Wamenko Pangan sebut Kenaikan Harga Telur Dipicu Permintaan MBG

Senin, 20 Juli 2026 | 01:08:02 WIB
Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan Hanif Faisol Nurofiq

JAKARTA - Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan Hanif Faisol Nurofiq memberikan respons atas melonjaknya harga telur ayam ras di pasar tradisional pada beberapa hari belakangan.

Kenaikan harga bahan pangan tersebut dinilai tidak lepas dari tingginya angka permintaan pasca Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali diaktifkan bertepatan dengan dimulainya tahun ajaran baru.

Hanif menerangkan bahwasanya pergerakan tarif harga telur merupakan bentuk konsekuensi dari dinamika keseimbangan antara pasokan dengan tingkat permintaan.

Saat grafik permintaan menurun, harga pasokan telur akan cenderung ikut terkoreksi, dan begitu pula sebaliknya jika permintaan mengalami lonjakan.

"Ada supply dan demand-nya itu pada saat kemudian supply dan demand-nya ini kami lepas. Demikian, maka demand-nya pada saat turun memang kemudian harganya akan jauh turun," ujar Hanif saat ditemui media, Senin (20/7/2026).

Ia memandang tren kenaikan harga telur yang terjadi belakangan ini masih tergolong dalam batas wajar.

Pasalnya, harga yang terbentuk di pasaran dianggap masih mencerminkan titik temu ideal antara biaya produksi peternak serta daya beli konsumsi masyarakat.

Selain itu, bergulirnya kembali Program MBG menjadi bukti nyata bahwasanya serapan permintaan pasokan telur mulai terkatrol naik.

"Jadi saya rasa kenaikan hari ini ya kami maklumi sebagai suatu pergerakan demand dengan maksudnya anak-anak sekolah yang kemudian mau tidak mau, suka tidak suka pengaruh dampak MBG ini demikian terasa bahkan dari telur saja," sebut Hanif.

Sekadar informasi, bersumber pada sajian data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Nasional Bank Indonesia per Senin (20/7/2026) sore, harga rata-rata telur ayam ras segar di pasar tradisional terangkat 2,07 persen menuju Rp29.550 per kilogram.

Terkini