RI Tegaskan Komitmen Kemitraan Jangka Panjang dengan China

Senin, 27 Juli 2026 | 17:04:32 WIB
Menteri Investasi dan Industri Hilir, Rosan Roeslani. [Foto: ANTARA/Mentari Dwi Gayati]

JAKARTA - Pemerintah Indonesia mengajak jajaran perusahaan China tidak sekadar menanamkan modal di Tanah Air, melainkan turut membangun ekosistem bersama—mulai dari memperkokoh rantai pasokan, mencetak SDM unggul, mengakselerasi teknologi, hingga menjangkau pasar regional maupun global dari Indonesia, ungkap Menteri Investasi dan Industri Hilir, Rosan Roeslani.

"Peluangnya sangat besar, arahnya sudah jelas, dan komitmen kami terhadap kemitraan jangka panjang tetap kuat," ujar Rosan kepada Xinhua dalam sebuah wawancara baru-baru ini, dikutip pada Senin (27/7/2026).

"China merupakan mitra utama, dan kami terus mendiversifikasi kemitraan agar tetap tangguh."

China berkedudukan sebagai salah satu mitra strategis terpenting bagi Indonesia guna mempercepat agenda industrialisasi serta merealisasikan target pertumbuhan ekonomi, terang Rosan. 

Ia menambahkan bahwa China konsisten memegang predikat mitra dagang terbesar Indonesia selama 13 tahun berturut-turut sekaligus berada di jajaran tiga besar penyumbang investasi asing langsung (foreign direct investment/FDI).

Rosan menilai, jalinan hubungan bilateral kedua negara kini telah berprestasi melampaui transaksi komoditas mentah menuju integrasi industri secara riil, meliputi hilirisasi tambang mineral, ekosistem baterai kendaraan listrik (electric vehicle/EV), infrastruktur digital, hingga sektor energi terbarukan.

"Kerja sama kami juga berkontribusi terhadap ketahanan rantai pasokan di kawasan. Seiring perusahaan-perusahaan global mendiversifikasi produksi dan sumber pasokan, Indonesia dan China memiliki peluang untuk membangun kemitraan yang lebih seimbang, berorientasi pada teknologi di bidang manufaktur canggih, infrastruktur digital, serta industri masa depan," ujarnya.

Program "Dua Negara, Taman Kembar" (Two Countries, Twin Parks/TCTP) dalam naungan kerja sama Inisiatif Sabuk dan Jalur Sutra (Belt and Road Initiative/BRI) terus menunjukkan peningkatan pesat dari cetak biru menjadi wujud konkret.

Skema ini mendirikan ekosistem industri yang terintegrasi penuh alih-alih sekadar proyek parsial, urai Rosan. 

Ia menekankan bahwa skema tersebut mengoneksikan alur investasi, manufaktur, logistik, pengasahan keterampilan, hingga pembukaan akses pasar di kedua negara sehingga memudahkan para pelaku bisnis lintas skala untuk terlibat dalam rantai nilai kawasan.

Rosan menuturkan bahwa perkembangan pesat kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) memicu lonjakan kebutuhan tinggi atas fasilitas pusat data, infrastruktur awan (cloud), komponen elektronik canggih, serta keandalan pasokan listrik.

Indonesia berada dalam posisi ideal untuk mengambil bagian dalam transformasi global ini berkat modal pasar digital yang masif, limpahan potensi energi terbarukan, kawasan industri berdaya saing tinggi, serta letak geografis yang strategis di pusat kawasan ASEAN. 

Penjelasan tersebut disampaikan Rosan yang menyambut terbuka kehadiran investor China untuk berkolaborasi dalam transisi digital dan ekosistem industri AI di Tanah Air.

Sejak berlaku efektif bagi Indonesia pada 2023, Kemitraan Ekonomi Komprehensif Regional (Regional Comprehensive Economic Partnership/RCEP) telah mempererat integrasi pasar kawasan lewat ekspansi akses, pemangkasan birokrasi kepabeanan, serta standardisasi aturan asal barang (rules of origin), yang pada akhirnya menguatkan konektivitas rantai pasokan sekaligus memacu penetrasi entitas bisnis lokal ke dalam rantai nilai regional, papar Rosan.

"Kami memandang Peningkatan Kawasan Perdagangan Bebas ASEAN-China (ASEAN-China Free Trade Area/ACFTA) 3.0, yang ditandatangani pada Oktober 2025, sebagai langkah alami berikutnya. Kesepakatan itu memperdalam kerja sama ASEAN-China di bidang-bidang yang akan menentukan dekade mendatang, yakni ekonomi digital, ekonomi hijau, ketahanan rantai pasokan, standar, serta usaha kecil dan menengah," ujarnya.

"Bagi Indonesia, ini merupakan sebuah peluang untuk menarik investasi berkualitas, meningkatkan daya saing industri, serta mendukung pertumbuhan yang inklusif dan berkelanjutan," demikian dikatakan Rosan.

Terkini