Gangguan Pertumbuhan Anak Bisa Diobati Bila Dideteksi Sejak Dini

Jumat, 24 Juli 2026 | 02:04:32 WIB
Ilustrasi Gangguan Pertumbuhan Anak.

JAKARTA - Menemukan kenyataan bahwa anak mengantongi postur tubuh di bawah rata-rata tentu memicu kekhawatiran bagi para orangtua. Kendati demikian, gangguan pertumbuhan fisik tidak selayaknya menjadi alasan untuk pesimistis atau menunda penanganan medis secara tepat.

Dunia kedokteran saat ini memfasilitasi beragam metode terapi hormon yang sangat mumpuni guna mengoptimalkan potensi tinggi badan pasien.

Dokter Spesialis Anak Subspesialis Endokrinologi di Rumah Sakit Pondok Indah, Prof. Dr. dr. Aman Bhakti Pulungan, Sp. A, Subsp. End., FAAP, FRCPI (Hon.), menegaskan bahwa kecepatan respons orangtua dalam mencari diagnosis merupakan penentu utama tingkat keberhasilan.

"Kapan saja dia terdiagnosis itu boleh kami terapi. Kalau dia terdiagnosis umur dua tahun, kami terapi. Kalau misalnya dia terdiagnosis karena gangguan pertumbuhan karena tulangnya sering patah-patah, umur satu bulan juga kami terapi," jelasnya.

Langkah awal yang teramat krusial adalah kepekaan orangtua dalam mengamati ciri anatomi bawaan bayi. Sejumlah gangguan endokrin penghambat tumbuh kembang tidak selalu menunggu anak beranjak dewasa untuk terdeteksi, melainkan sudah menampakkan jejak kelainan genetika sejak proses persalinan.

"Tentu ada yang namanya low hairline, rambutnya lebih panjang. Terus wide space nipple kalau anak perempuan, jarak payudaranya lebih panjang, ada web neck, lahir lehernya seperti ada jaring," sebut dr. Aman.

Selain batas garis rambut dan bentuk leher, penumpukan cairan tidak wajar pada area tubuh tertentu juga patut dicurigai. Sindrom kelainan kromosom semacam ini memerlukan evaluasi segera dari tenaga kesehatan agar penanganan dapat dilakukan sedini mungkin.

"Atau ada lymphedema, di punggung kakinya itu bengkak kayak leher Mike Tyson, kakinya bengkak-bengkak. Jadi memang ada memang yang khas jadinya kami lihat," terang dr. Aman.

Masih banyak anggapan bahwa semua anak berperawakan pendek secara otomatis membutuhkan suntikan hormon pertumbuhan. Padahal, skema pengobatan medis sangat bergantung pada temuan akar masalah utamanya.

"Jadi terapinya ini berbeda. Jadi tidak semua dikasih growth hormone. Ada yang dikasih hormon tiroid. Ada yang dikasih untuk mencegah tulangnya patah-patah supaya tidak bengkok juga," tutur dr. Aman.

Sebagai contoh, tatkala remaja mengalami postur kecil yang dibarengi keterlambatan kematangan seksual, obat peninggi badan bukanlah solusi utama. Dokter akan berfokus pada pemberian hormon agar karakteristik pubertas pasien berkembang.

"Pada perempuan dikasih estradiol, pada laki-laki dikasih testosteron," kata dr. Aman.

Kekhawatiran akan potensi risiko pengobatan jangka panjang kerap menghambat niat keluarga untuk memulai intervensi medis. Padahal selama prosedur diawasi ketat oleh pakar, pemberian hormon dijamin keamanannya sekaligus menjadi bentuk pemenuhan hak anak untuk bertumbuh.

"Tapi dengan syarat dilakukan oleh pakar yang memang paham untuk bidang itu. Kan tidak adil anak lain bertumbuh karena punya hormon, anak lain tidak punya hormon. Tidak adil dong dia tidak dapat hormon," pasar dr. Aman.

Meskipun aman, peluang untuk mengoptimalkan postur tubuh memiliki masa batas alami yang dikenal sebagai golden period. Jika terlambat diperiksakan, teknologi medis tidak lagi mampu memberikan penambahan tinggi badan.

"Kalau anak perempuan kalau dia sudah haid, sudah lewat golden period-nya. Jadi golden period ini ditentukan oleh lempeng epifisis, penutupan tulangnya. Kalau penutupan tulangnya sudah lewat, kami lewat golden period-nya," ungkap dr. Aman.

Guna mencegah keterlambatan tersebut, kuncinya terletak pada kedisiplinan orangtua mencatat grafik fisik anak. Pemantauan teratur memudahkan dokter mengambil tindakan secara presisi tanpa harus mengulang pemeriksaan dari awal.

Dokter Aman mengimbau agar para orangtua tidak bersikap pasif. Apabila grafik pada buku pemantauan mulai melandai, permintaan rujukan medis harus segera diajukan tanpa menunggu postur anak terlihat sangat mungil.

"Kami lihat kecepatan tumbuhnya. Kalau kurvanya makin turun, walaupun dia belum pendek, kalau dokternya mengatakan, 'Ini tidak apa-apa', minta dirujuk kalau saya bilang," pungkas dr. Aman.

Terkini