JAKARTA - Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian menegaskan bahwa pemberlakuan mandatori penerapan biodiesel 50 persen (B50) tidak berdampak pada penurunan volume ekspor minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) Indonesia.
Staf Ahli Bidang Konektivitas dan Pengembangan Jasa Kemenko Bidang Perekonomian Dida Gardera mengutarakan bahwasanya hal ini dapat tecermin dari rekam jejak Indonesia saat beralih dari B35 menuju B40 pada 2025.
“Kebutuhan biodiesel dari tahun 2024, kami masih menerapkan B35, lalu tahun 2025 kami menerapkan B40. Itu kebutuhan sawitnya itu meningkat sekitar 3-4 juta kiloliter (KL). Tapi di tahun yang sama, dari 2024 ke tahun 2025, ekspor kami juga meningkat 3-4 juta KL,” kata Dida.
“Nah ini kan artinya kami tetap menjaga ke semuanya, ekspor tidak berkurang, karena itu kan menjadi insentif buat biodiesel,” ujarnya menambahkan.
Dida menyampaikan, pihak pemerintah menempatkan program B50 sebagai salah satu agenda prioritas utama bersama penyediaan pasokan minyak goreng dan penguatan kegiatan perkebunan rakyat.
Ia pun memastikan koordinasi lintas kementerian maupun lembaga, termasuk bersama Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP), terus terjalin erat guna menyukseskan ketiga skala prioritas tersebut.
“Jadi itu yang kami tentu nanti, kami akan melihat, mengevaluasi setiap saat. Tapi sejauh ini, tadi dari sisi volume (CPO), ternyata bisa memenuhi semua kebutuhan. Nah dari sisi anggaran juga, alhamdulillah cashflow-nya masih cukup,” ujar Dida.
Sebagai informasi, pemerintah secara resmi menetapkan mandatori B50 mulai Juli 2026 demi menekan angka emisi karbon sekaligus mewujudkan ketahanan energi nasional secara mandiri.
Di samping memangkas emisi karbon, kebijakan B50 diproyeksikan mampu menghemat devisa negara hingga kisaran Rp170 triliun pada 2026, meningkatkan nilai tambah CPO, serta menyerap 2,1 juta tenaga kerja.
Dida memaparkan bahwasanya kesiapan teknis pelaksanaan B50 saat ini tengah berproses secara berkesinambungan.
Masa transisi selama tiga bulan dialokasikan agar tiap perusahaan memiliki ruang waktu untuk menghabiskan sisa stok B40 sekaligus mengondisikan proses pencampuran (blending) ke B50.
“Terkait dengan B50 sudah diluncurkan sekitar 2 minggu yang lalu oleh Bapak Presiden (Prabowo Subianto), dan ini sudah siap semua di lapangan,” kata Dida.
“Tapi tentu ada proses transisi, karena masih ada stock atau sisa dari B40. Tapi secara prinsip ini sudah berjalan dan insya Allah terus kami pantau, kami evaluasi,” ujar dia menambahkan.