Sektor Farmasi Menguat, Tempo Scan Gandeng Raksasa Biofarmasi China

Jumat, 24 Juli 2026 | 21:43:01 WIB
PT Tempo Scan Pacific Tbk.

JAKARTA - PT Tempo Scan Pacific Tbk. (TSPC) secara resmi menjalin kolaborasi strategis dengan membentuk perusahaan patungan (joint venture) bersama Chia Tai Tianqing Pharmaceutical Group (CTTQ), yang merupakan anak perusahaan farmasi terkemuka asal China, Sino Biopharmaceutical Ltd. (SBP).

Executive Chairman & Co-founder TSPC Handojo S. Muljadi menjelaskan bahwa entitas usaha hasil kerja sama ini bakal beroperasi di bawah nama PT Tempo CTTQ Biopharmaceutical Indonesia (TCBI).

“Kerja sama ini merupakan langkah strategis bagi Tempo Scan untuk memperkuat bisnis specialty pharmaceutical sekaligus memperluas akses pasien Indonesia terhadap obat-obatan yang modern dan inovatif,” kata Handojo dalam konferensi pers di Tempo Scan Tower, Jumat (24/7/2026).

Handojo menguraikan bahwa struktur kepemilikan saham pada entitas baru ini terbagi atas 51 persen yang dipegang oleh Sino Biopharmaceutical dan 49 persen sisanya dikuasai oleh Tempo Scan Pacific.

Menurut Handojo, skema perusahaan patungan memiliki nilai perbedaan mendasar dibanding sekadar perjanjian lisensi biasa karena dirancang untuk orientasi jangka panjang. Kerja sama ini turut mencakup alih teknologi yang dinilai krusial bagi lanskap ekonomi Indonesia saat ini.

Mengenai komitmen pendirian fasilitas produksi atau pabrik biofarmasi di dalam negeri, Handojo mengonfirmasi bahwa rencana tersebut telah masuk ke dalam peta jalan jangka panjang perusahaan.

“Intinya adalah dalam perencanaan kami, itu yang akan kami lakukan,” tutur Handojo.

Pada kesempatan yang sama, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan bahwa pihak pemerintah mendorong kemitraan ini agar dapat mendongkrak kapasitas industri farmasi domestik secara nyata.

Airlangga menilai kehadiran pabrik biofarmasi menjadi hal yang krusial lantaran masih tingginya kebutuhan medis nasional yang belum sepenuhnya sanggup dipenuhi oleh industri dalam negeri.

“Pasti ada [rencana pembangunan pabrik], karena biopharmaceutical di Indonesia, termasuk active ingredient kan belum ada pabrik. Jadi, dengan fasilitas yang ada, kami optimistis bahwa kemampuan farmasi di dalam negeri akan meningkat,” tutur Airlangga.

Terkini