BI Tekankan Urgensi Transformasi Pembiayaan Berkualitas Bagi Sektor RI

Sabtu, 25 Juli 2026 | 18:14:31 WIB
Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti.

JAKARTA - Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti menekankan pentingnya akselerasi transformasi pembiayaan berkualitas agar mampu menyalurkan faedah yang jauh lebih optimal bagi perekonomian nasional.

“Untuk memastikan pembiayaan memberikan manfaat yang lebih besar bagi perekonomian, diperlukan transformasi dari sekadar mengejar pertumbuhan kredit menuju pembiayaan yang berkualitas, dari pembiayaan individual menuju pembiayaan berbasis ekosistem, serta dari berbagai program yang berjalan sendiri-sendiri menuju orkestrasi nasional melalui sinergi antar pemangku kepentingan,” ucapnya dalam keterangan di Jakarta, Sabtu.

Ia mengutarakan bahwasanya penyaluran pembiayaan memegang peranan krusial dalam mendorong laju pertumbuhan ekonomi. Penyaluran kredit kepada para pelaku usaha dinilai sanggup memacu tingkat produktivitas, membentangkan lapangan kerja baru, hingga menggenjot daya saing dunia usaha.

Kendati demikian, Destry mengingatkan bahwa penetapan regulasi yang bijak tak boleh berhenti pada level keputusan otoritas atau sebatas ketersediaan dana di dalam sistem keuangan.

"Dampak kebijakan harus dapat dirasakan manfaatnya oleh pelaku usaha, mulai dari perusahaan besar hingga pedagang, petani, pengrajin, dan wirausaha muda di berbagai daerah," ujar dia saat menyampaikan keynote speech pada seminar nasional yang bertajuk "Menjaga Stabilitas, Memperkuat Sinergi, Mendorong Pertumbuhan Ekonomi Melalui Pembiayaan Produktif”.

Dalam kerangka berpikir tersebut, lanjutnya, penguatan skema pembiayaan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) menjadi salah satu elemen vital dari langkah memajukan sektor produktif dan transformasi ekonomi nasional.

Bank Indonesia sendiri secara konsisten memperkuat bauran kebijakan guna mendorong gelontoran pembiayaan pada sektor-sektor prioritas lewat Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) serta Rasio Pembiayaan Inklusif Makroprudensial (RPIM).

Ditinjau dari ranah sistem pembayaran, BI terus memacu transformasi digital melalui akselerasi QRIS, BI-FAST, dan SNAP guna memperluas penyatuan pelaku usaha ke dalam ekosistem keuangan digital. Kombinasi bauran kebijakan tersebut saling melengkapi dalam menopang pembiayaan yang lebih inklusif, produktif, dan berdampak nyata.

Sekretaris Kementerian UMKM Loto Srinaita Ginting menyampaikan bahwa UMKM bertindak sebagai roda penggerak utama perekonomian nasional. Oleh karena itu, pemerintah terus memperkokoh pelbagai skema kebijakan untuk memperluas jangkauan pembiayaan serta menggenjot kapasitas UMKM, antara lain lewat penguatan Kredit Usaha Rakyat (KUR), keterlibatan UMKM pada Program Makan Bergizi Gratis (MBG), hingga pembentukan holding UMKM.

Kepala Departemen Pengaturan dan Pengembangan UMKM dan Keuangan Syariah Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Ayahandayani K memaparkan bahwa kemudahan akses pembiayaan yang inklusif merupakan prasyarat mutlak demi memacu produktivitas dan daya saing pelaku UMKM.

Atas dasar pertimbangan tersebut, OJK terus memperkuat deretan kebijakan serta program melalui pengembangan ekosistem pembiayaan yang terintegrasi, peningkatan indeks literasi dan inklusi keuangan, penguatan kapasitas pelaku UMKM, hingga pemaksimalan perlindungan konsumen.

Kepala Ekonom PermataBank Josua Pardede turut menilai bahwasanya masih terbuka ruang lebar untuk memperluas aliran pembiayaan pada sektor-sektor bernilai tambah tinggi, khususnya industri pengolahan, di tengah laju pertumbuhan kredit yang menunjukkan tren positif serta disokong akselerasi digitalisasi UMKM.

”Kredit UMKM diharapkan dapat terus didorong melalui sinergi implementasi POJK (Peraturan OJK) Kredit UMKM, insentif likuiditas kebijakan Bank Indonesia, serta program prioritas Pemerintah yang disesuaikan dengan kebutuhan pasar oleh perbankan. Terjaganya stabilitas indikator perbankan sehingga turut mendukung pembiayaan produktif UMKM, khususnya modal kerja, menjadi prasyarat pertumbuhan inklusif ke depan," kata Josua.

Berdasarkan data resmi, pertumbuhan kredit pada Juni 2026 menembus angka 12,67 persen year on year (yoy), melaju kencang dibandingkan capaian bulan sebelumnya sebesar 11,51 persen yoy.

Lompatan pertumbuhan kredit yang tinggi ini utamanya disokong oleh kredit investasi yang melonjak signifikan hingga menyentuh angka 24,90 persen yoy.

Bank Indonesia memproyeksikan laju pertumbuhan kredit pada tahun 2026 bakal tetap terjaga stabil pada kisaran 8-12 persen, disokong oleh besarnya potensi permintaan seiring ketersediaan fasilitas pinjaman belum ditarik (undisbursed loan) yang mencapai Rp2.490 triliun atau 21,52 persen dari total plafon kredit. Dari sisi penawaran, minat penyaluran kredit (lending appetite) perbankan terpantau longgar dengan dukungan pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) yang tinggi mencapai 10,21 persen yoy.

Terkini