Ini Alasan Berat Badan Berlebih Bikin Sendi Lutut Cepat Aus

Ini Alasan Berat Badan Berlebih Bikin Sendi Lutut Cepat Aus
Ilustrasi Nyeri Pada Lutut.

JAKARTA — Obesitas bukan sekadar berkaitan dengan peningkatan risiko serangan jantung maupun penyakit metabolik. Berat badan berlebih juga dapat memaksa lutut bekerja ekstra keras sehingga meningkatkan risiko terjadinya osteoartritis (OA) lutut, yaitu gangguan kronis yang sanggup mengganggu mobilitas hingga kegiatan harian.

Tiap kali seseorang berdiri, melangkah, atau beraktivitas, lutut memikul bobot tubuh. Pada individu dengan kondisi obesitas, beban yang ditumpu oleh sendi tentu tergolong jauh lebih berat. Meski begitu, persoalannya tak berhenti pada beban fisik semata. Jaringan lemak juga memproduksi bermacam zat pemicu peradangan yang turut memengaruhi kesehatan sendi.

Dokter spesialis bedah ortopedi dan traumatologi Ihsan Oesman mengutarakan bahwasanya OA lutut merupakan gangguan kesehatan kronis yang berkembang secara perlahan. Pada orang dengan obesitas, tingkat risiko hingga memburuknya OA lutut dipengaruhi oleh perpaduan beban mekanis yang lebih berat pada area sendi serta faktor biologis dari jaringan lemak.

"Pengelolaan berat badan yang tepat dan komprehensif merupakan bagian penting dalam membantu mengurangi beban pada sendi lutut," ujar Ihsan dalam keterangannya, saat diskusi media yang digelar Novo Nordisk Indonesia bersama sejumlah pakar kesehatan.

Ihsan menjelaskan, penyesuaian pola makan, olahraga yang tepat, serta modifikasi perilaku menjadi dasar krusial dalam kontrol berat badan. Kendati demikian, langkah tersebut tidak senantiasa mudah diterapkan oleh penderita obesitas.

Rasa nyeri di area lutut serta hambatan pergerakan, contohnya, dapat menyulitkan seseorang untuk terus aktif secara fisik. Di sisi lain, munculnya rasa lapar atau dorongan menyantap makanan yang berulang juga menjadi tantangan tersendiri sewaktu berusaha mengubah pola makan.

"Karena obesitas merupakan penyakit kronis yang kompleks, pada sebagian individu dengan obesitas, perubahan gaya hidup saja mungkin belum memberikan hasil yang memadai," katanya.

Pada situasi tertentu, tim medis dapat mempertimbangkan intervensi penanganan medis, termasuk pemberian terapi obat untuk kontrol berat badan, dengan memperhatikan indikasi, rekam klinis, serta kebutuhan tiap pasien.

Penurunan 10 Persen Bantu Redakan Gejala

Pengendalian berat badan sanggup menjadi salah satu elemen penting dalam pendekatan menyeluruh untuk membantu meringankan gejala OA lutut. Penurunan bobot badan sebesar 10 persen dinilai mampu menghadirkan perbaikan gejala yang nyata bagi sebagian penderita obesitas dan OA lutut.

Salah satu bukti tersebut terlihat melalui riset selama 16 minggu yang melibatkan 175 lansia wanita dengan obesitas dan OA lutut. Sebagian besar partisipan berhasil memangkas berat badan lebih dari 10 persen. Sebanyak 64 persen peserta merasakan perbaikan gejala yang signifikan, termasuk pada intensitas nyeri serta kemampuan menjalankan kegiatan harian.

Hasil lain ditunjukkan melalui uji klinis STEP OA yang memperlihatkan bahwa penanganan obesitas berbasis terapi GLP-1 sanggup memicu penurunan signifikan pada tingkat nyeri lutut berdasarkan indikator WOMAC pain score, sekaligus meningkatkan fungsi fisik harian dibanding plasebo.

Temuan ini membuktikan bahwa pengendalian berat badan dapat menjadi bagian dari penanganan guna membantu mengurangi gejala serta memulihkan fungsi fisik penderita obesitas dan OA lutut.

Meskipun begitu, penanganan OA tetap wajib dijalankan secara menyeluruh serta disesuaikan dengan kondisi tiap pasien berdasarkan petunjuk dokter. Sejumlah acuan medis internasional juga menempatkan edukasi, kontrol berat badan, serta aktivitas fisik sebagai bagian vital dalam pengobatan OA lutut.

Dokter spesialis kedokteran olahraga, Andhika Raspati mengingatkan bahwa tolok ukur keberhasilan penanganan berat badan tidak semestinya sebatas berpatokan pada penurunan angka di timbangan. Perhatian utama juga perlu diarahkan pada upaya memangkas massa lemak sambil mempertahankan massa otot.

Penurunan berat badan yang melulu mengandalkan pemangkasan porsi makan tanpa diimbangi olahraga berisiko mengikis massa otot. Situasi ini sanggup menurunkan kondisi kebugaran sekaligus mendongkrak risiko berat badan melonjak kembali.

"Karena itu, kombinasi latihan kardio untuk membantu meningkatkan pembakaran kalori dan latihan kekuatan untuk mempertahankan massa otot menjadi bagian penting dalam program pengelolaan berat badan," kata dia.

Guna membantu penderita obesitas dan OA lutut, latihan fisik sebaiknya diawali dari aktivitas berdampak rendah atau low-impact dengan beban ringan. Tingkat intensitas latihan lantas dapat dinaikkan secara bertahap memegang prinsip start low, go slow.

Latihan aerobik secara umum dapat dilakukan berdurasi sekitar 30 menit per hari sebanyak lima hari dalam seminggu atau total 150 menit per minggu. Durasi latihan dapat ditingkatkan perlahan hingga mencapai 250-300 menit per minggu untuk menyokong proses pemangkasan berat badan.

"Sementara itu, latihan kekuatan dapat dilakukan dua hingga tiga kali dalam seminggu dengan peningkatan beban secara bertahap sesuai kemampuan," kata dia.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index