JAKARTA - Banyak orang mengira sosok cerdas selalu identik dengan figur yang super produktif, teratur, cepat bertindak, dan sanggup menuntaskan beragam pekerjaan dalam satu waktu.
Namun, tingkat kecerdasan sesungguhnya tidak selalu diukur dari seberapa padat rutinitas harian seseorang.
Sebaliknya, beberapa perilaku yang terkesan santai atau malas justru memperlihatkan kelihaian seseorang dalam menghemat energi, menetapkan prioritas, dan memanfaatkan daya secara optimal.
Perilaku semacam ini tidak lantas menandakan seseorang enggan bekerja keras.
Bisa jadi, langkah tersebut merupakan strategi cerdas untuk memangkas proses yang tidak krusial sekaligus menjaga performa otak dalam jangka panjang.
Merujuk pada penjelasan Psychology Today, ada tiga perilaku yang acap kali disalahartikan sebagai kemalasan, padahal mencerminkan kecerdasan.
Pertama, enggan menanggapi setiap persoalan. Sikap mengabaikan komentar, menghindari gesekan, atau membiarkan masalah berlalu sering dianggap apatis.
Padahal, pilihan tersebut menunjukkan tingginya kecerdasan emosional dalam memilah mana isu yang benar-benar bernilai untuk ditanggapi.
Penelitian di jurnal Frontiers in Public Health tahun 2025 mengungkapkan bahwa kecerdasan emosional tinggi mempermudah seseorang mengelola tekanan psikologis.
Salah satu mekanismenya adalah melepaskan diri secara mental dari pemicu stres setelah urusan selesai, yang berdampak positif pada kesehatan jiwa.
Sebagai gambaran, saat dikritik atasan, ada orang yang terus kepikiran seharian.
Namun, individu yang cerdas emosional akan mengambil esensi bermanfaat dari kritik itu lalu lanjut beraktivitas tanpa beban.
Sikap ini bukan bentuk tidak peduli, melainkan cara menghemat energi mental dari hal-hal yang tidak penting.
Kedua, mengupayakan cara kerja yang lebih efisien. Enggan melakukan proses rumit tidak serta-merta mencerminkan etos kerja yang rendah.
Langkah memotong alur kerja, memanfaatkan otomatisasi, atau memilih metode paling sederhana justru bertujuan meraih hasil optimal dengan energi seminimal mungkin.
"Mengambil jalan pintas, mengotomatiskan tugas, atau memilih jalur yang paling mudah sering dianggap sebagai tindakan curang. Padahal, kenyataannya hal itu dapat mencerminkan sesuatu yang jauh lebih canggih: efisiensi," jelas psikolog asal Amerika Serikat, Mark Travers, Ph.D.
Hal ini sejalan dengan penelitian di jurnal Neuroscience & Biobehavioral Reviews tahun 2009 tentang efisiensi saraf.
Teori tersebut menerangkan bahwa individu berintelegensi tinggi menunjukkan aktivitas otak yang lebih rendah saat menyelesaikan tugas kognitif tertentu karena kerja otak yang lebih efisien.
Artinya, hasil kerja yang sama tidak selalu menuntut usaha fisik yang lebih keras selama seseorang mampu membaca pola dan mengeksekusi strategi yang pas.
Dalam dunia kerja, sebagian orang menghabiskan durasi lama secara manual, sementara lainnya memilih menyederhanakan alur dan mengotomatiskan bagian berulang.
Dari luar, ini seperti mencari jalur gampang, padahal itu bukti kemampuan memahami sistem secara menyeluruh demi mencapai target secara efektif.
Ketiga, membiasakan istirahat atau tidur siang. Durasi tidur yang lebih panjang atau menyempatkan tidur siang kerap dituding malas.
Padahal, istirahat yang cukup sangat krusial untuk menjaga fungsi kognitif dalam menunjang aktivitas harian.
Riset tahun 2015 di jurnal Scientific Reports menemukan hubungan positif antara kecerdasan fluid dan durasi sleep spindles saat tidur.
Sleep spindles merupakan gelombang impuls otak yang berperan penting dalam proses pemantapan ingatan serta pembelajaran.
Temuan ini mematahkan anggapan bahwa orang sukses wajib bekerja hingga larut malam dan mengorbankan istirahat demi predikat produktif.
Sebaliknya, kecukupan tidur membantu otak mengonsolidasi memori, mengelola emosi, serta memecahkan masalah.
Sebaliknya, kurang tidur justru merusak konsentrasi, memperburuk pengambilan keputusan, dan mengganggu kestabilan emosi.
Oleh karena itu, orang yang memilih tidur lebih awal atau tidur siang bukan berarti bermalas-malasan, melainkan berupaya menjaga kapasitas fisik serta mental tetap berada di kondisi puncak.