Cara Membangun Keberanian Anak Agar Berani Melapor Tindak Kekerasan

Sabtu, 25 Juli 2026 | 22:03:21 WIB
Ilustrasi Keberanian Anak.

JAKARTA — Keterbukaan anak untuk angkat bicara merupakan fondasi utama dalam mencegah dampak buruk kekerasan yang lebih luas. Saat anak merasa aman untuk bercerita, pihak keluarga serta lingkungan sekitar dapat memberikan bantuan dan perlindungan secara cepat.

Psikolog klinis anak dan remaja Ocha Ananda Suherik, M.Psi., Psikolog mengatakan, membangun keberanian anak untuk melaporkan tindak kekerasan perlu dilakukan sejak dini melalui pola pengasuhan yang hangat, komunikasi terbuka, hingga edukasi yang sesuai dengan tahap perkembangan anak.

"Lingkungan yang aman secara emosional membuat anak lebih percaya bahwa mereka akan didengarkan ketika menghadapi masalah," ujar Ocha dikutip dari ANTARA, Kamis (24/7/2026).

Berikut beberapa langkah yang dapat diterapkan untuk melatih anak agar berani mengadu ketika mengalami atau menyaksikan kekerasan:

1. Menjalin Komunikasi yang Terbuka di Rumah

Ocha menjelaskan bahwa ikatan yang responsif dan hangat antara orang tua dan anak menjadi benteng perlindungan paling kuat dari ancaman kekerasan. Orang tua disarankan menyisihkan waktu harian untuk menyimak obrolan anak, sekalipun hanya seputar aktivitas harian di sekolah.

Hindari langsung menghakimi, menyalahkan, atau terburu-buru memberikan solusi. Saat terbiasa merasa didengar, anak akan tumbuh lebih percaya diri untuk membagikan masalah yang lebih besar, termasuk indikasi kekerasan.

2. Mendampingi Anak di Ruang Digital

Seiring tingginya interaksi anak di dunia maya, pengawasan orang tua menjadi kian krusial. Ocha menyarankan agar orang tua aktif berdiskusi mengenai berbagai tayangan atau konten yang ditemui anak di internet.

Anak juga perlu diajarkan pentingnya menjaga kerahasiaan data pribadi, mewaspadai orang asing di media sosial, serta mengenali potensi bahaya. Berikan pemahaman tentang langkah proteksi diri dasar, seperti memblokir akun, melaporkan konten negatif, keluar dari ruang obrolan yang tidak nyaman, hingga segera mengadu kepada sosok dewasa terpercaya.

3. Mengenalkan Bentuk Kekerasan Sejak Dini

Edukasi terkait kekerasan tak sekadar memberi tahu bahwa tindakan tersebut dilarang. Anak perlu dibekali pemahaman mengenai beragam bentuk kekerasan, baik fisik, kata-kata, emosional, maupun kekerasan di ranah digital.

Penyampaian informasi harus disesuaikan dengan umur dan daya tangkap anak agar mudah dicerna tanpa menimbulkan rasa cemas. Pemahaman ini membantu anak mendeteksi kondisi berbahaya dan tahu kapan harus meminta pertolongan.

4. Mengajar Anak Menjadi Upstander

Selain membentengi diri sendiri, anak perlu dipupuk rasa pedulinya ketika melihat teman menjadi korban. Ocha menerangkan, anak dapat dilatih menjadi upstander, yaitu sosok yang berani mengadu ke orang dewasa saat melihat tindakan kekerasan, bukan sekadar menjadi penonton (bystander).

Sikap ini berperan penting menciptakan lingkungan yang kondusif sekaligus menumbuhkan kepekaan serta empati terhadap sesama.

5. Melatih Sikap Asertif dan Menjaga Batasan Diri

Keberanian untuk berkata "tidak" merupakan keterampilan penting yang wajib diajarkan sejak dini. Anak harus menyadari bahwa mereka berhak menolak perlakuan yang membuat tidak nyaman, meskipun datang dari orang yang lebih tua atau dikenal.

Ocha menyampaikan bahwa latihan ini bisa diterapkan lewat simulasi peran (role play), diskusi, atau contoh sehari-hari. Contohnya dengan mengajarkan kalimat lugas seperti "Aku tidak mau", "Berhenti", atau "Aku akan melaporkan ini ke Mama."

Latihan rutin tersebut membantu anak tampil percaya diri menjaga batasan diri sekaligus meminta pertolongan saat berada dalam situasi mengancam.

Pada akhirnya, membentuk keberanian melapor bukan hanya mengajari anak berbicara, melainkan menciptakan ruang aman yang meyakinkan mereka akan didengar dan dilindungi. Kombinasi komunikasi yang hangat dan edukasi yang tepat akan membuat anak lebih siap menghadapi risiko kekerasan di dunia nyata maupun digital.

Terkini