JAKARTA - Kementerian Perdagangan memberikan kemudahan bagi para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk memasarkan produknya ke pasar internasional melalui skema program business matching yang mempertemukan mereka dengan calon pembeli serta mitra strategis secara daring.
Menteri Perdagangan Republik Indonesia Budi Santoso membeberkan bahwa para pelaku UMKM yang siap menjangkau pasar ekspor akan didampingi langsung oleh pihak pemerintah lewat jaringan Atase Perdagangan maupun kantor Indonesia Trade Promotion Center (ITPC) di 33 negara.
"Jadi, pelaku UMKM cukup presentasi secara daring, mau pakai bahasa Jawa, bahasa Indonesia bebas, nanti kami yang menerjemahkan," kata Mendag Budi Santoso saat kunjungan kerja di Banyuwangi, Jawa Timur, Jumat.
Budi menggambarkan, bilamana terdapat pelaku usaha yang berniat mengekspor komoditasnya ke Amerika Serikat, mereka akan dihubungkan secara virtual untuk memaparkan produknya bersama Atase Perdagangan di Los Angeles maupun Chicago.
Langkah pendampingan ini menjadi bukti nyata komitmen pemerintah dalam memfasilitasi penetrasi produk lokal menuju pasar global, mulai dari Tiongkok, Jepang, kawasan Eropa, hingga berbagai belahan dunia lainnya.
Mendag Budi memaparkan bahwa pada periode 2025 lalu, perolehan nilai transaksi dari agenda business matching menembus angka 134,8 juta dolar AS.
Capaian tersebut melonjak signifikan pada kurun Januari hingga Juli 2026, di mana nilai transaksi dagang telah menyentuh angka 333 juta dolar AS.
"?Itu 70 persen belum pernah ekspor, apalagi kalau pelaku UMKM ini sudah ekspor, lebih mudah lagi. Karena kalau belum pernah ekspor harus kami ajari dari awal, mulai pelatihan, kemudian standardisasi produknya," katanya.
Budi menambahkan bahwa Kementerian Perdagangan sejauh ini telah menjalin beragam kesepakatan dagang guna membuka lebar pintu pasar internasional, salah satunya dengan pihak Amerika Serikat.
"Kenapa dengan Amerika? Kami itu dengan Amerika surplus 18,11 miliar dolar AS, dan ekspor kami tahun lalu itu mencapai 30,9 miliar dolar AS. Jadi kalau kami berdagang ke Amerika Serikat itu menguntungkan kami, karena selalu surplus," katanya.
Ia mengutarakan bahwa perintisan kerja sama perdagangan antara Indonesia dan Amerika Serikat telah diinisiasi sejak 1996 atau kurang lebih 30 tahun silam.
"Tetapi baru berhasil kemarin ketika Bapak Presiden Prabowo punya komitmen untuk melakukan perjanjian kerja sama," kata Budi Santoso.