Kenaikan Harga Minyak Mentah Buat Nilai Tukar Rupiah Tertekan

Sabtu, 25 Juli 2026 | 02:24:31 WIB
Ilustrasi Rupiah.

JAKARTA - Nilai tukar rupiah pada Jumat pagi mengalami pelemahan sebesar 43 poin atau 0,24 persen ke level Rp17.979 per dolar AS dari posisi sebelumnya di angka Rp17.936 per dolar AS.

Kepala Ekonom PermataBank Josua Pardede menjelaskan bahwa lonjakan harga minyak mentah menjadi pemicu utama tertekannya nilai tukar mata uang domestik.

“Harga minyak mentah Brent juga sempat menembus 95 dolar AS per barel, sehingga memberikan tekanan terhadap nilai tukar rupiah,” ungkapnya.

Kenaikan harga minyak tersebut kembali memicu kekhawatiran pasar terhadap risiko twin deficit (defisit fiskal dan defisit neraca transaksi berjalan) di Indonesia, yang berimbas pada tergerusnya sentimen positif investor.

Lonjakan harga komoditas ini dipicu oleh eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah setelah terjadinya insiden serangan di area Selat Bab el-Mandeb, jalur pelayaran energi yang sangat strategis.

Kondisi tersebut memicu kekhawatiran bahwa kapal tanker minyak harus memutar arah melintasi Afrika bagian selatan, yang berisiko memperparah gangguan pada arus perdagangan serta rantai pasok energi global.

Ketidakpastian geopolitik bersamaan dengan naiknya harga minyak mendorong munculnya sentimen risk-off di pasar keuangan internasional, sehingga meningkatkan gairah pasar terhadap dolar AS.

“Untuk hari ini, kami memperkirakan rupiah akan bergerak di kisaran Rp17.900–Rp18.025 per dolar AS, seiring meningkatnya ketegangan geopolitik yang masih menopang permintaan terhadap aset-aset safe haven,” ujar Josua.

Sementara itu, Presiden AS Donald Trump menegaskan bahwa pihak Washington bakal menuntut pertanggungjawaban dari Teheran apabila kelompok Houthi Yaman terus melancarkan serangan terhadap kapal komersial.

Pernyataan tersebut dilontarkan usai kelompok Houthi mengklaim telah menggempur dua kapal tanker minyak milik Arab Saudi memanfaatkan rudal balistik, rudal jelajah, serta drone.

Menteri Luar Negeri AS Rubio mengimbau agar kelompok Houthi tidak terlibat dalam konflik Iran, sembari menilai bahwa mereka terseret ke dalam pusaran perang Timur Tengah oleh Teheran.

Eskalasi konflik semakin memanas setelah militer Iran memberi peringatan akan membidik fasilitas energi di kawasan apabila serangan AS terhadap infrastruktur Iran tidak dihentikan.

Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengonfirmasi telah melancarkan serangan ke pangkalan militer AS di Kuwait dan Yordania, serta melaporkan sebuah kapal tanker minyak terkena ledakan ranjau di Selat Hormuz.

Situasi ini semakin memperkuat kekhawatiran global atas keamanan di Selat Hormuz, mengingat koridor tersebut dilalui oleh sekitar seperlima dari total konsumsi minyak dunia.

Terkini