Catatan KAI Mengenai 5 Rute Kereta Api Terindah di Dalam Negeri

Minggu, 19 Juli 2026 | 20:42:31 WIB
Ilustrasi Kereta KAI.

JAKARTA - Aktivitas bepergian menumpang moda transportasi kereta api saat ini tidak lagi sebatas urusan mobilitas menuju ke suatu wilayah tujuan. Kegiatan ini telah bertransformasi menjadi sarana rekreasi untuk menghayati panorama elok tanah air.

Semenjak menempati kursi di dalam gerbong, para penumpang langsung disuguhi momentum rileksasi dengan melihat suguhan lanskap alam di balik jendela kaca kereta.

Kondisi tersebut dimungkinkan karena terdapat sejumlah rute perjalanan yang memiliki titik pemandangan terbaik, sehingga dinilai sangat layak untuk diabadikan dalam bentuk dokumentasi.

Pihak PT Kereta Api Indonesia (Persero) memberikan rekomendasi mengenai lima jalur perkeretaapian paling menawan di Indonesia yang menjanjikan pengalaman perjalanan berkesan bagi para pelancong.

Daftar kelima rute perjalanan indah ini dipublikasikan oleh manajemen KAI lewat akun media sosial Instagram resminya @kai121_ pada hari Kamis (16/7/2026).

Seluruh jalur rel yang direkomendasikan tersebut tercatat sudah beroperasi semenjak kurun waktu tahun 1800-an hingga tahun 1900-an, di mana salah satu rutenya melintasi area stasiun tertinggi di tanah air.

Para pengguna jasa dapat menikmati sensasi lintasan area pegunungan yang megah, lorong terowongan sarat nilai sejarah, sampai infrastruktur jembatan ikonis yang memanjakan mata di sepanjang perjalanan.

Di kala melewati kelima rute ini, pandangan mata penumpang akan dimanjakan oleh barisan gunung menjulang, jembatan legendaris, terowongan kuno, hingga hamparan area persawahan serta wilayah perkebunan hijau.

Rincian Pertama, Jalur Cicalengka menuju Tasikmalaya yang telah aktif sejak tahun 1887 hingga tahun 1894. Lintas pegunungan legendaris ini menyajikan pemandangan Stasiun Nagreg selaku stasiun aktif paling tinggi di Indonesia.

Selain itu, terdapat panorama lereng Gunung Mandalawangi, bentangan sawah di Garut, Tikungan Tapal Kuda Kadungora, serta Stasiun Cipeundeuy yang menjadi tempat pemberhentian wajib bagi armada untuk pengecekan fungsi rem.

Rincian Kedua, Jalur Blitar menuju Malang hingga Bangil yang beroperasi pada kurun tahun 1878 sampai tahun 1897. Jalur kantong ini memadukan nilai historis dengan keindahan alam eksotis.

Penumpang disuguhi pemandangan Jembatan Lahir, Terowongan Karangkates 1 dan 2, Bendungan Ir Sutami, hingga lanskap Gunung Semeru, Gunung Bromo, Gunung Arjuno, serta Gunung Welirang termasuk Kampung Warna-Warni di Malang.

Rincian Ketiga, Jalur Prupuk menuju Bumiayu, Purwokerto, hingga Kroya yang mulai dibuka berkisar pada tahun 1916 sampai tahun 1917 sebagai perlintasan utama di area Selatan Jawa.

Jalur penghubung kota-kota besar ini menawarkan keindahan barisan perbukitan kaki Gunung Slamet, kemegahan Jembatan Sakalibel, aliran Sungai Serayu, hingga Terowongan Notog dan Terowongan Kembar Kebasen.

Rincian Keempat, Jalur Jember menuju Banyuwangi yang beroperasi dari tahun 1897 hingga tahun 1903 dengan menonjolkan keasrian wilayah hutan serta perkebunan khas di ujung timur Pulau Jawa.

Para pelancong akan ditemani oleh pemandangan dari Gunung Gumitir, Terowongan Garahan, Terowongan Merawan, pesona Gunung Raung serta Gunung Ijen, ditambah barisan pohon kelapa yang estetik sepanjang jalan.

Rincian Kelima, Jalur Purwokerto menuju Padalarang yang membentang sejak tahun 1906. Rute legendaris penghubung Jakarta dan Bandung ini menyajikan rupa-rupa lanskap alam yang memukau.

Perjalanan komuter pada rute ini akan dihiasi oleh eksotisme wilayah pegunungan Priangan, struktur Jembatan Cikupang dan Cisomang yang membelah lembah dalam, serta kegelapan Terowongan Sasaksaat yang ikonis.

Terkini