Catatan OJK Terkait Kredit Mobil Baru dan Bekas yang Tengah Melemah

Minggu, 19 Juli 2026 | 20:49:31 WIB
Ilustrasi Kredit Kendaraan.

JAKARTA - Sektor bisnis pembiayaan atau multifinance nasional dihadapkan pada situasi menantang pada 2026 ini akibat maraknya gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) yang berimbas langsung pada serapan kredit otomotif.

Tekanan pasar ini terlihat dari menurunnya grafik penyaluran kredit untuk unit roda empat baru maupun seken, walau secara umum akumulasi piutang modal kerja industri masih bergerak naik hingga Mei 2026.

Berdasarkan data statistik Otoritas Jasa Keuangan (OJK), total kucuran dana pembiayaan otomotif dari multifinance menyentuh angka Rp402,49 triliun pada Mei 2026, atau turun 1,44 persen secara tahunan.

Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, LKM dan LJK Lainnya OJK, Agusman, menerangkan bahwa penurunan yang lebih signifikan terjadi pada lini segmen mobil baru dan bekas.

“Sementara itu, pembiayaan mobil baru dan bekas terkontraksi 3,61% YoY menjadi Rp232,74 triliun,” tutur Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, LKM dan LJK Lainnya OJK Agusman dalam lembar jawaban RDK OJK Juni 2026, dikutip pada Minggu (19/7/2026).

Menurut pandangan Agusman, pergeseran kondisi makroekonomi termasuk tingginya angka pemecatan karyawan berisiko menahan minat serta daya beli kelompok masyarakat dalam mengajukan kredit kendaraan.

Oleh sebab itu, pelaku usaha multifinance diprediksi masih harus melewati rintangan yang cukup berat sepanjang sisa periode tahun ini untuk menjaga target bisnis mereka.

Kendati demikian, OJK menilai prospek ekspansi pasar masih terbuka lebar mengingat keperluan mendasar kelompok konsumen terhadap kepemilikan sarana transportasi pribadi dinilai masih relatif tinggi.

“Oleh karena itu, perusahaan pembiayaan terus didorong untuk memperkuat kualitas penyaluran dan penerapan prinsip kehati-hatian guna menjaga kinerja industri tetap sehat dan berkelanjutan,” ucap Agusman.

Di balik melesunya penyerapan segmen kendaraan, total portofolio piutang pembiayaan dari industri multifinance secara menyeluruh terpantau masih memperlihatkan performa yang positif.

OJK mendokumentasikan nilai piutang pembiayaan mampu menembus nominal Rp513,19 triliun selama lima bulan pertama 2026, yang berarti terapresiasi sebesar 1,71 persen dari capaian periode sama tahun lalu.

Agusman berpendapat kans bagi pelaku usaha untuk memacu laju pertumbuhan bisnis hingga akhir tahun nanti masih sangat terbuka melalui diversifikasi produk ke berbagai lini segmen potensial.

Berdasarkan rilis data resmi otoritas, pos kredit multiguna keluar sebagai penopang utama dengan kontribusi paling masif dalam ekosistem industri pembiayaan pada Mei 2026.

Rapor nilainya bertengger di angka Rp256,77 triliun atau sukses melompat 5,21 persen secara tahunan, disusul lini pembiayaan modal kerja yang melonjak 7,96 persen menjadi Rp55,36 triliun.

Berkebalikan dengan tren tersebut, pos pembiayaan investasi justru tersungkur dengan mencatatkan penurunan sebesar 5,79 persen secara tahunan ke posisi Rp168,06 triliun.

“Adapun, besaran plafon dan agunan pembiayaan multiguna bervariasi sesuai skema dan objek pembiayaan,” ucap Agusman.

Walau pembiayaan kendaraan sedang lesu, OJK tetap menaruh keyakinan kuat bahwa industri multifinance mempunyai bekal untuk bangkit hingga penutupan 2026 lewat manajemen risiko yang baik.

Terkini