Deposito Valas Melesat 42 Persen per Juni 2026 Dampak Geopolitik Global

Sabtu, 25 Juli 2026 | 18:37:32 WIB
Ilustrasi Deposito Valas.

JAKARTA - Sektor korporasi di Indonesia makin cenderung memarkir simpanan mereka dalam pecahan dolar Amerika Serikat (AS) ketimbang mengalokasikannya untuk agenda ekspansi bisnis.

Kecenderungan tersebut tercermin dari lonjakan saldo deposito valuta asing (valas) yang meroket hingga 42 persen secara tahunan (year on year/YoY) per Juni 2026, sedangkan pergerakan deposito rupiah cenderung merayap tipis.

Berdasarkan Data Analisis Uang Beredar keluaran Bank Indonesia (BI), simpanan deposito valas tumbuh melambung 42 persen YoY pada Juni 2026, melesat tajam dari realisasi bulan sebelumnya yang tercatat 27,9 persen YoY. Sebaliknya, pertumbuhan deposito berbasis rupiah cuma mampu naik tipis 1,9 persen YoY.

Mencermati lompatan signifikan tersebut, kalangan pengamat menilai adanya pergeseran strategi dari para pelaku bisnis yang sengaja menempatkan dana dolar di perbankan demi memitigasi fluktuasi perekonomian global, tekanan depresiasi rupiah, hingga lonjakan suku bunga acuan internasional.

Kepala Ekonom PT Bank Permata Tbk (BNLI) Josua Pardede menggarisbawahi bahwa ekspansi deposito valas tidak murni disokong masuknya dana segar baru. Kalangan pengusaha terpantau giat mengalihkan dana dari giro valas ke deposito guna mengejar tingkat imbal hasil yang lebih menguntungkan.

“Data BI menunjukkan deposito valas naik dari Rp451 triliun pada Mei menjadi Rp494,3 triliun pada Juni. Pada saat yang sama, giro valas justru turun dari Rp873,2 triliun menjadi Rp850,2 triliun. Ini menunjukkan nasabah besar memilih mengunci dana dolar dalam deposito,” kata Josua kepada Bisnis, Jumat (24/7/2026).

Langkah efisiensi tersebut ditempuh demi mengamankan nilai aset sembari mendulang pendapatan bunga yang lebih atraktif di tengah bayang-bayang tekanan terhadap nilai tukar rupiah akibat letupan konflik di kawasan Timur Tengah dan ekspektasi suku bunga tinggi di AS.

Ekonom Makro PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN) Myrdal Gunarto memandang tren ini mengindikasikan sikap wait and see dari kalangan pelaku usaha. Imbas ketidakpastian kondisi global, banyak entitas memilih menahan laju ekspansi operasional maupun alokasi belanja modal (capital expenditure).

“Mereka lebih memilih memegang likuiditas dalam bentuk dolar AS sebagai langkah hedging alami untuk mengantisipasi kewajiban valas atau kebutuhan impor di masa depan,” ujar Myrdal kepada Bisnis, Jumat (24/7/2026).

Di luar faktor eksternal, Myrdal menambahkan bahwa regulasi Devisa Hasil Ekspor (DHE) turut memicu akselerasi pertumbuhan simpanan valas. Mandat penempatan DHE sektor sumber daya alam di ekosistem keuangan domestik memaksa para eksportir mengendapkan dana dolar di perbankan dalam negeri, terutama pada produk deposito berjangka.

Di lain sisi, atmosfer suku bunga global yang masih tinggi menjadikan instrumen simpanan berbasis dolar menyajikan imbal hasil kompetitif, yang makin memicu entitas korporasi serta nasabah kaya (high net worth individual) mempertahankan aset valas mereka.

Kendati arus likuiditas dolar deras mengalir ke perbankan, distribusinya tidak tersebar merata. Josua menyebutkan bank-bank kategori besar dengan basis klien eksportir, importir, serta jaringan transaksi internasional kuat menjadi pihak yang paling mendulang keuntungan.

Lembaga perbankan dalam kategori tersebut memegang keunggulan untuk mentransformasi balik dana valas menjadi penyaluran kredit, pembiayaan perdagangan (trade finance), hingga transaksi lindung nilai (hedging).

