Bantaran BKT Disulap Jadi Lahan Pertanian Produktif dan Bernilai Ekonomi

Kamis, 05 Februari 2026 | 09:16:35 WIB
Bantaran BKT Disulap Jadi Lahan Pertanian Produktif dan Bernilai Ekonomi

JAKARTA - Pemanfaatan ruang kota yang berkelanjutan menjadi tantangan tersendiri di wilayah perkotaan padat seperti Jakarta. 

Di tengah keterbatasan lahan, bantaran sungai dan kanal yang sebelumnya kerap dianggap area terabaikan kini mulai menunjukkan fungsi baru. Salah satu contohnya terlihat di sepanjang bantaran Banjir Kanal Timur (BKT), yang perlahan berubah menjadi kawasan pertanian urban hasil inisiatif warga sekitar.

Bentangan BKT dari Cakung, Jakarta Timur, hingga Rorotan, Jakarta Utara, kini menampilkan wajah berbeda. Di sejumlah titik, lahan di tepi kanal tampak hijau oleh tanaman sayur dan buah. 

Meski tidak seluruh area tertutup tanaman sebagian masih berupa tanah yang dibagi petak-petak dan sebagian lain terendam akibat debit air yang meningkat kehadiran pertanian ini memberi kesan kawasan yang lebih hidup dan terawat dibandingkan sebelumnya.

Inisiatif Warga Menghidupkan Bantaran Kanal

Lahan pertanian di bantaran BKT dikelola secara mandiri oleh warga tanpa program resmi dari pemerintah. Warga memanfaatkan ruang yang tersedia sesuai kemampuan dan pengalaman masing-masing. Inisiatif ini tumbuh secara alami, berangkat dari kebutuhan hidup sekaligus keinginan menjaga lingkungan sekitar tetap asri.

Salah satu warga yang telah lama memanfaatkan bantaran BKT adalah Saripudin (70). Ia mengaku mulai berkebun di kawasan tersebut sejak 1987, ketika bantaran kanal masih jarang dilirik warga. Saat itu, lahan di tepi aliran air masih terbengkalai dan belum dianggap memiliki nilai guna.

Seiring berjalannya waktu, semakin banyak warga yang ikut bercocok tanam di bantaran BKT. Kondisi ini membuat lahan yang sebelumnya kosong kini terbagi menjadi petak-petak garapan, masing-masing dikelola oleh petani dengan luas berbeda-beda.

Ragam Komoditas dan Pola Bertani Warga

Saripudin mengelola lahan seluas sekitar 2.000 meter persegi. Di atas lahan tersebut, ia menanam beragam jenis tanaman buah dan pangan yang disesuaikan dengan kondisi tanah dan aliran air di sekitar BKT.
"Menanamnya itu timun suri, pisang, singkong, dan labu," ujar Saripudin.

Selain Saripudin, warga lain bernama Lemed (60) juga memanfaatkan bantaran BKT untuk bercocok tanam selama sekitar tiga tahun terakhir. Namun, bertani bukanlah pekerjaan utama Lemed. Ia lebih banyak menggantungkan hidup dari mencari ikan di aliran BKT.

Setiap harinya, Lemed dapat memperoleh ikan sekitar 10 hingga 15 kilogram yang kemudian dijual kepada warga yang melintas di kawasan tersebut.
"Tergantung ikannya, Rp 150.000-200.000 dapat," tutur dia.

Meski penghasilannya lebih banyak berasal dari menangkap ikan, Lemed tetap menanam singkong di lahan seluas sekitar 50 meter persegi di bantaran BKT. Kebun singkong itu tumbuh subur dan dapat dipanen setiap sembilan bulan sekali, sekaligus memperindah area yang menjadi lokasi favoritnya mencari ikan.

Potensi Ekonomi dan Ketahanan Pangan Lokal

Dosen Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM), Bayu Dwi Apri Nugroho, menilai pemanfaatan bantaran BKT sebagai lahan urban farming merupakan langkah positif yang patut dikembangkan. Menurutnya, dari sisi lahan dan kondisi lingkungan, kawasan tersebut memiliki potensi yang cukup besar.

"Kalau dilihat dari lahan dan kondisi lingkungannya, memang sangat prospektif untuk dikembangkan," ucap Apri saat dihubungi Kompas.com, Selasa.

Ia menjelaskan bahwa pertanian di bantaran BKT tidak hanya berdampak pada aspek lingkungan, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru bagi warga sekitar. Hasil pertanian dapat dijual untuk menambah pendapatan atau dikonsumsi sendiri.

"Dari sisi ekonomi tentunya menguntungkan, ada income atau pendapatan bagi masyarakat sekitar," kata dia.

Konsumsi hasil pertanian sendiri juga membantu mendukung ketahanan pangan wilayah tersebut. Dengan memanfaatkan lahan di sekitar tempat tinggal, warga tidak sepenuhnya bergantung pada pasokan dari luar untuk memenuhi kebutuhan sayur dan buah.

Tantangan Banjir dan Pencemaran Lingkungan

Meski berpotensi, pertanian di bantaran BKT menghadapi tantangan besar, terutama banjir. Perubahan iklim dan cuaca yang tidak menentu membuat kawasan bantaran kanal rawan terendam air.

"Dengan cuaca yang tidak menentu, kemudian juga dampak perubahan iklim, ini menyebabkan lahan urban farming di BKT menjadi rawan kebanjiran," ucap Apri.

Banjir yang datang berulang kali dapat menyebabkan gagal tanam atau gagal panen. Selain itu, tanaman juga berisiko terpapar limbah yang mengalir di BKT. Air limbah dapat menyebabkan tanaman tidak tumbuh optimal, ditandai dengan daun menguning dan hasil panen yang menurun.

Limbah padat masih bisa dikurangi dengan membuat penahan atau jeruji di lahan yang berbatasan langsung dengan sungai. Namun, limbah cair lebih sulit dikendalikan karena bergantung pada kondisi aliran air di kanal.

Perencanaan Tanam dan Peran Pemerintah

Untuk mengurangi risiko banjir, Apri menyarankan penyesuaian kalender tanam. Dengan mengetahui pola musim, petani dapat menentukan waktu tanam yang lebih aman.

"Mungkin yang bisa dilakukan adalah penyesuaian kalendar tanamnya, artinya kita harus tahu musim saat menanam," jelas dia.

Penanaman sebaiknya dilakukan secara intensif pada musim kemarau, ketika risiko banjir lebih rendah. Petani juga disarankan memanfaatkan prediksi cuaca dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sebagai acuan.

Dari sisi jenis tanaman, Apri merekomendasikan tanaman bernilai ekonomis yang cocok dengan lingkungan sungai, seperti kangkung dan selada. Tanaman penahan erosi seperti bambu juga penting, meski tidak memiliki nilai jual tinggi.

Meski selama ini kegiatan bertani dilakukan secara mandiri, peran pemerintah tetap dibutuhkan. Pemerintah dapat memberikan pendampingan, edukasi pola tanam, bantuan sarana produksi, hingga dukungan pemasaran hasil panen agar pertanian di bantaran BKT dapat berkembang lebih tertata dan berkelanjutan.

Terkini