JAKARTA - Kehidupan modern yang dipenuhi tekanan media sosial, pekerjaan, serta kekhawatiran ekonomi kerap membuat seseorang merasa lelah secara mental.
Studi terbaru mengungkapkan bahwa kondisi tersebut berkaitan dengan evolutionary mismatch atau ketidakcocokan antara lingkungan asal evolusi manusia dan kehidupan modern.
Otak manusia pada dasarnya berkembang dalam kelompok kecil, sedangkan era digital saat ini memaksa seseorang terhubung dengan sangat banyak orang.
Kondisi kota yang padat serta kebiasaan membandingkan diri di ruang digital dinilai menciptakan stres berkepanjangan, kecemasan, hingga rasa kesepian.
Persaingan sosial yang terjadi secara terus-menerus melalui media sosial juga membuat seseorang semakin rentan merasa dinilai atau tertinggal.
"Persaingan bukanlah sesuatu yang baru, tetapi kehidupan modern dapat membuatnya terasa terus-menerus," ujar dr. Jose Yong.
Selain media sosial, masyarakat modern juga dihadapkan pada situasi polikrisis, yaitu ketika berbagai tekanan terjadi secara bersamaan di saat yang sama.
Situasi tersebut mencakup perubahan iklim, ketidakpastian ekonomi, hingga perkembangan teknologi cepat yang memicu burnout.
"Namun, hal itu juga dapat mencerminkan ketidakcocokan antara lingkungan tempat manusia hidup dan kondisi yang sejak awal berkembang untuk dihadapi oleh pikiran dan tubuh kami," kata Chan.
Meski demikian, penelitian ini tidak mengarahkan manusia untuk meninggalkan kehidupan modern atau kembali ke masa lalu.
Pemahaman mengenai ketidakcocokan evolusioner ini diharapkan dapat membantu merancang lingkungan dan komunitas yang lebih ramah bagi kesehatan mental.
"Kami perlu merancang intervensi yang bekerja selaras dengan sifat alami manusia yang terbentuk melalui evolusi, bukan melawannya," kata dr. Yong.