandiri.

JAKARTA - Sebagian besar perbankan skala besar yang tergolong dalam Kelompok Bank berdasarkan Modal Inti (KBMI) IV telah mengumumkan laporan kinerja semester I 2026 yang memperlihatkan pertumbuhan bisnis solid.

Merujuk data laporan keuangan masing-masing perseroan, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) berhasil memimpin kenaikan laba bersih tertinggi yakni mencapai 24,4 persen.

Di sisi lain, PT Bank Negara Indonesia Tbk. (BBNI) mencatatkan laju penyaluran pembiayaan paling tinggi dengan pertumbuhan kredit sebesar 24,38 persen.

Selanjutnya, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) konsisten mempertahankan keunggulan dalam perolehan dana murah, di mana porsi CASA tercatat mendominasi hingga 84,3 persen dari keseluruhan DPK.

Secara umum, ketiga lembaga perbankan tersebut mampu memelihara kualitas aset secara optimal di tengah ekspansi. Kualitas kredit bermasalah (NPL) Bank Mandiri berada di posisi 0,98 persen, sedangkan BNI dan BCA sama-sama mencatat 1,9 persen.

Aktivitas penyaluran kredit menjadi penggerak utama performa ketiganya. Bank Mandiri membukukan lonjakan kredit 19,9 persen secara tahunan (YoY), BNI naik 24,38 persen YoY, dan BCA tumbuh 8 persen YoY hingga mampu menembus nominal Rp1.000 triliun untuk pertama kalinya.

Atas pencapaian tersebut, Bank Mandiri berhasil mengantongi laba bersih konsolidasi sebesar Rp30,4 triliun per Juni 2026. BCA mengekor di posisi berikutnya dengan perolehan Rp29,5 triliun, sementara BNI menghimpun laba bersih Rp10,80 triliun.

Di pihak lain, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk sampai saat ini terpantau belum mempublikasikan laporan capaian kinerja untuk periode semester I 2026.

Berikut rangkuman kinerja dari tiap-tiap perbankan KBMI IV:

Bank Mandiri
Bank Mandiri mencatatkan perolehan laba bersih konsolidasi senilai Rp30,4 triliun hingga akhir Juni 2026, atau mengalami peningkatan sebesar 24,4 persen YoY.

Kenaikan laba ini ditopang ekspansi usaha yang stabil, terlihat dari peningkatan DPK sebesar 17,1 persen YoY yang berhasil disalurkan sehingga aset kredit melesat 19,9 persen YoY.

Direktur Finance & Strategy Bank Mandiri Novita Widya Anggraini menyebutkan bahwa dinamika pertumbuhan tersebut sukses menghasilkan pendapatan bunga bersih (NII) yang positif.

“Jadi dengan pertumbuhan ini tentunya menghasilkan revenue ataupun NII yang cukup baik di 8%,” ungkap Novita dalam Paparan Kinerja Kuartal II/2026 secara virtual, Kamis (23/7/2026).

Mengenai aspek kualitas aset, Bank Mandiri sukses menjaga tingkat NPL pada angka 0,98 persen, serta membukukan coverage ratio sebesar 242 persen dan cost of credit pada level 0,52 persen.

Peningkatan profitabilitas ini juga didukung perolehan pendapatan nonbunga via fee-based income, seperti perolehan fee Livin' by Mandiri yang melonjak 46 persen YoY, Kopra by Mandiri naik 22,8 persen YoY, dan transaksi treasury naik 23 persen YoY.

“Dengan kondisi yang pencapaian volume bisnis, kemudian tingkat profitabilitas yang baik, ini menghasilkan laba Bank Mandiri di Rp30,4 triliun,” ujarnya.

BNI
PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI) meraup laba bersih konsolidasian senilai Rp10,80 triliun sepanjang semester I 2026, atau naik 6,33 persen YoY dibanding Rp10,16 triliun pada periode tahun sebelumnya.

Walau laju kenaikan labanya relatif terbatas dibanding Bank Mandiri, BNI menjadi bank dengan ekspansi kredit paling progresif, yakni mencapai Rp968,53 triliun atau melesat 24,38 persen YoY.

