Akuisisi BACH oleh Grup Djarum Buka Sinergi Bisnis Menara dan Data

Senin, 27 Juli 2026 | 02:38:31 WIB
Ilustrasi Pekerja PT Djarum.

JAKARTA - Masuknya Grup Djarum lewat PT Global Telekomunikasi Prima (GTP) sebagai pemegang saham pengendali PT Bach Multi Global Tbk. (BACH) diproyeksikan menjadi katalis baru bagi ekspansi bisnis perseroan.

Aksi akuisisi ini membuka peluang kolaborasi dengan ekosistem infrastruktur digital Grup Djarum, mencakup menara telekomunikasi PT Sarana Menara Nusantara Tbk. (TOWR) hingga bisnis pusat data.

Analis Phillip Sekuritas Indonesia Edo Ardiansyah menilai kehadiran GTP menegaskan komitmen jangka panjang Grup Djarum terhadap pengembangan bisnis BACH ke depan.

"GTP yang merupakan anak usaha iForte Solusi Infotek akan menjadi pemegang saham pengendali BACH sebesar 51% setelah mengeksekusi opsi atas 1,04 miliar saham PT Bach Multi Sukses Investama (BMSI). Dengan demikian, BACH resmi bergabung ke dalam ekosistem infrastruktur digital Grup Djarum," tulis Phillip Sekuritas dalam risetnya, dikutip Senin (27/7/2026).

Masuknya kelompok usaha ini turut memperluas ruang sinergi operasional karena BACH akan berada di ekosistem yang sama dengan pemain besar seperti Protelindo, TOWR, SUPR, dan iForte.

Menurut Edo, integrasi ini memperkuat keterlihatan pendapatan lewat kontrak pembangunan dan perawatan infrastruktur telekomunikasi internal grup, sekaligus memperbesar peluang menggarap jaringan serat optik dan pusat data.

Phillip Sekuritas mencatat manajemen BACH membidik lonjakan pendapatan dari Rp1,73 triliun pada 2025 menjadi Rp3,04 triliun pada 2030, atau tumbuh kisaran 75 persen.

Laba bersih perseroan diproyeksikan melambung dari Rp155 miliar menjadi Rp401 miliar dalam periode yang sama, sehingga marjin laba bersih naik ke level 13,2 persen.

Pertumbuhan kinerja tersebut akan ditopang ekspansi bisnis penyewaan pembangkit listrik berbasis genset serta energi surya bertambah 50 megawatt (MW) per tahun, di samping bisnis infrastruktur telekomunikasi.

Di sisi lain, permodalan perseroan diperkirakan kian solid berkat dana hasil IPO dan akumulasi laba ditahan, sehingga rasio utang terhadap ekuitas (DER) diproyeksikan melandai ke 0,24 kali pada 2030 dari 1,30 kali pada akhir 2025.

Namun, Phillip Sekuritas mengingatkan beberapa risiko seperti konsentrasi pendapatan dari entitas internal Grup Djarum serta keterbatasan likuiditas kas.

Selain itu, perseroan memiliki risiko fluktuasi nilai tukar mata uang asing mengingat sebagian pasokan genset masih mengandalkan impor dari luar negeri.

Sepanjang 2025, BACH membukukan pendapatan konsolidasi sebesar Rp1,73 triliun atau melompat 39,7 persen secara tahunan, dengan laba bersih melonjak hampir dua kali lipat menjadi Rp155 miliar.

Dalam riset terpisah, Semesta Indovest mengemukakan BACH mengantongi keunggulan kompetitif lewat model bisnis terintegrasi yang menyatukan pasokan listrik cadangan dengan jasa perawatan infrastruktur telekomunikasi.

"Model bisnis ini membuka peluang cross-selling, karena site telekomunikasi membutuhkan pasokan listrik yang andal, preventive maintenance, corrective maintenance, hingga dukungan operasional lapangan secara berkelanjutan," tulis tim analis Semesta Indovest.

Terkini