Alasan Ilmiah Perempuan Lebih Rentan Mengalami Penyakit Autoimun

Jumat, 24 Juli 2026 | 23:20:01 WIB
Ilustrasi Perempuan Rentan Autoimun.

JAKARTA - Penyakit autoimun dapat menyerang siapa saja tanpa memandang jenis kelamin, tetapi perempuan terbukti jauh lebih rentan mengalaminya dibanding laki-laki.

Berdasarkan data dari Institut Pertanian Bogor (IPB), prevalensi autoimun di kawasan Asia Tenggara termasuk Indonesia berada di rentang 3 hingga 5 persen. Dari angka tersebut, sekitar 80 persen korbannya merupakan kelompok perempuan.

Fakta statistik tersebut memunculkan pertanyaan mengenai alasan di balik kerentanan perempuan terhadap gangguan imun. Jawaban mengenai persoalan ini dapat dirunut melalui berbagai studi ilmiah dan pandangan pakar.

Risiko Empat Kali Lebih Tinggi

Penelitian dari Vanessa L. Kronzer dan tim dalam jurnal Evolutionary Applications (2020) menunjukkan bahwa risiko autoimun pada perempuan mencapai empat kali lipat lebih besar dibanding laki-laki.

Para peneliti mengindikasikan sejumlah faktor pemicu yang diduga kuat berperan, seperti hormon seksual, kromosom X, microchimerism, kondisi lingkungan, hingga profil mikrobioma. Kendati demikian, penyebab utamanya belum diketahui secara pasti.

Salah satu dugaan terkuat terletak pada perbedaan kuantitas serta kualitas antibodi di dalam darah. Perempuan pada umumnya memiliki kadar antibodi lebih tinggi, sementara antibodi berkaitan erat dengan timbulnya gangguan autoimun.

Studi ilmiah tersebut memaparkan empat bukti yang mendukung teori antibodi. Pertama, tingginya kadar antibodi berbanding lurus dengan peningkatan kasus autoimun pada perempuan maupun laki-laki pemilik penderita sindrom Klinefelter.

Kedua, terjadi lonjakan kadar antibodi serta kasus autoimun setelah fase persalinan. Ketiga, frekuensi kehamilan yang makin tinggi sejalan dengan peningkatan antibodi dan risiko autoimun. Keempat, terdapat mekanisme biologis yang masuk akal seperti aktivasi sel B oleh sel T serta peran fungsi VGLL3.

Stres Pemicu Dominan

Pakar Reumatologi, Internis, dan Herbal FK-KMK Universitas Gadjah Mada (UGM), Nyoman Kertia, menjelaskan bahwa faktor genetik memang memengaruhi penyakit autoimun.

Namun terdapat aspek lain yang patut diperhitungkan, mulai dari faktor lingkungan, tingkat polusi udara, pola konsumsi yang buruk, hingga stres. Faktor stres inilah yang menjadi pemicu paling dominan.

"Saya memiliki banyak pasien mahasiswa, baik dari UGM maupun perguruan tinggi lain, yang mengalami autoimun. Awalnya mereka sehat, tetapi setelah menghadapi tekanan akademik dan berbagai beban hidup, penyakitnya muncul," ungkap Nyoman.

Dirinya menguraikan ada tiga pemicu utama yang dapat memperburuk kondisi kesehatan pasien autoimun.

Pertama adalah kelelahan fisik. Walau gejala sudah membaik, penderita harus tetap menjaga stabilitas energi tubuh agar kondisi tidak mendadak kambuh. Pemicu kedua adalah tingkat stres.

"Ini memang tidak mudah dihindari, tetapi saya selalu mengatakan kepada pasien mulai sekarang jangan terlalu memikirkan penyakitmu. Serahkan urusan pengobatan kepada saya sebagai dokter," tutur Nyoman.

Pemicu ketiga yaitu paparan radiasi sinar matahari yang berlebihan. Hal ini bukan berarti penderita dilarang terkena matahari sama sekali, melainkan wajib menggunakan pelindung seperti payung, pakaian tertutup, atau tabir surya.

Pentingnya Gaya Hidup Sehat

Bagi orang yang sudah terdiagnosis autoimun, penanganan medis saja tidak cukup. Pengelolaan pola hidup harian serta dukungan psikososial memegang peranan sangat krusial.

Prof. Ronny Rachman Noor dari IPB menyarankan agar penderita rutin melakukan konsultasi dengan dokter reumatologi dan imunologi supaya metode terapi dapat disesuaikan.

Pilihan terapi medis bisa meliputi penggunaan obat NSAID, kortikosteroid, imunomodulator, atau penanganan khusus seperti suntik insulin untuk penderita diabetes tipe 1.

"Penderita autoimun disarankan mulai menerapkan gaya hidup sehat, seperti memiliki pola makan yang baik, pola makan antiinflamasi, menghindari rokok, mengelola stres, tidur yang cukup, serta mencatat pemicu gejala. Selain itu, Langkah kecil ini membantu merasa lebih baik tiap hari," kata Ronny.

Kerentanan perempuan terhadap autoimun pada dasarnya dipicu oleh kombinasi faktor biologis, hormonal, serta genetik. Upaya pencegahan, deteksi dini, dan konsistensi menerapkan gaya hidup sehat menjadi kunci utama dalam mengendalikan autoimun.

Terkini