Perkembangan kredit tersebut berbanding lurus dengan pertumbuhan DPK yang naik 22,26 persen YoY menjadi Rp1.100,18 triliun, terutama disokong instrumen deposito yang melonjak 50,70 persen YoY menjadi Rp380,22 triliun.

Adapun saldo giro tercatat naik 12,32 persen YoY menjadi Rp428,64 triliun dan tabungan meningkat 9,56 persen YoY menjadi Rp291,32 triliun, sehingga total aset BNI terdongkrak 21,58 persen YoY menjadi Rp1.461 triliun.

Secara operasional, pendapatan bunga BNI tercatat Rp38,63 triliun (naik 14,92 persen YoY), beban bunga Rp16,34 triliun (naik 15,94 persen YoY), dan pendapatan bunga bersih akhir terkumpul Rp22,28 triliun.

Namun demikian, ekspansi masif ini diiringi kenaikan beban operasional non-bunga sebesar 26,77 persen YoY menjadi Rp9,49 triliun, serta beban impairment yang naik 36,17 persen YoY menjadi Rp5,05 triliun.

Dampak beban tersebut membuat NIM BNI terkoreksi ke angka 3,55 persen dari 3,83 persen, dan rasio BOPO bergeser naik menuju level 73,11 persen dari semula 71,36 persen.

Kendati begitu, kualitas aset BNI menunjukkan pemulihan di mana Loan at Risk (LAR) mengalami penurunan dari 11 persen menjadi 8,1 persen, dengan rasio NPL bertahan stabil pada level 1,9 persen.

Direktur Finance & Strategy BNI Hussein Paolo Kartadjoemena menilai kenaikan ini memperlihatkan kekuatan lini bisnis utama BNI yang solid serta seimbang.

“Peningkatan pendapatan tidak hanya berasal dari ekspansi kredit, tetapi juga dari pertumbuhan transaksi, solusi cash management, layanan digital, serta aktivitas berbasis komisi lainnya. Diversifikasi sumber pendapatan ini penting untuk menjaga ketahanan profitabilitas BNI dalam berbagai kondisi siklus ekonomi,” kata Paolo dalam keterangannya, Rabu (5/8/2026).

Pencapaian pendapatan komisi BNI naik 13,51 persen YoY menjadi Rp5,50 triliun, disokong penerimaan pendapatan operasional lainnya yang tumbuh 8,70 persen YoY menjadi senilai Rp3,08 triliun.

BCA
BCA meraup laba bersih konsolidasi senilai Rp29,5 triliun pada semester I 2026, yang didorong oleh capaian penyaluran kredit yang menembus Rp1.036 triliun atau tumbuh 8 persen YoY.

Sektor produktif menjadi pendorong utama penyaluran pembiayaan dengan nilai Rp802 triliun (tumbuh 11 persen YoY), yang mana kredit korporasi berkontribusi Rp513,4 triliun dan segmen komersial serta UKM mencatatkan Rp288,5 triliun.

Presiden Direktur BCA Hendra Lembong mengutarakan bahwa hasil kinerja positif ini selaras dengan tren dinamika dunia usaha dan ekspansi pembiayaan produktif di berbagai sektor ekonomi.

“Kinerja BCA pada paruh pertama 2026 ditopang berbagai hal, seperti BCA Expoversary 2026 dan penyaluran kredit produktif ke berbagai sektor,” ujarnya dalam paparan, Selasa (28/7/2026).

Dalam hal manajemen risiko, BCA sanggup menjaga kualitas portofolio kreditnya dengan tingkat LAR sebesar 4,9 persen serta persentase NPL di kisaran 1,9 persen.

Kekuatan utama struktur pendanaan BCA tercermin dari porsi CASA yang tumbuh 10,2 persen YoY menjadi Rp1.082 triliun dari total DPK sebesar Rp1.284 triliun (porsi CASA mencapai 84,3 persen).

Selain dari penyaluran kredit, pemasukan nonbunga BCA terkumpul Rp13,2 triliun hingga Juni 2026 atau naik 11 persen YoY, yang terakselerasi berkat pemanfaatan platform digital seperti aplikasi MyBCA.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index