Mengembangkan Empati Anak Sejak Dini Melalui Kebiasaan di Rumah

Senin, 20 Juli 2026 | 04:31:31 WIB
Ilustrasi Empati Anak.

JAKARTA — Membesarkan anak yang tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga memiliki kebaikan hati serta rasa welas asih, kini menjadi fokus utama banyak orang tua.

Psikolog anak di Sunset Terrace Family Health Center NYU Langone, Joseph Laino, mengamini hal tersebut sebagai investasi pengasuhan yang sangat berharga.

"Keterampilan lunak seperti empati, kasih sayang, dan kemurahan hati tidak saling bertentangan dengan keterampilan akademis. Bahkan, ketiganya saling memperkuat," ujar Laino.

Ketika anak belajar memahami perspektif orang lain dan menyelesaikan perbedaan dengan empati, mereka membentuk kecakapan penting untuk berkembang di pelbagai aspek kehidupan.

"Jika mereka lebih kooperatif dengan guru dan teman sebaya, itu dapat membantu mereka mendapatkan hasil maksimal dari pendidikan dan memiliki pengalaman yang lebih memuaskan," ujar Laino.

Selain itu, kepedulian terhadap sesama turut membangun rasa percaya diri anak.

"Memberi, berbuat baik, dan peduli pada orang lain meningkatkan rasa percaya diri dan dapat memberikan rasa tujuan hidup," tambah Laino.

Untuk membentuk pribadi anak yang penuh empati di era digital, prosesnya dapat dimulai dari kebiasaan harian di rumah.

Pertama, meneladankan kebaikan sejak dini karena bayi sudah dapat menyerap isyarat emosional melalui nada suara, ekspresi wajah, serta respons orang tua terhadap situasi sekitar.

Kedua, memanfaatkan media cerita atau buku yang sesuai dengan usia anak untuk membuka wawasan mereka mengenai kondisi kehidupan orang lain.

Ketiga, menyampaikan situasi krisis atau Isu dunia secara bijak tanpa menimbulkan ketakutan pada anak.

"Anak-anak sering kali memahami lebih banyak daripada yang kami sadari. Ambil inisiatif dan jelaskan dengan cara sesuai usia soal apa yang terjadi di tempat-tempat seperti Ukraina, Gaza, dan zona krisis lainnya," ujar tim komunikasi UNHCR Andrea Mucino-Sanchez.

Ia menekankan agar penjelasan berfokus pada aspek keselamatan serta kehadiran para relawan yang memberikan bantuan.

"Misalnya, 'beberapa keluarga terpaksa meninggalkan rumah karena tidak aman, tapi orang-orang di seluruh dunia membantu mereka'," tambah Mucino-Sanchez.

Keempat, membantu anak menyadari keistimewaan yang dimilikinya agar tumbuh rasa syukur atas kehidupan yang damai.

"Bantu anak memahami bahwa tumbuh dalam kedamaian dan keamanan adalah sesuatu yang tidak dimiliki banyak anak. Dorong mereka untuk merasa bersyukur," ujar Mucino-Sanchez.

Kelima, menyediakan waktu berkualitas secara rutin, seperti saat makan malam bersama, untuk berdiskusi dan mendengarkan keluh kesah anak.

"Prioritaskan waktu bersama, sepert makan malam keluarga, untuk pelan-pelan membicarakan apa yang terjadi di dunia," ujar Mucino-Sanchez.

Keenam, mendorong anak untuk melakukan tindakan nyata, seperti berbagi barang atau membuatkan kartu ucapan bagi sesama yang membutuhkan.

"Memberi, berbuat baik, dan peduli pada orang lain meningkatkan rasa percaya diri dan dapat memberi anak rasa tujuan hidup," ujar Laino.

Terkini