Kebutuhan Durasi Tidur di Usia 60-an Tahun agar Otak Selalu Tajam

Kebutuhan Durasi Tidur di Usia 60-an Tahun agar Otak Selalu Tajam
Ilustrasi Lansia Tidur.

JAKARTA - Kualitas tidur yang terjaga secara konsisten menjadi salah satu kebiasaan vital dalam menopang kesehatan fisik maupun mental, baik jangka pendek maupun jangka panjang. Secara medis, kekurangan waktu istirahat memicu penurunan daya fokus, meredam kecepatan respons, serta menimbulkan kelelahan mental. Kondisi tersebut bahkan berpotensi mengikis emosi positif serta memperburuk suasana hati.

Dalam jangka panjang, gangguan tidur kronis berisiko memicu masalah kardiovaskular, penyakit metabolik seperti diabetes tipe 2 dan obesitas, hingga penurunan daya ingat.

Bagi individu yang telah memasuki usia 60 tahun ke atas, pergeseran pola istirahat yang memicu terbangun lebih awal mungkin terasa membingungkan. Padahal, pemenuhan waktu tidur yang cukup berperan sebagai benteng utama dalam melindungi fungsi otak di usia lanjut.

Pentingnya Tidur Berkualitas bagi Otak Lansia
Dosen Madya di Departemen Psikologi, College of Humanities and Sciences, Virginia Commonwealth University, Natalie Dautovich, PhD, menerangkan bahwa sewaktu seseorang lelap, otak bekerja keras mengonsolidasi memori, mengolah informasi baru, serta membersihkan sisa metabolik yang menumpuk sepanjang hari.

"Orang yang rutin mendapatkan tidur sehat cenderung memiliki performa lebih baik dalam tugas yang melibatkan perhatian, pembelajaran, dan memori," kata dia.

"Meski tidur bukanlah jaminan untuk mencegah penurunan kognitif, hal itu adalah bagian dari gaya hidup sehat bersama olahraga rutin, keterlibatan sosial, dan menjaga kesehatan kardiovaskular," sambung Dautovich.

Pandangan senada diutarakan oleh Ilmuwan Perilaku, Gerontolog, sekaligus Dosen Madya Keperawatan di Decker College of Nursing and Health Sciences, SUNY Binghamton, Heidi Ewen, PhD, FGSA, FAGHE. Menurutnya, fase tidur menjadi momentum bagi tubuh untuk benar-benar rileks sekaligus menata ulang sistem internal.

Merujuk pada publikasi ilmiah dalam jurnal Sleep Medicine Clinics, defisit tidur berlanjut dalam durasi panjang berkaitan erat dengan naiknya risiko penurunan kognitif, depresi, keterbatasan aktivitas harian, hingga potensi terjatuh.

Durasi Tidur yang Ideal bagi Usia Senja
Demi menekan potensi risiko kesehatan tersebut, kelompok dewasa berusia 60 tahun ke atas dianjurkan mencukupi durasi istirahat secara tepat. Dautovich menyarankan target waktu tidur berkisar antara tujuh sampai delapan jam tiap malam. Patokan ini sejalan dengan panduan yang dirilis National Sleep Foundation.

"Durasi tersebut adalah jumlah yang dikaitkan dengan kesehatan fisik, mental, dan kognitif terbaik bagi kebanyakan orang," ungkap dia.

Fase tidur menjadi kesempatan masif bagi tubuh serta otak untuk menjalankan pemulihan. Oleh sebab itu, pemenuhan istirahat secara konsisten efektif mendukung kebugaran emosi, kekebalan tubuh, memori, hingga kesehatan jantung.

Memahami Pergeseran Alami Pola Tidur Lansia
Memasuki umur senja, perubahan paling menonjol pada pola istirahat yaitu kecenderungan bangun lebih awal. Ewen menjelaskan bahwa ritme sirkadian manusia memang bergeser secara perlahan seiring bertambahnya usia. Hal ini menjawab alasan banyak lansia lebih cepat merasa mengantuk di malam hari dan terbangun lebih cepat di pagi hari.

"Perubahan waktu tidur ini terutama terjadi karena ritme sirkadian, atau jam tubuh internal kami, secara alami bergeser lebih awal seiring bertambahnya usia," tambah Dautovich.

Di samping itu, fase lelap lansia cenderung lebih ringan dan terpecah-pecah. Lantaran lansia menghabiskan porsi tidur nyenyak pada awal malam, tubuh mereka menjadi lebih gampang terbangun kala fajar tiba.

Ewen menegaskan bahwa terbangun lebih awal, porsi tidur malam yang lebih singkat, serta sesekali tidur siang merupakan ritme alami tubuh yang kerap terdistorsi oleh tuntutan rutinitas pekerjaan.

"Setelah kami pensiun atau anak-anak sudah dewasa, tubuh kami kembali ke ritme alami ini. Kebanyakan orang melaporkan merasa lebih segar atau lebih beristirahat dibandingkan saat muda," ucap dia.

Pada akhirnya, tidak ada patokan jam bangun yang kaku bagi tiap individu. Poin utamanya adalah terbangun dengan kondisi tubuh yang segar. Dautovich mengimbau agar keteraturan jam tidur dan bangun tetap dijaga. Apabila kualitas istirahat tetap terganggu atau bangun dalam kondisi lelah, konsultasi ke fasilitas kesehatan sangat disarankan.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index