Bank Emas Dinilai Mampu Perkuat Rantai Pasok dan Lindungi Inflasi

Rabu, 22 Juli 2026 | 22:43:32 WIB
Ekonom Nilai Bank Emas Perkuat Rantai Pasok dan Lindungi dari Inflasi [FOTO: NET].

JAKARTA - Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Esther Sri Astuti berpandangan bahwa bank emas mampu menghadirkan berbagai keuntungan strategis, mulai dari memperkuat rantai pasok komoditas emas, memperlebar akses investasi, hingga berfungsi sebagai sarana lindung nilai terhadap laju inflasi.

"Bank emas berperan penting dalam perekonomian global maupun lokal antara lain dampak dari berfungsinya ekosistem emas dengan baik atau peningkatan produksi emas," kata Esther dihubungi di Jakarta, Rabu.

Ia menguraikan bahwa merujuk pada hasil kajian pemerintah pada tahun 2025, eksistensi bank emas diyakini sanggup mendongkrak nilai tambah di dalam rantai pasok emas sekaligus memacu peningkatan hasil produksi emas di dalam negeri yang diproyeksikan menyentuh angka Rp201 triliun.

Di samping itu, pertumbuhan sektor industri emas juga mempunyai potensi besar dalam membuka kesempatan kerja baru bagi sekitar 801 ribu orang tenaga kerja. Sementara itu, cakupan layanan dari bank emas diperkirakan mampu mendongkrak volume peredaran uang hingga mencapai Rp23 triliun.

Esther memaparkan bahwa pembiayaan berbasis emas, fasilitas pinjaman logam emas, serta pembiayaan dore secara kumulatif berpeluang mendongkrak Produk Domestik Bruto (PDB) senilai Rp22,9 triliun.

Pada aspek yang berbeda, skema pembiayaan yang ditopang oleh emas ini pun sanggup memicu kenaikan konsumsi ritel hingga Rp22,8 triliun, di samping menggerakkan aktivitas investasi para pelaku usaha kecil dan menengah (UKM) sebesar Rp16,2 triliun.

Lebih lanjut, Esther mengungkapkan bahwa nilai tambah lain dari keberadaan bank emas adalah penyediaan akses yang jauh lebih terbuka bagi khalayak luas untuk melakukan investasi berbasis emas.

Selain memperluas kesempatan berinvestasi, Esther berpendapat bahwa logam mulia emas memiliki fungsi esensial sebagai aset aman (safe haven) yang diandalkan untuk menjaga aset kekayaan masyarakat dari gerusan inflasi.

"Emas dikenal sebagai pelindung nilai terhadap inflasi. Bank emas memungkinkan masyarakat untuk menyimpan kekayaan mereka dalam bentuk emas, yang memiliki daya tahan lebih baik dibandingkan dengan mata uang fiat yang dapat terdevaluasi akibat inflasi," jelasnya.

Ia menambahkan, operasional bank emas di tengah masyarakat juga berpotensi mengerek tingkat kepercayaan publik terhadap sistem keuangan nasional karena mampu menghadirkan opsi instrumen investasi yang cenderung lebih tahan banting di tengah situasi ekonomi yang penuh ketidakpastian.

Lebih jauh lagi, Esther menilai bahwa bank emas menyimpan prospek yang amat cerah untuk diintegrasikan ke dalam ekosistem industri perbankan syariah lantaran prinsip kerjanya dinilai selaras dengan ketentuan yang berlaku.

Kendati demikian, ia mengingatkan agar proses pengembangan bank emas tetap mewaspadai sejumlah kendala potensial, seperti dinamika fluktuasi harga emas di pasaran, besaran biaya layanan, hingga masih terbatasnya tingkat literasi dan inklusi keuangan di kalangan masyarakat.

Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto menyampaikan apresiasi tinggi terhadap operasional layanan bank emas nasional atau bullion bank yang sukses membukukan pencapaian gemilang dalam mengelola 153 ton emas dengan estimasi nilai tembus hingga 20 miliar dolar AS sejak resmi diluncurkan pada tahun 2025 lalu.

Kepala Negara tatkala memberikan arahan dalam forum Sidang Kabinet Paripurna bertempat di Istana Negara, Jakarta, pada hari Senin (20/7), menuturkan bahwa ada banyak catatan prestasi membanggakan yang berhasil diukir selama kurun waktu 20 bulan masa kepemimpinannya, termasuk di antaranya pembentukan layanan bank emas yang pengelolaannya dipercayakan kepada PT Pegadaian serta Bank Syariah Indonesia (BSI).

"Untuk pertama kali dalam sejarah Republik Indonesia, Indonesia punya bank emas, bullion, yang sekarang sudah mengelola 153 ton emas," kata Prabowo.

Halaman :

Terkini