Sebaliknya, bank yang sekadar menghimpun deposito valas tanpa didukung sarana penyaluran kredit valas berpotensi mengalami tekanan pada margin laba.

“Kalau dana valas hanya diparkir pada instrumen berimbal hasil rendah sementara bunga deposito tetap harus dibayar, profitabilitas bank bisa tertekan,” kata Josua.

Pandangan senada diutarakan Myrdal. Menurutnya, deretan bank kelas KBMI 4 dan bank asing bertindak sebagai penerima manfaat utama berkat fondasi wholesale banking yang solid serta kemitraan panjang dengan korporasi multinasional maupun eksportir kakap.

Selain itu, bank penyedia fasilitas pembiayaan perdagangan internasional dapat langsung memutar kembali likuiditas valas menjadi aset produktif demi menjaga margin profitabilitas.

Di balik tren meroketnya deposito valas, perbankan dihadapkan pada tantangan beban biaya dana (cost of fund) yang kian membengkak. Pergeseran dana dari giro ke deposito mewajibkan bank membayarkan bunga simpanan yang lebih tinggi.

Dinamika ini menjadi batu sandungan manakala penyerapan kredit valas belum tumbuh secepat laju perhimpunan dana. Myrdal mengingatkan, jika ekspansi kredit valas tersendat lantaran pengusaha menahan investasi, bank terancam mengalami negative carry.

“Untuk mempertahankan profitabilitas, bank biasanya memitigasi hal ini dengan memutar kelebihan likuiditas tersebut ke dalam instrumen treasury yang aman dan berimbal hasil tinggi, seperti Surat Berharga Negara (SBN) valas atau instrumen operasi moneter valas milik Bank Indonesia,” tuturnya.

Namun dari perspektif likuiditas, melimpahnya dana dolar tetap membawa dampak positif. Rasio likuiditas valas menjadi jauh lebih longgar sehingga memperkuat daya tahan perbankan dalam menyokong perdagangan internasional, kewajiban utang luar negeri, hingga pemenuhan kredit valas.

Di sisi lain, jajaran perbankan menegaskan simpanan valas tetap berfungsi sebagai elemen pendukung dalam struktur dana pihak ketiga (DPK).

Corporate Secretary PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) Wisnu Sunandar mengutarakan bahwa porsi DPK valas perseroan masih berada di bawah 5 persen dari total DPK. Meski demikian, pertumbuhan simpanan valas BSI tercatat positif sebesar 32,88 persen secara tahunan.

Wisnu menerangkan komposisi dana BSI masih didominasi mata uang rupiah, dengan akumulasi DPK mencapai Rp372 triliun atau tumbuh sekitar 16,76 persen secara YoY.

“Komposisi jumlah tabungan valas bukan yang menjadi utama sebagai penopang DPK namun tetap menjadi pelengkap layanan tabungan di Bank Syariah Indonesia,” ungkap Wisnu kepada Bisnis, Jumat (24/7/2026).

Menurutnya, animo masyarakat untuk menabung tetap terjaga tinggi di tengah gejolak ekonomi, yang mencerminkan kedewasaan publik dalam menjaga stabilitas finansial sekaligus tingginya kepercayaan terhadap industri perbankan.

Sementara itu, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) konsisten menjaga keselarasan antara ketersediaan likuiditas valas dan penyaluran kredit yang sehat.

EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA Hera F. Haryn menyampaikan bahwa hingga Maret 2026, deposito valas BCA tercatat Rp16,6 triliun, sedangkan deposito rupiah menembus Rp186,7 triliun.

Secara keseluruhan, akumulasi DPK BCA menyentuh Rp1.292 triliun dengan dominasi dana murah (CASA) mencapai sekitar 85,2 persen dari total simpanan.

“BCA berkomitmen menjaga keseimbangan antara kecukupan likuiditas valas dengan ekspansi kredit yang sehat, dengan tetap mempertimbangkan perkembangan kondisi pasar dan risiko,” jelas Hera kepada Bisnis, Jumat (24/7/2026).

Terkini